Jumat, 16 Maret 2018

Labuan Bajo, cerita tentang Kopi Flores dan Sunset Yang Bikin Susah Move On

Hangatnya sinar mentari pagi menyambut kedatangan kami di Kota Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Semua rasa lelah sirna ketika kami turun dari kapal Tilong Kabila, kapal yang membawa kami mengarungi laut Flores dari Kota Makassar ke Kota Labuan Bajo selama 18 jam. 
Pelabuhan Makassar dengan Latar Kapal Tilong Kabila
Sesampainya di Labuan Bajo, kami langsung menuju ke Hotel Siola, untuk menyimpan barang bawaan kami. Pucuk dicinta ulam tiba, ternyata kami diizinkan untuk check in, walaupun masih sekitar pukul 08.00 pagi. Selesai check in dan mengatur barang, selanjutnya mencari pengganjal perut. Di sudut jalan Kampung Ujung, kami menemukan penjual aneka kue tradisional dan nasi kuning. Sambil memilih kue dan menunggu pesanan nasi kuning dibuatkan, kami berbincang-bincang, dan ternyata mereka dari Sulawesi Selatan. Orang Pangkep. Jadilah suasana semakin hangat. Perut sudah kenyang waktunya mengeksplor Labuan Bajo darat dan sekitarnya. 
Suasana di atas kapal

