Selasa, 13 Januari 2015

Pulau Badi: Cerita Baru, Pengalaman Baru dan Teman Baru

Tak berselang berapa lama setelah saya menulis moment di Path, sudah ada notifikasi, saya mengira dari Dina, ternyata dari Nuzul. Saya mencoba membuka komentarnya, isinya memberitahukan kalau besok ada trip dari anak-anak Pajappa ke Pulau Badi. Saya langsung merespon, setelah berkomunikiasi dengan Nuzul melalui jaringtan pribadi, akhirnya saya mendapatkan ID Line dari penggagas trip ini. Namanya Asriawan dan disapa Achi, wah mirip dengan nama saya. Perkenalan basa-basi pun berlanjut di Line sekaligus membahas teknis untuk trip besok dan perlengkapan yang dibutuhkan. Kebetulan beberapa perlengkapan yang dibutuhkan tersedia di rumah, tanpa membuang waktu saya mulai menyusun perlengkapan yang ada.
Mentari pagi kembali menyinari bumi ini, sinarnya yang menerobos masuk melalui celah-celah jendela membuatku tersadar dari nyenyaknya tidurku. Jam di Tablet saya menunjukkan pukul 07 pagi lebih 07 menit. Saya bergegas untuk menuju kamar mandi, membereskan apa yang bisa dibereskan.  Aktivitas kamar mandi sudah selesai, saatnya melangkah mencari sarapan pagi dan membereskan beberapa perlengkapan yang belum beres. 2 jam saya berputar-putar kayak setrikaan, susun bongkar, bongkar susun, hingga mendapat susunan yang pas dan tas semi ransel siap untuk disampirkan di bahu.
ANTRI UNTUK NAIK KE KAPAL DI PELABUHAN PAOTERE
Jarum jam sudah hampir menunjukkan angka  10. Saya coba menghubungi kak Achi melalui nomor ponsel yang semalam diberikan kepada saya via Line. Tersambung. Dari pembicaraan saya dengannya, kak Achi sekitar stengah jam lagi akan berangkat dari kawasan Toddopuli. Karena sesuai kesepakatan semalam, saya ikut dengan kak Achi untuk menuju ke pelabuhan Paotere, maka saya harus bersiap-siap juga sekarang. Butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk memeriksa semua perlengkapan yang akan saya bawa. Setelah pamit dengan orang-orang yang ada di rumah, saya berjalan menuju jalan Poros Jendral Urip SUmeharjo, tepatnya setelah jembatan penyebrangan. Di depan sebuah kios penjual pulsa, saya berdiri menunggu kak Achi. Menunggu orang yang ditemani janjian tetapi tidak tahu bagaimana tampangnya itu seninya luar biasa, penasaran dan tidak sabaran bercampur menjadi satu. Sekitar 20 menit menunggu seorang dengan motor besar, kacamata hitam, celana jeans selutut yang dipotong asal, kemeja lengan panjang yang dibiarkan kancingnya terbuka, memperlihatkan dalaman kaos putihnya, serta jinjingan yang berisi 2 pasang fins membuat saya yakin jika dia adalah kak Achi. Yah betul. Perkenalan nyata dilanjutkan, setelah meminta maaf karena agak telat, dan saya sudah duduk di jok bagian belakang motor kak Achy, perjalanan di lanjutkan untuk menuju ke pelabuhan penyeberangan Paotere.
SUASANA DI ATAS KAPAL MILIK DG SAHIR
Hiruk pikuk aktivitas warga masyarakat Makassar berbaur dengan warga dari pulau seberang sudah sangat ramai ketika kami melewati kawasan pelelangan ikan Paotere. Kemacetan tidak dapat dihindarkan karena aktivitas warga dan jalan yang agak sempit, dengan kesabaran akhirnya kami tiba juga di Kawasan pelabuhan Paotere. Paotere merupakan suatu pelabuhan tempat berlabuhnya beberapa kapal dan perahu yang menghubungkan antara Kota Makassar dan pulau-pulau lainnya disekitaran gugusan Kepulauan Spermonde, baik untuk kepentingan bongkar muat barang maupun untuk sebagai jalur transportasi bagi masyarakat pulau yang ingin beraktivitas di Kota Makassar. Di pelabuhan Paotere ini juga merupakan tempat bersandarnya kapal-kapal pengangkut barang yang kan di suplai ke kawasan Timur Indonesia. Pelabuhan Paotere terletak di Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makasar, Provinsi Sulawesi Selatan. Merupakan bukti sejarah kejayaan Kerajaan Gowa-Tallo pada masa lampau.