Menunggu sunset di atas kapal

Hello Flores

Flores, kami datang
Sebelum mengeksplor untuk memudahkan, otomatis kami butuh transportasi, transportasi yang simple dan irit itu motor, yap tempat penyewaaan motor. Letaknya di sekitaran pelabuhan Labuan Bajo. Dengan uang 75.000 Rupiah, motor berhasil kami bawa kabur selama 24 jam alias disewa. Setelah berembuk, jadilah pilihan kami berempat adalah Cancar di Kabupaten Manggarai Tengah. Cancar itu adalah sawah dengan bentuk seperti sarang laba-laba jika dilihat dari atas bukit. Perjalan kami berjalan lancar, menikmati jalan yang mendaki dan berkelok-kelok membuat perjalanan ini semakin memanjakan kami.
Pelabuhan Labuan Bajo
Menurut yang punya penyewaan motor, dari Labuan Bajo ke Cancar hanya butuh sejam perjalanan. Tetapi kejanggalan terjadi ketika kami sudah berkendara lebih sejam. Jangankan ada tanda-tanda sudah dekat ke Cancar, bahkan memasuki Kabupaten Manggarai Tengah juga belum, kami masih di Lembor. Mitha jadi kesel, karena sudah pukul 12 lewat kami masih di perjalanan, sehingga demi kenyamanan bersama kami memutuskan untuk singgah di sebuah warung makan, sekedar ngopi dan istirahat sejenak sembari menanyakan jarak dan waktu yang masih harus kami jalani jika ingin ke Cancar. 
Selamat Datang di Labuan Bajo
Ketegangan sempat terjadi, karena Mitha yang lumayan terbawa perasaan. Dia kesal karena waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang, sementara kami ingin kembali ke Labuan Bajo lagi untuk melihat sunset alias matahari terbenam. Mitha takutnya kami tidak bisa sampai di Labuan Bajo sebelum matahari terbenam. Sebenarnya saya setengah-setengah, antara mau lanjut menuju Cancar atau kembali saja ke Labuan Bajo untuk melihat sunset. Akhirnya saya mengalah, karena saya yang mengajak Mitha kesini, saya mengalah untuk kembali saja ke Labuan Bajo, ke hotel istirahat lalu mencari tempat melihat sunset yang keren. Namun keajaiban terjadi setelah dia selesai makan, dia mengajak kami untuk berangkat, saya langsung menyanggah bahwa tiidak usah buru-buru, toh ini baru pukul 1 siang, kita masih punya waktu 3-4 jam untuk tiba di Labuan Bajo, dia menjawab, ayo kita lanjut ke Cancar. Akhirnya perjalanan menuju Cancar kami lanjutkan.
Kehangatan bersama warga Flores
Memasuki Kabupaten Manggarai Tengah, kami disambut oleh cuaca yang kurang bersahabat, awan hitam memayungi sepanjang perjalanan kami semenjak memasuki kawasan Manggarai Tengah, hingga hujan deras tak dapat kami hindari. Sehingga mau tyidak mau saya dan Topan harus singgah untuk berteduh di rumah warga, karena kami tak memakai jas hujan. Sementara Mitha dan uncle Japh kami tidak tahu singgah dimana berteduh. Tuan rumah tempat kami singgah berteduh sangat baik, sangat hangat menyambut kedatangan kami, bahkan si bapak mengajak kami masuk ke dalam rumahnya untuk ngopi sejenak. Dengan alasan merepotkan, kami menolak ajakan bapak tersebut secara halus dengan alasan menunggu teman, siapa tahu lewat dan tidak melihat keberadaan kami jika kami masuk ke dalam. Setelah hampir 20 menit menunggu, kami memutuskan untuk kembali dan menunda mimpi kami ke Cancar. Karena secara logika sudah tidak memungkinkan untuk ke Cancar, melihat kondisi cuaca yang tidak pantas. Hujan deras, kabut dan awan hitam yang memayungi Manggarai Tengah memaksa kami untuk mengalah pada kenyataan. Dengan berat hati kami memutar balik motor menuju Labuan Bajo sembari mencari keberadaan Mitha dan Uncle Japh. Kami menemukan motor mereka terparkir di depan rumah warga, kami berhenti lalu mencari keberadaan mereka diantara rumah-rumah warga. 
Lokal, hanya saya dan kucing itu
Mereka berteduh di rumah salah satu warga yang habis melakukan acara adat, acara adat yang masih merupakan prosesi terakhir dalam rangkaian sebuah acara pernikahan. Tuan rumah langsung mebuka pintunya setelah melihat keberadaan kami di luar dan mengajak kami masuk ke dalam rumah. Kami berbaur dengan mereka, hampir 20 orang lelaki dewasa. Kami tak serta merta bisa mereka terima, kami pun tak lepas dari interogasi mereka. Pertanyaan mereka macam-macam, mulai dari tujuan dan misi kami ke Cancar, keluarga kami di Cancar, asal kami, dan seabrek pertanyaan interogasi lainnya. Setelah mereka mendengar penjelasan kami, saatnya mereka yang bercerita panjang lebar, hingga belasan cangkir kopi yang mengepul asapnya dan 4 piring kue keluar dari dalam bilik diantar oleh 3 ibu-ibu. Tanpa malu-malu kami langsung menyesak kopi panas tersebut, dingin yang menjalari tubuh kami terhangatkan oleh secangkir kopi panas buatana ibu-ibu tadi. Kopi asli tanah Flores, yang mereka namakan kopi Manggarai, ditanam di kebun sendiri, dipetik dan diolah secara tradisional hingga menjadi serbuk kopi yang siap diseduh dengan air yang mendidih. Tidak perlu diapa-apakan untuk menjadikannya kopi yang bercita rasa enak, dengan cara tradisonal yang masih menjadi kearifan local mereka mampu menghadirkan cita rasa kopi yang senantiasa membuat kami rindu akan Kopi Manggarai. Penyuguhannya pun menggunakan gelas yang terbuat dari kaleng almunium, sehingga menambah khas cita rasa kopi Manggarainya. Hujan di luar sudah mulai meredah, jam digital menunjukkan sudah hampir pukul 2. Dengan mengucapkan banyak terima kasih kami berempat pamit untuk melanjutkan perjalanan kami kembali ke Labuan Bajo.
Sunset Labuan Bajo
Sekita pukul 4 sore kami tiba kembali di Labuan Bajo setelah melewati drama perjalanan yang sangat seru, dari menerobos hujan deras hingga bensin hampir habis dan semua uang dititip di motor uncle Japh. Berdasarkan hasil googling saya waktu masih di Makassar, saya mengajak Topan, Uncle Japh dan Mitha ke salah satu café yang banyak sekali direkomendasikan oleh beberapa blogger yang sudah pernah ke Labuan Bajo. Kafe Paradise. Beberapa blogger mengeluarkan statement bahwa belum sah ke Labuan Bajo jika tidak berkunjung ke Kafe Paradise. Ketika kami tiba, suasana kafe masih agak lengang, mungkin karena belum pukul 5 sore. Kami disambut oleh waites kafe, yang semuanya laki-laki dan hampir semuanya berambut gimbal. 

Karena kafe masih lengang, sehingga kami masih bebas memilih tempat duduk. Kami memilih posisi yang langsung menghadap ke laut, untuk menyaksikan keindahan matahari terbenam versi Labuan Bajo. Menunggu matahari terbenam kami menikmati cemilan dan minuman yang kami pesan, semakin lama semakin banyak pengunjung yang datang, tetapi tak satupun pengunjung yang warga Negara Indonesia selain kami berempat. WAWWWW. Posisi kafe yang terletak diatas bukit menjadikan kafe ini semakin sempurna untuk menyaksikan matahari terbenam. Matahari Labuan Bajo perlahan turun, pancaran sinar keemasan yang terbias oleh air laut semakin mendramatisir dan memanjakan mata kami. Dengan latar pelabuhan Labuan Bajo dan beberapa pulau yang berbukit-bukit membuat kami mengakui opini beberapa traveler bahwa Labuan Bajo menjadi salah satu kota nomor wahid dengan kecantikan matahari terbenamnya. Dan setelah sekian lama menyaksikan sunset, akhirnya ada pemandangan sunset yang menyaingi sunset Pantai Losari, Kota Makassar,  Sunset Kota Labuan Bajo.Sunsetnya bikin susah move on. Labuan Bajo Aku Rindu. Tetapi bagaimanapun, sunset Labuan Bajo dan sunset Pantai Losari Makassar sama-sama memiliki keindahan dan kecantikan tersendiri yang akan terkenang bagi para penikmat sunset.
Teman menikmati Sunset
Kopi Flores dan Sunset


Jumat, 09 Februari 2018

Sombori, Surga di Timur Sulawesi

Hampir setahun setelah menyelesaikan trip di Sombori dan Labengki, kadang jika bertemu dengan beberapa orang baru masih hadir beberapa pertanyaaan, yang kurang lebih seperti di bawah ini.

Sombori itu apa dan dimana?
Sombori, mendengar namanya disebut, mungkin sebagian orang masih bertanya, “tempat apa itu?” atau bahkan “dimana itu tempat?”. Yah wajar jika ada yang bertanya demikian, karena maklum tempat ini masih sangat baru. Namanya kini baru mulai diperbincangkan oleh beberapa traveler. Bahkan beberapa traveler yang lumayan besar namanya di dunia sosmed belum pernah berkunjung ke Sombori, dan Sombori masih masuk dalam daftar destinasi selanjutnya yang akan mereka kunjungi. Sombori merupakan nama gugusan pulau-pulau kecil yang ada di sebelah timur Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah. Sombori merupakan pulau-pulau dengan topografi bukit karts. Salah satu pulau utama di Sombori, dihuni oleh masyarakat suku Bajo. Di pulau tersebut, di pesisir baratnya, Suku Bajo mendirikan perkampungan. Kebanyakan rumah-rumah mereka di atas laut, dipinggir pulau. Profesi mereka rata-rata sebagai nelayan, dan sebagian berprofesi sebagai pedagang baik menyalurkan hasil laut para nelayan ke kota ataupun menyalurkan kebutuhan para nelayan dari kota.

Perkampungan Suku Bajo di salah satu pulau di Sombori
Bagaimana cara jika ingin ke Sombori?
Untuk perjalanan menuju ke Sombori, ada beberapa rute, tetapi rute tercepat dan mayoritas ditempuh adalah dari Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Jangan bertanya, apakah ada kapal regular yang melayani penumpang dari Kendari ke Sombori, karena jawabannya tidak ada. Jadi jika ingin berkunjung ke Labengki, sebaiknya rombongan, atau kalau tidak mau repot bisa ikut open trip, karena yah seperti itu, tidak ada kapal penumpang. Biasanya kapal motor yang akan menuju ke Sombori berlabuh di Dermaga Pantai Biru atau Dermaga Kessi Lampe, di Kota Kendari.
Dermaga Kessi Lampe
Dari Dermaga Kessi Lampe perjalanan memakan waktu tempuh sekitar 6-7 jam, tergantung cuaca. Jika cuaca bersahabat dan laut tenang, perjalanan biasanya kurang lebih 6 jam. Sebelum sampai ke Sombori, biasanya kapal atau rombongan open trip, singgah sejenak di Pulau Labengki. Leader atau Guide singgah untuk melapor kepada tuan rumah yang akan dijadikan tempat nginap jika di Labengki. 


Perjalanan menuju Sombori menggunakan kapal motor
Tiba di Sombori

Apa hubungan antara Sombori dan Labengki?
Perairan Labengki
Sombori dan Labengki, ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, berkunjung ke Sombori tetapi tidak singgah di Labengki, sangat sayang, begitupun sebaliknya. Para pelaku open trip di Sulawesi Tenggara biasanya menjadikan dua lokasi ini sebagai satu rangkaian trip. Jadi Sombori dan Labengki itu ibarat saudara kembar yang tak terpisahkan satu sama lain.
Melewati Selat Labengki

Mengapa mesti ke Sombori?
Sombori bisa menjadi penawar rasa penat di benak anda, ketika sudah bosan dengan rutinitas sehari-hari dan butuh semangat baru. Sombori adalah jawaban bagi anda yang sudah bosan dengan suasana di Bali, Jogja, Lombok, Makassar ataupun Bandung.
Teras rumah dan pekarangannya
Bagi kamu yang pecinta pantai dan laut, Sombori adalah surga. Di Sombori, hanya ada beberapa perahu nelayan yang lalu lalang mencari ikan, tak ada kata macet, tak ada lampu lalu lintas yang memperlambat perjalanan, tak ada yang berjalan tergesa-gesa dan terburu-buru karena takut terlambat. Di Sombori tak ada rasa khawatir liburan akan terganggu oleh adanya telpon, sms, atau chat dari bos ataupun teman kantor yang membahas masalah kerjaan, karena di Sombori jaringan susah, nelpon aja susah, apalagi internet. Di Sombori, walaupun kamu datang sebagai orang asing, tetapi warganya akan tetap menyapa dan menyambut dengan senyum hangat yang tulus. Di sana tak ada lagu “Surat Cinta Untuk Starla”, “Asal Kau Bahagia” ataupun “Akad”, yang ada hanya nyanyian suara alam, suara serangga yang bercengkrama dengan alam, suara deburan ombak yang berkejaran menuju pantai. Jadi tunggu apalagi untuk main ke Sombori dan Labengki?
Sudah mirip dengan warga lokal kan?

Lalu jika ke Sombori ada apa saja?
Di Sombori ada beberapa destinasi yang wajib dikunjungi, Goa Allo, Goa Berlian, Pantai Pasir Putih, Dan Pulau Kayangan View Raja Ampat.

·       GOA MATA ALLO
Abaikan 3 orang yang sibuk bergosip
Terletak di salah satu pulau yang tak jauh dari Pulau Sombori, kurang lebih 15 menit dari pulau Sombori. Menuju pulau ini, harus ditemani oleh orang yang terbiasa atau setidaknya hafal lokasi goa ini, Karena tidak ada tanda apapun yang menandakan lokasi goa ini, kecuali tanda alami yang hanya orang terbiasa yang tahu tanda itu. Secara sekilas mulut goa ini tidak kelihatan, harus diperhatikan secara baik-baik, bahkan guide local harus meminta kepada kapten kapal untuk berlayar agak dekat ke pesisir pulau untuk memastikan lokasi mulut goa. Dan betul, mulut goa baru kelihatan samar, ketika perahu sudah mendekat. Mulut goa tersamar oleh rimbunnya pepohonan di sekitaran mulut goa.
3 Bidadari lagi mandi di dalam Goa
Mulut goa menghadap langsung ke laut, bahkan perahu bisa masuk kedalam mulut goa. Waktu terbaik untuk mengunjungi goa ini adalah pada saat tengah hari, karena pada saat itu, mentari lagi bersinar terik, sehingga memberikan penerangan alami ke dalam goa. Sayang pada saat kunjungan saya, hari sudah menjelang sore, sehingga pencahayaan yang masuk ke dalam goa sudah agak kurang, namun tak mengurangi keindahan goa ini. Penamaan goa ini saya tidak tahu asal usulnya, karena tidak ada nara sumber yang memadai yang bisa saya tempati untuk mencari informasi. Goa Mata Allo selain menawarkan keindahan khas goa, yaitu stalaktit dan stalakmit, juga memiliki nilai plus, dimana terdapat terowongan yang mungking panjangnya sekitaran 15 meter, terowongan ini menghubungkan mulut goa yang satu, tempat kami masuk, dengan mulut goa yang lainnya.
Bidadarinya kehilangan sayap, terbawa arus
Dan uniknya, di dalam terowongan ini pengunjung bisa berenang sepuasnya tanpa takut terkena sengatan sinar matahari.
Pisssss
Terbayangkan betapa segarnya berenang di bawah terowongan ini jika matahari di luar mulut goa lagi teriknya. Soal urusan bayar berapa untuk masuk goa ini, jangan khawatir, gratis, tidak dipungut bayaran sepersen pun.
Di mulut goa yang lain
Goa ini belum dikelola, mungkin karena letaknya di pulau tak berpenghuni, sehingga dibiarkan begitu saja, tetapi goa ini tetap berish kok, tidak ada aksi vandalism ataupun sampah yang berserakan, kecuali sampah alam yang terbawa langsung oleh ombak.  Mengenai keindahan lainnya silakan lihat foto saya.