TRANSIT DI PULAU BONE TAMBUNG
Teriknya matahari tak menjadi penghalang bagi kami dan masyarakat lainnya untuk tetap beraktivitas, satu persatu rombongan mulai berdatangan. Perkenalan kepada beberapa teman yang akan ikut trip ini berlanjut hingga Adzan Dhuhur memaksa kami untuk mengecilkan sedikit volume suara kami, kebetulan kami berkumpul di samping masjid yang ada di kawasan Pelabuhan Paotere. Kak Achi, Ijo, Kak Jek, Agus, Icha, Ichal, Ocan, Idha dan Ogi. Itulah Sembilan orang teman baru saya siang ini yang akan saya temani untuk menikmati eksotisme salah satu pulau di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (PANGKEP). Pulau Badi, yah seperti itulah namanya, gambaran saya tentang pulau ini masih bias dibilang minim, saya hanya tahu jika pulau ini merupakan pulau berpenghuni. Bukan hanya saya yang merupakan orang baru disini, beberapa orang lainnya juga merupakan orang baru, itulah yang membuat trip ini lebih seru dan berkesan. Dari sepuluh orang yang ikut trip, hanya ada dua cewek, Idha dan Ogi. 
GRUFIE DI ATAS PERAHU, SEBELUM TIBA DI PULAU BADI
Ponsel milik kak Achi berdering, ada panggilan masuk dari Dg. Sahir (Dg. merupakan Singkatan dari kata Daeng, sapaan khas untuk orang yang dituakan bagi suku Bugis-Makassar). sang pemilik kapal yang akan kami tumpangi untuk menuju ke Pulau Badi. Tak berselang berapa lama kami sudah tiba di dekat kapal milik Dg. Sahir, satu persatu secara bergantian kami naik di kapal, setelah menyimpan barang bawaan kami, selanjutnya mencari tempat yang nyaman karena perjalanan kami memakan waktu yang panjang, sekitaran 2-3 jam jika ombak bersahabat. Suasana di atas kapal sudah ramai dan hampir seluruh badan kapal sudah terisi barang. Kami adalah penumpang terakhir yang naik diatas kapal, beberapa penumpang lain sudah menempati tempat duduk di bagian belakang di dekat pengemudi kapal. Dg. Sahir dan satu orang ABK sibuk menarik tali yang mengikat Jangkar yang masih terbenam di dasar laut. Deru mesin kapal mulai terdengar, menyaingi suara bising penumpang yang sebagian besar adalah ibu-ibu yang baru pulang berbelanja keperluan di Kota Makassar. Ongkos penyeberangan dari Pelabuhan Paotere ke Pulau Badi adalah 20.000 Rupiah
PULAU BADI
Sedikit demi sedikit kapal bergerak, perlahan tapi pasti, kapal mulai menjauh dari pinggir pelabuhan Paotere. Angin sepoi-sepoi berhembus membelai rambut dan wajah kami, seolah mengucapkan ucapan selamat datang dalam perjalanan laut ini. Kecepatan kapal semakin bertambah, Kota Makassar semakin kelihatan kecil, hanya beberapa gedung pencakar langit yang masih kelihatan jelas. Perjalanan berlanjut melewati deretan kapal-kapal yang ada di lepas pantai perairan Makassar, saya tidak tahu persis untuk apa keberadaan kapal tersebut yang terombang ambing di tengah lautan Makassar. Semakin lama, suara ibu-ibu yang tadi bising semakin tidak kedengaran, hanya suara mesin kapal yang menderu dan suara-suara candaan dari kami yang kedengaran. Ibu-ibu tersebut sebagian ada yang tidur, sebagian ada yang sibuk mencatat, mungkin menghitung belanjaannya. Laut dan angin yang bersahabat membuat perjalanan kami bisa disebut tanpa kendala, tidak ada ombak besar yang menghalangi perjalanan kami, sudah hampir sejam kami mengarungi lautan membelah Selat Makassar.