  ·       GOA BERLIAN
Pose Bahagia
Goa ini berdekatan dengan Goa Mata Allo, saya kurang paham, apakah goa ini satu pulau dengan Goa Mata Allo. Sama dengan Goa Mata Allo, Goa Berlian bagusnya didatangi pada saat tengah hari, dimana matahari dengan semangat memberikan sinar terbaiknya. Sehingga sinar matahari bisa menerobos masuk ke goa melalui celah-celahnya. Tetapi kami berkunjung ke Goa ini sudah hampir maghrib, jadilah tak banyak yang bisa kami nikmati di goa ini. Stalaktit dan Stalakmitnya akan lebih menunjukkan pesona keindahannya jika kami datang pada saat yang tepat. Jika Goa Mata Allo memiliki keindahan lebih karena terowongannya yang bisa ditempati untuk berenang, disini di Goa Berlian memeliki kelebihan dengan stalaktit dan stalakmitnyaa yang putih seperti berlian. Kebayang keindahannya jika stalktit dan stalkmit ini terkena sinar matahari, pasti akan memantulkan cahaya bak kristal.
Bidadari Squad
Di dalam Goa Berlian, ada satu bidadari yang teritinggal di Mata Allo

·       PANTAI PASIR PUTIH
Pantainya sepi dan sunyi
Pasirnya lembut
Nah pantai ini adalah salah satu spot terbaik untuk menikmati matahari terbit di Sombori, berlokasi sekitar 15 menit dari Pulau Sombori. Untuk menikmati matahari terbit di pantai ini, kita harus datang sebelum pukul 06.00 pagi. Menunggu matahari terbit sambil menikmati hangatnya air laut di pagi buta akan membuat syaraf-syaraf menjadi rileks. Pasir putih nan lembut akan memanjakan kaki siapapun yang menjejakinya. Bersihnya pantai ini sebagai bukti bahwa masih jarang anak zaman now yang berkunjung ke pantai ini. Dan itu sudah cukup menjelaskan bahwa pantai ini masih virgin.
Sunrise yang kesiangan
Waktu saya dan rombongan datang, pantai ini sangat sepi, tak ada satupun manusia di pantai ini. Kami hanya berpapasan dengan beberapa nelayan yang sedang mencari ikan di tengah laut ketika perjalanan menuju pantai ini. Ada rasa senang jika melambaikan tangan kepada mereka, lalu mereka membalas lambaian kami sambil tersenyum. Apayah rasanya, kalau disuruh menjabarkan rasanya susah, biarkan hati yang merasakan sensasinya. Sama halnya ketika kita ngompol, hanya kita yang tahu rasa hangatnya. Hahahahaha.
Bidadari yang lagi mencari sayapnya
Di pantai ini, kita bisa menikmati warna-warna alam yang akan membuat mata segar, hijaunya pepohonan di sekitaran pantai sebagai pelengkap indahnya pantai ini. Birunya langit berpadu dengan birunya laut membuat pecinta pantai semakin jatuh cinta dengan pantai ini. Pasir putih yang halus, pantai yang landai, membuat siapa saja betah bermain air disekitaran pantai ini. Satu kata untuk pantai ini, SEMPURNA.
SEMPURNA
Bidadarinya terdampar di sini, setelah terbawa arus dari Goa Mata Allo
·       PULAU KAYANGAN
OH MY GOD
Destinasi pamungkas yang akan membuat siapapun yang datang ke tempat ini berdecak kagum. Jika pulau pada biasanya berupa daratan pasir di tengah laut, nah pulau ini berbeda. Pulau Kayangan merupakan salah satu pulau berbukit karts yang ada di sekitar Pulau Sombori.
Thankz Lord
Umumnya bahkan hampir semua pulau di gugusan kepulauan ini merupakan pulau berbukit karts. Bukitnya tidak terlalu tinggi, mungkin hanya sekitaran 50 meter, tetapi butuh perjuangan ekstra untuk sampai ke puncaknya. Tajamnya karts dan terjalnya bukit membuat jalur menuju puncak tergolong ekstrim. Jalur yang biasa ditempuh untuk menapaki puncak terletak di sebelah barat pulau. Itupun jalurnya tidak jelas, mesti ada leader yang harus mencari jalur mana yang tidak terlalu tajam kartsnya, batu atau dahan mana yang bisa dan tidak bisa diinjak. Menapaki puncaknya memang terasa berat, tetapi jika sudah sampai di puncaknya, semua perjuangan terbayar. Rasa lelah akan terbayar dengan indahnya pemandangan dari puncak.
Ya Tuhaaan, Indah Banget
Gugusan kepulaun karts di sisi barat pulau menjadi objek utama view di puncak Pulau Kayangan. Segarnya angin yang berhembus membawa terbang keringat secara perlahan. Perairan dangkal dengan dasar laut yang berupa pasir putih menghasilkan kombinasi warna hijau tosca, membuat siapa saja akan merasa betah di Puncak Kayangan. Tidak usah terlalu terburu-buru untuk turun jika sudah sampai di puncak, nikmati hembusan angin sepoi-sepoi, resapi segarnya udara, biarkan keringat menguap terbawa angin, biarkan otak terefresh dengan indahnya ciptaan Tuhan. Jika sudah lupa akan kerasnya perjuangan untuk sampai puncak, silakan memikirkan jalur turunnya, karena ternyata jalur turun lebih mengerikan daripada saat menanjak.
Indonesia Juara di hatiku
Ada jalur potong kompas yang cepat dan lumayan ringan sedikit dibanding jalur menanjak awal, tetapi jika sampai di ujung jalur, kita harus lompat dari ketinggian 1,5 meter. Lumayan memacu adrenalin, apalagi jika salah menjejakkan kaki pada saat lompat, bisa-bisa jatug di batu karang yang tajam. Intinya jika ingin ke Puncak Kayangan, harus menggunakan perlengkapan yang memadai, minimal sandal gunung, jangan memakai celana jeans panjang karena akan memperlambat proses penanjakan, ada baiknya memakai topi, di atas panas.
Finally, KAYANGANNNNN
Waktu terbaik datang ke Kayangan, pada saat mentari bersinar terik, sehingga gradasi warna laut, jelas kelihatan.
Bidadari tiba di kayangan, tulisan selesai
Pakai baju warna kontras dengan warna laut agar foto yang terekam semakin cetar membahana. Jangan takut dan tak perlu khawatir akan pengorbanan untuk Ke Kayangan, karena semuanya akan terbayar lunas dengan pemandangan, pengalaman, cerita dan rasa bahagia yang hanya bisa kita rasakan di dalam hati.


Senin, 20 Februari 2017

4 Tempat Yang Awalnya Asing Tetapi Begitu Berkesan

Setiap orang yang sering meninggalkan rumahnya sendiri dan mendatangi tempat-tempat baru pasti memiliki kenangan dan kesan yang indah tentang satu atau bahkan lebih dari satu tempat. Sama halnya dengan saya, walaupun saya bukan petualang atau apalah istilah kerennya, tetapi beberapa tempat baru dan termasuk asing yang saya datangi menyisakan kenangan dan kesan yang mendalam bagi saya. Bahkan ketika saya sedang stres, kepala lagi mumet, pusing, salah satu tempat ini akan terbayang di kepalaku, saya selalu memimpikan untuk melepaskan penat di salah satu tempat asing tersebut. Mungkin dari sekian penduduk bumi, hanya saya yang beranggapan bahwa tempat ini sangat istimewa. Meskipun tempat ini adalah tempat yang awalnya asing bagiku, tetapi akhirnya menjadi salah satu tempat yang paling damai yang pernah saya kunjungi. Dan berikut ada empat tempat yang bagi saya istimewa dan sangat mendamaikan, bahkan selalu memanggil-manggil saya untuk kembali.

Ø  Pappandangan
Berada di Kabupaten Maros, Kecamatan Turikale, Kelurahan Pappandangan, sekitar 30 kilometeran dari Pusat Kota Makassar. Meskipun letaknya yang sangat dekat dengan kota Maros, bahkan hanya sekitar 1 kilometer dari Pantai Tak Berombak yang sangat hits di Maros tetapi kondisi tempat ini sangat damai dan tentram. Bahkan bisa dikategorikan hampir sama dengan nuansa pedesaan. Udaranya masih sangat sejuk dan tidak berpolusi. Masyarakatnya yang hidup dengan suasana kekeluargaan dan penuh keramahan menjadikanku memilih tempat ini adalah tempat paling mendamaikan yang pernah saya datangi sepanjang usianku selama 28 tahun. Tempat ini adalah tempat KKN saya waktu menempuh pendidikan S1, yang mengharuskanku tinggal di salah satu rumah warga selama kurang lebih 35 hari. Karena KKN inilah menjadikan mereka seperti keluarga baru bagi saya, UMMI CAYA, UMMI DILLA dan UMMI ESSE seperti halnya ibu baru bagi saya, meskipun saat itu baru kenal tetapi kehangatan dan keramahan mereka sangat membuatku terkesan. Sambutan mereka ke kami sama seperti seorang ibu yang menyambut kedatangan anaknya yang baru pulang dari tanah rantau selama bertahun-tahun. Pelukan dan senyum hangat dari mereka yang tidak membeda-bedakan kami meskipun kami dari berbagai latar Suku dan Agama memantaskannya kami menganggap mereka sebagai orang tua kami di Pappandangan.Pappandangan dianugerahi dengan hamparan sawah yang luas dan dilalui oleh aliran Sungai Maros. Kedua anugerah ini menjadi sumber matapencaharian warga Pappandangan, Sawah yang luas menjadikan sebagian besar warga menggantungkan hidupnya pada bidang pertanian, sedangkan mereka yang brmukim di sekitaran aliran sungai sebagian memilih menjadi penambang galian golongan pasir. Kondisi alam yang masih hijau dan sejuk memanjakan siapa saja yang datang ke Pappandangan, terlebih dengan sikap warga yang ramah dan bersahabat. Ah kangen Pappandangan.