RENOVASI KANTOR DESA MATTIRO DECENG, PULAU BADI
Perkenalan lanjutan, disertai dengan canda dan tawa menjadi obrolan hangat diantara kami, menjadikan kami semakin akrab satu sama lain. Beberapa pulau sudah kami lewati, seperti Pulau Kayangan, Pulau Samalona, di kejauhan di  selatan Nampak Pulau Kodengareng Lompo dan Pulau Kodingareng Keke, Pulau Barrang Caddi dan Pulau Barrang Lompo baru saja kami lewati, di kejauhan Nampak sebuah pulau. Dari cara laju kapal, seakan Pulau yang ada di depan sana merupakan tujuan kami. Hampir 2 jam perjalanan sudah berlalu, seorang laki-laki umur stengah abad mulai bangun dari mimpi indahnya yang berada di samping Agus dan Ijo. Untuk menjawab rasa penasaran saya, akhirnya saya bertanya pada beliau yang saya lupa tanyakan namanya. Dari percakapan dengan beliau saya baru tahu jika pulau yang ada di depan sana adalah Pulau Bone Tambung, dan semua penumpang  yang ada di kapal ini adalah warga Pulau Bone Tambung, dan semua barang-barang yang ada sebelum kami naik adalah milik penumpang sebelumnya, jadi otomatis kami akan transit di Pulau Bone Tambung sebelum melanjutkan perjalanan ke Pulau Badi. Tidak lama kemudian, Kapal semakin mendekati dermaga yang panjang menjorok dari daratan Pulau Bone Tambung. 
BERCENGKRAMA DI AIR
Segerombolan ikan terbang berterbangan di samping kiri kanan kapal, seolah menyambut kedatangan kami, mungkin bagi warga disini itu adalah hal biasa, tetapi bagi kami itu adalah hal istimewa dan pemandangan yang sangat langka. Kapal sudah bersandar di dermaga pulau Bone Tambung. Satu persatu penumpang menaiki tangga dermaga, kami juga ikutan naik ke dermaga, karena hampir semua barang yang ada akan di bongkar di sini. Suasana di dermaga tiba-tiba menjadi riuh rendah, beberapa kerabat dari penumpang sudah menunggu di dermaga, beberapa juga anak kecil tampak berlarian berlalulalang disekitaran dermaga. Sekitar stengah jam waktu dihabiskan untuk aktivitas bongkar muatan, perjalanan di lanjutkan menuju Pulau Badi. Hanya kami, Dg. Sahir dan 2 orang ABK yang melanjutkan perjalanan menuju Pulau Badi.
FREE DIVE
Pulau Badi merupakan satu dari 114 pulau di Kabupaten Pangkep, dan termasuk dalam 94 pulau berpenghuni di Kabupaten Pangkep. Pulau Badi terletak di Desa Mattiro Deceng, Kecamatan Liukan Tupabbiring, Kabupaten Pangkep. Sekitar setengah jam perjalanan dari Pulau Bone Tambung, akhirnya kami tiba di pinggir pulau Badi, awalnya saya mengira kita akan merapat ke dermaga, tetapi kami merapat di pinngir pulau yang tidak ada dermaganya. Satu persatu kami turun dan saya yang paling terakhir. Setelah istirahat sejenak di pinggir pantai tersebut, Dg. Sahir langsung mengajak kami menuju kediamannya untuk beristirahat sejenak. Setelah berbasa-basi dan menyapa beberapa warga yang ada di depan rumah Dg. Sahir, kami diarahkan untuk naik kelantai 2 rumah panggung milik Dg. Sahir. Jarum jam sedikit lagi menunjuk pada angka 3. 