Ø  Dusun Angin-Angin
Salah satu Dusun yang ada di kaki Gunung Latimojong, Kabupaten Enrekang, Kecamatan Buntu Batu, Desa Rante Lemo. Kehidupan masyarakatnya yang khas pegunungan dan daerah terpencil menjadikan tempat ini unik bagi saya. lokasinya yang berada di kaki gunung yang menjadi atap Pulau Sulawesi ini menjadikannya jauh dari yang namanya modernitas. tetapi itulah sisi lain yang menjadikan tempat ini istimewa kedua di mata saya. Udara yang dingin, kabut yang turun ketika pagi dan sore menjelang menjadi hal biasa dan umum di tempat ini, tetapi untukku itu amazing luar biasa. waktu saya berkunjung ketempat ini, handphone hanya dijadikan sebagai alat untuk mendengar musik, karena untuk mendapatkan jaringan telpon (signal) harus ke tempat-tempat tertentu. sehingga handphone disini kadang hanya digantung di atas ranjang besi sebagai alat pemutar musik. Jangan ditanya soal listrik, listriknya hanya karena adanya bantuan GENSET. tetapi saya kurang tahu sekarang, apakah listrik dan signal sudah sampai disana. Karena waktu saya berkunjung itu pada tahun 2009 awal, sudah 8 tahun yang lalu. Saya yakin sudah ada perubahan, tetapi bagaimanapun Angin-Angin tetap tempat istimewa dan mendamaikan. Kangen makan nasi ubi dan ikan kering kecil-kecil. Banyak hal yang berubah dikehidupanku setelah mengunjungi tempat ini. Awalnya saya tidak suka makan sayur labu dan sayur daun kelor, tetapi sepulangnya dari sini saya jadi doyan makan kedua jenis sayur ini. Sampai- sampai pas pulang ke Soppeng ibu saya kaget karena saya kok jadi penyuka kedua jenis sayur ini, padahal sebelumnya saya anti sayur labu dan sayur daun kelor. Nasi yang dimakan juga disini berbeda dengan nasi yang di dataran rendah. Disini nasi dimasak dari campuran beras dan ubi yang dikeringkan dalam bentuk potongan kecil-kecil. Lauknyapun yah ikan kering kecil-kecil yang digoreng polos, tanpa dibumbu dan diapa-apakan, hanya dicuci lalu dimasukkan ke minyak panas, sudah matang dihidangkan dengan nasi ubih dan sayur daun kelor campur labu, membuat saya lupa kenyang dan makan ala tukang bangunan. Jadi kangen dengan Angin-Angin. Udaranya yang dingin dinetralisir oleh kehangatan warganya dan secangkir kopi khas Tanah Enrekang membuat saya selalu rindu tempat ini. Ambe' Suhani, semoga senantiasa sehat-sehat bersama keluarga di Sana.