PULAU BADI, TAMPAK DARI UJUNG DERMAGA
Setelah menyimpan semua barang bawaan dan beristirahat sejenak, maka kami bersiap-siap untuk menuju ke dermaga. Kami berjalan menuju ke dermaga yang letaknya sekitar 200 meter dari rumah Dg. Sahir, lumayan jauh bagi saya yang lagi mengalami pembengkakan di kaki kiri akibat kadar purin di dalam darah yang melebihi ambang batas. Dengan berjalan terseok-seok, akhirnya sampai juga di dermaga yang kami tuju. Ada beberapa anak kecil yang bermain air, ada juga beberapa yang sedang memancing. Semuanya bersiap-siap turun bermain air, kecuali saya. Saya tidak dapat ikut bermain air karena kaki saya bengkak dan sakit, takutnya kalau di air mengalami kram. Sehingga saya hanya memutuskan untuk menunggu di dermaga sambil sesekali menjadi tukang foto bagi mereka. Sesekali mereka naik ke dermaga secara bergantian, baik untuk merokok, melihat foto atau untuk beristirahat sejenak. Sebenarnya saya sangat iri dengan mereka, sangat ingin bermain air bersama mereka. Menikmati keindahan bawah laut sekitaran pulau badi, belajar freedive dan berfoto-foto di bawah air. Tak banyak yang bisa saya ceritakan tentang keindahan bawah laut perairan sekitar pulau Badi, Karena saya tidak menyakiskannya. Semoga ada kesempatan dan kesehatan yang Tuhan berikan kepada saya untuk bisa kembali menikmati keindahan bawah laut pulau Badi.
SAMBIL ISTIRAHAT KITA GRUFIE DULU
Daripada hanya bengong dan iri melihat mereka bercengkrama di air, lebih baik saya bermain dengan anak-anak yang lagi asyik berenang disekitaran dermaga. Sebuah batu karang kecil yang sudah mati, diikat dengan tali kecil yang panjangnya kurang semeteran lalu diujung tali tersebut diikat juga gabus yang lebih kecil dari batu karang tadi. Mereka memberikan saya batu tersebut, lalu meminta saya untuk melemparnya ke dalam laut yang tak jauh dari pinggir dermaga. Saya menuruti pinta mereka, setelah batu tersebut terbenam, mereka berlomba melompat lalu berenang dan menyelam mencari batu tersebut, yang mendapatkan batu tersebut adalah pemenang. Begitu seterusnya berulang-ulang hingga pakaian saya hanpir basah akibat terpercik air dari bawah pada saat mereka melompat. Tidak ada hadiah yang menjadi incaran mereka, hanya pengakuan dari teman-temannya yang menjadi motifasi untuk menjadi pemenang. Taka ada hal pembeda antara pemenang atau yang belum menang, intinya mereka senang, mereka menikmati permainan ini. Sederhana tetapi sangat berharga karena mereka bisa melewati masa kecilnya dengan menikmati apa yang alam sajikan.
GRUFIE SETELAH SNORKLING
Hari semakin sore, jam menunjukkan pukul 05 sore lebih sedikit, tetapi awan gelap sudah menyelimuti pulau Badi dan sekitarnya, satu persatu teman-teman saya naik ke dermaga. Tinggal kak Jek, Kak Achi dan Agus yang masih di air, tetapi nampaknya mereka bertiga sudah berenang menuju dermaga, sembari menunggu mereka naik kedermaga kami berfoto selfie menggunakan kamera gopro milik Ochan. Diperjalanan pulang dari dermaga menuju rumah Dg. Sahir, tiba-tiba angin kencang datang menghantam pulau ini, sedikit lagi hujan turun, awan hitam pekat menyelimuti langit Pulau Badi. Kamipun mempercepat langkah kami, meski saya harus terseok-seok mengimbangi langkah mereka yang kakinya sehat walafiyat, akhirnya kami tiba di kediaman Dg.Sahir sebelum hujan turun.