Ø  Dusun Bulo-Bulo
Nah dusun ini hampir sama dengan Dusun Angin-Angin di Enrekang. Terpencil. Untuk menuju dusun ini, terdapat dua kases, bisa melalui Bili-Bili Kabupaten Gowa, atau juga bisa melalui Malakaji Kabupaten Jeneponto. Dusun Bulo-Bulo terletak di Desa Pencong, Kecamatan Biring Bulu, Kabupaten Gowa. Jalur menuju dusun ini dari pusat Kota Pencong masih berupa jalan rintisan yang bergelombang, bahkan ditengah jalan masih terdapat gundukan batu dan aliran-aliran air kecil yang hamper membentuk parit kecil tetapi tidak ada jembatannya. Yang membuat dusun ini berkesan bagi saya adalah keluarga Pak Rahman. Seorang tetua dan tokoh Masyarakat di Bulo-Bulo dan Desa Pencong.Beliau seorang guru pendidikan agama di satu-satunya SD agama Islam di Desa Pencong. Dari rumahnya beliau harus berjalan kaki saban hari menempuh jarak sekitar 11 KM untuk pergi mengajar, jadi setiap hari kurang lebih 22 KM dan setiap minggu 132 KM. LUAR BIASA pengabdian seorang guru. Keluarga kecilnya yang mendiami sebuah rumah khas Makassar sederhana tetapi sangat istimewa bagi saya, didukung karena keramahan mereka sekeluarga dan sifat pemimpin dan mengayomi dari Pak Rahman membuat saya terkesan dengan keluarga ini. Meskipun hanya 2 hari 2 malam bersama mereka tetapi serasa sangat akrab dan nyaman bersama keluarga beliau. Bonus bagi saya adalah pemandangan di depan rumah beliau sangat menarik, khas pedesaan yang berada di sebuah lembah. Tidak perlu saya ceritakan keindahannya, cukup saya yang tahu bagaimana indahnya pemandangan di depan rumah pak Rahman. Mengapa saya pilih dusun ini sebagai salah satu dusun yang mendamaikan? Karena di dusun ini meskipun mereka bukan keluarga saya tetapi saya merasakan ketulusan dan kehangatan dari keluarga ini. Di rumah mereka saya bisa bangun subuh, karena rumah mereka yang bersampingan dengan mesjid membuat saya merasa betah di sini. Saya yang jika di Makassar bangunnya paling cepat pukul 08 pagi, disini saya bisa bangun sebelum shalat subuh dan bisa ikut shalat subuh berjamaah di mesjid dekat rumah pak Rahman. Betapa dan alangkah damainya hidup di sini. Bulo-Bulo tempat yang senantiasa kurindu, saya berdoa semoga Tuhan mengizinkan saya kembali menjejakkan kaki di tempat ini untuk bersilaturahmi kembali dengan beliau dan warga sekitar Bulo-Bulo, serta bisa shalat subuh berjamaah dengan warga sekitar dan tentunya menikmati bonus pemandangan di sekitar rumah Pak Rahman kala matahari bangkit dari peraduannya.

Ø  Dusun Bahagia 
Nah ini saya lupa siapa nama pemilik rumah yang saya tempati, karena saya Cuma taunya memanggil beliau dengan panggilan Pak Dusun, karena beliau menjabat sebagai kepala Dusun Bahagia. Tak berbeda dengan Keluarga Pak Rahman di Bulo-Bulo dan Warga Dusun Angin-Angin di Enrekang, Keluarga Pak Dusun juga memiliki tingkat kehangatan dan keramahan bagi orang asing yang sangat tinggi. Bahkan keluarga dan tetangga dari Pak Rahman sangat akrab dengan saya. Semingu menjadi anak angkat beliau membuat saya merasa terlahir kembali dengan jiwa dan pemikiran yang fresh. Bangun pagi disambut oleh berbagai jenis burung yang sedang bernyanyi dan menari di ranting pohon, luar biasa damai dan bahagianya, bagaimana tidak ketagihan bangun pagi. Menghabiskan siang hari dengan main ke pasar tradisional, air terjun, sawah yang seolah-olah adalah tangga menuju surga. Melihat aktivitas para petani menyiangi padinya sembari memandangi pemandangan yang indahnya tak terlukiskan oleh kata. Suara ibu-ibu yang bersahutan mengusir kawanan burung pipit menjadi suatu pelengkap simfoni alam di kala sore. Ketika senja mulai menua, saya dan Ibu Dusun bergegas pulang dan membawa berbagi macam sayuran segar untuk santapan malam. Kegelapan malam tak lagi mengerikan ketika saya menikmati malam di teras belakang rumah, karena teras menghadap ke kampong sebelah yang diatas gunung. Nun jauh disana kelihatan keindahan lampu-lampu rumah warga di atas gunung seolah menyaingi keindahan hamparan bintang di langit. Suatu tempat yang bernama Dusun Bahagia di Desa Bontoparang, Kecamatan Tompo Bulu Kabupaten Maros betul-betul mencerminkan namanya. Bahagia dan Damai.

Itulah 4 tempat asing yang pernah saya datangi, tetapi sangat membuatku terkesan, bukan kemewahan dan kekayaan harta yang dimiliki oleh tuan rumah yang saya tumpangi, tetapi kesederhanaan dan kekayaan hati yang dimiliki oleh Ummi Caya, Ummi Esse, Ummi Dilla, Pak Rahman Sekeluarga, Ambe’ Suhani Sekeluarga, dan Pak Dusun Sekeluarga. Mereka adalah kejutan dan anugerah terindah yang Tuhan berikan dalam lembaran hidupku. Berharap suatu saat bisa kembali menjalin silaturahmi dengan mereka. Karena jasa dan kebaikan mereka takkan sirna ditelan waktu