MEREKA BAHAGIA MELEWATI MASA KECILNYA DENGAN BERCENGKRAMA BERSAMA ALAM
Gelapnya malam telah mengusir raja siang untuk kembali keperaduannya, badai semakin menjadi-jadi diiringi dengan hujan yang sangat deras. Dingin, lapar dan lelah bercampur menjadi satu, sembari yang lain beraktivitas di kamar mandi, Agus, Ichal dan Kak Jek mulai beraksi dengan trangia (kompor portable yang mengunakan spirtus sebagai bahan bakarnya) dan kawan-kawanya. Pertama-tama mereka memanaskan air untuk ngopi-ngopi. Setelah beberapa gelas kopi terseduh, selanjutnya memasak nasi untuk makan malam kami. Berhubung kapasitas trangia yang kami bawa hanya untuk 4-5 orang, maka memasak nasinya harus dua kali. Agus dan Ichal memasak nasi, sementara Idha dan Ogi memasak lauk  di lantai bawah menggunakan kompor milik istri Dg. Sahir. Tak butuh waktu lama makan malam pun terhidang. Hidangannya sederhana, hanya nasi, tumis sawi, olahan ikan kaleng dan beberapa batang sosis, tetapi kebersamaan ini yang sangat luar biasa, mengingat baru saja tadi diang kami semuanya berkenalan. Hujan semakin deras, badai pun belum ada tanda-tanda akan berhenti. Sepertiga malam sudah terlewati, udara semakin dingin tetapi semuanya itu terusir oleh hangatnya kebersamaan kami yang seolah sudah menjadi keluarga, canda dan tawa serta bercerita tentang pengalaman jalan-jalan ditempat yang lain menjadikan malam semakin panjang. Icha, Ichal, Agus dan kak Achi memutuskan untuk bermain domino, yang kalah harus berdiri, dan baru bisa duduk apabila juara satu. Seru dan sangat seru, Ochan memutuskan untuk beristirahat duluan, sementara saya, kak Jek, Ijo, Ogi dan Idha masih asyik dengan bahasan kami yang tak jauh dari seputar jalan-jalan dan tempat-tempat liburan yang keren. Kak Jek sudah pamit untuk beristirahat, akhirnya kami berlima sepakat untuk beristirahat, meluruskan punggung. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 1 dinihari, saya sudah tidak ingat persis kapan saya terlelap, tetapi sebelum saya terlelap mereka berempat masih asyik main domino.
MENIKMATI SANTAP MALAM YANG SEDERHANA TETAPI ISTIMEWA
Saya terbangun ketika hari sudah mulai terang, meskipun matahari tidak mincul, tetapi hari sudah mulai terang, yang lain masih tertidur, setelah saya keluar di teras, ternyata Icha sudah bangun lebih duluan. Mengingat yang kak Achi ucapkan kemarin bahwa kita harus pulang pagi-pagi pukul tujuh, akhirnya saya membangunkan mereka satu persatu. Tak butuh waktu lama untuk membangunkan mereka, setelah semuanya bangun dan berkemas, maka kami melanjutkan aktivitas sarapan pagi dengan roti dan selai cokelat. Sebenarnya kami masih lapar, tetapi rotinya sudah habis, maka saatnya untuk berpamitan kepada ibu istri Dg. Sahir dan menuju dermaga karena Dg. Sahir beserta ABKnya sudah menunggu kami. Sesampainya dermaga, kami langsung naik ke kapal, semuanya sudah mengambil posisi nyaman di kapal, dan aktivitas tarik menarik jangkar sudah selesai, perlahan kapal meninggalkan P. Badi, membawa kami kembali ke kota Makasar dengan pengalaman baru, cerita baru dan teman baru yang kami dapatkan. Seperti saat kami akan ke P. Badi, kami harus transit di P. Bone Tambung lagi untuk menjemput warga yang akan beraktivitas di Kota Makassar. Setelah bersandar sekitar stengah jam akhirnya kapal mulai membelah mengarungi perairan laut Makassar yang agak kurang bersahabat. Tidak seperti kemarin, lautan agak berombak dikarenakan angin yang bertiup kencang, sisa badai semalam. Setelah terombang-ambing di tengah lautan Makassar kurang lebih 3 jam akhirnya Kapal milik Dg Sahir bersandar di dermaga Paotere, dan kami satu persatu melangkahkan kaki menginjak daratan Kota Makassar.
GRUFIE SEBELUM PULANG

GRUFIE DI ATAS PERAHU (PERJALANAN PULANG)
Kini kami kembali ke Makassar, ke rumah masing-masing dengan selamat, dengan cerita, pengalaman dan teman baru. Terima kasih Komunitas PAJAPPA Makassar, Terima kasih Kak Achi, Kak Jek, Ochan, Ijo, Agus, Ichal, Icha, Ogi dan Idha. Terima kasih masyarakat Pulau Badi pada umumnya dan keluarga Dg. Sahir khususnya. Hanya satu kata yang pantas saya ucapkan "ALHAMDULILLAHI RABBIL ALAMIN”
SELFIE DI DERMAGA 
EM FIL FRIIIIIII
AYEM VERI HEPPI




ACHYIE SABANG

3 komentar: