Sabtu, 08 Agustus 2015

Pulau Kodingareng Keke (lagi), Surga Yang Di Rindukan


Pulau Kodingareng Keke, salah satu nama pulau yang sudah menjadi ikon pariwisata kota Makassar. Pulau ini merupakan 1 dari 100-an lebih pulau di gugusan kepulauan Spermonde yang membentang dari utara (Kab. Barru) sampai selatan (Kab. Takalar) di pesisir barat Sulawesi Selatan. Pulau Kodingareng Keke dapat ditempuh selama kurang lebih sejam dari dermaga Popsa. Tidak ada angkutan (perahu / kapal) umum yang melayani rute ini, maklum pulau ini merupakan pulau tidak berpenghuni. Sehingga jika ingin berkunjung ke Pulau Kodingareng Keke harus mencarter perahu untuk menuju kesana. Perahu yang biasa saya carter adalah perahu yang muat 10 pax. Kisaran harganya mulai dari Rp.600.000, tergantung bagaimana caranya kita menawar, atau jika sudah berlangganan pasti diberi harga murah. Harga sewa perahunya juga berbeda antara perjalanan PP dan perjalanan nginap, PP pasti lebih murah, karena perahunya menunggu, sedangkan kalau nginap, perahunya bolak balik, jadi harga lebih mahal. Pemandangan disana tidak perlu di sangsikan, alam bawah lautnya bikin berdecak kagum.
Pulau Kodingareng Keke

Pukul 08.37 saya menelpon Dg Tayang(Dg :Daeng, sapaan untuk orang yang di tuakan atau dihormati untuk suku Makassar), mengabarkan ke beliau bahwa teman-teman saya sudah lengkap dan siap untuk berangkat menuju Pulau Kodingareng Keke. Sepuluh menit kemudian perahu Dg Tayang sudah merapat di dermaga samping popsa, kami langsung menuju ke ujung dermaga mendekat ke perahu milik Dg Tayang. Kurang dari pukul 09.00 pagi kami berangkat menuju ke Pulau Kodingareng Keke. Wiwin dan K’ Ridho duduk di bangku paling belakang di depan Dg Tayang. Arfan, Riana dan anaknya duduk di bangku tengah, sedangkan saya, Ical dan Wawan duduk paling depan.
Suasana Pulau Kodingareng Keke waktu kami baru saja tiba.
Perahu membelah perairan makassar, melewati kapal-kapal besar yang terapung di tengah lautan, yang maksud dan tujuannya mereka disitu saya tidak paham. Perjalanan kami aman terkendali, ombak bersahabat, angin bertiup tidak terlalu kencang, kami bertemu dengan beberapa rombongan lain yang ingin menuju ke pulau seberang. Melewati Pulau Lae-lae, Dg Tayang mengarahkan perahu yang kami tumpangi untuk mendekati perahu kecil milik nelayan tradisional untuk membeli ikan.  Tangkapan nelayan tersebut belum terlalu banyak, nelayan tersebut memilihkan ikannya yang besar-besar kurang lebih 10 ekor, harganya Cuma Rp.50.000. Sangat murah, ikannya masih segar, ditangkap dengan cara tradisional, dipancing. Karena jumlah kami 10 orang, maka ikan tersebut kami rasa belum cukup, maka Dg Tayang memutuskan untuk mencaroi nelayan yang lain lagi. Nelayan yang kedua yang kami sambangi ternyata tangkapannya masih sangat sedikit, perjalanan kami berlanjut hingga melihat nelayan ketiga dikejauhan. Perahu kami mendekat ke perahu nelayan tersebut, yah tangkapannya sudah lumayan, dengan selembar uang Rp.100.000 ikan yang diberikan ke kami sudah sangat banyak dan cukup untuk kami. Perjalanan di lanjutkan menuju ke Kodingareng Keke.
Wawan dan Ical
Saya seolah menjadi pemandu wisata kepada Arfan dan Riana, tunjuk sana tunjuk sini nama-pulau yang terlihat, meskipun hanya Pulau Samalona yang kami lalui. Arfan adalah teman SMP saya di SLTPN 1 Lilirilau Kabupaten Soppeng ( SMP CABBENG) sedangkan Riana adalah istrinya. Mereka berdua berdomisili di Samarinda, dan dari dialah sehingga perjalanan ini diadakan. Mereka berdua tertarik melihat Pulau Samalona yang saya upload di sosial media Facebook dan Path. Rencana awalnya memang ke Pulau Samalona, tetapi setelah ditimbang-timbang akhirnya kami memutuskan untuk mengambil perjalanan menuju Pulau Kodingareng Keke. Perahu semakin jauh meninggalkan dermaga Popsa, kota Makassar yang kelihatan hanyalah deretan-deretan gedung tingginya yang perlahan mulai menjamur. Pulau Kodingareng Keke sudah semakin dekat, kami bertujuh semakin antusias dan bersemangat. Bagi saya ini adalah ketiga kalinga berkunjung ke Pulau Kodingareng Keke, tetapi antusias saya masih tetap sama waktu pertama kali kesini. Masih terkagum-kagum, masih teriak-teriak ala anak labil, tetapi itulah ekspresi kecintaan saya akan Pulau Kodingareng Keke karena tempat ini adalah Surga yang Tuhan jatuhkan ke bumi.
Snorkling
Perahu milik Dg Tayang perlahan merapat ke tepi pantai Pulau Kodingareng Keke. Dengan mengucapkana salam kami satu persatu menginjakkan kaki di pantai pulau eksotis ini. Pantainya? Tak perlu dipertanyakan, pasirnya pasti putih, airnya beninglah. Sampah? Mana ada sampah di pulau ini. Ada yang berbeda dengan Kodingareng Keke kali ini dengan wakyu kunjungan saya bulan November tahun lalu. Beberapa balai-balai beratapkan terpal biru terlihat meramaikan pulau ini. Kedatangan kami disambut oleh seorang kakek tua, beliau membantu mengangkatkan barang bawaan kami. Suasana pulau masih sepi, sebelumnya hanya kakek tersebut beserta kucing-kucing penghuni pulau yang ada di pulau ini. Belakangan kami ketahui bahwa balai-balai yang dipasangi tenda tersebut didirikan oleh kakek tersebut dan disewakan kepada para pengunjung dengan tarif Rp.50.000 per balai-balai sampai puas. Balai-balainya ukuran 1meter kali 1.5 meter. Karena kami pengunjung pertama maka kami memilih balai-balai yang di tengah-tengah pulau di bawah pohon cemara laut. Kami memilih balai-balai tersebut karena suasananya sejuk, di bawah pohon cemara laut yang rindang.
Arfan dan Riana, Wiwin dan K' Ridho
Pulau Kodingareng Keke serasa menjadi milik pribadi, kami bebas melakukan apapun, hanya rombongan kami dan si kakek penyewa balai-balai tersebut beserta puluhan kucing lucu. Namun private island hanya berlangsung kurang lebih setengah jam. Sekitar pukul setengah sebelas, dua rombongan perahu merapat ke pulau eksotik ini. Satu rombongan memilih balai-balai di dekat balai-balai kami, satunya lagi memilih di sudut pulau yang lainnya. Keriuhan suasana mulai terasa, pulau mulai ramai.
Kucing dan Bintang Laut, 2 binatang yang bikin kangen ingin kembali ke Pulau Kodingareng Keke.
Sekitar setengah jam membereskan barang bawaan kami sambil bersiap-siap untuk snorkling sudah selesai dan kami siap untuk dibawa menuju spot snorkling. Saya memanggil Dg Tayang untuk membawa kami menujuh ke area snorkling, tetapi kata Dg Tayang, temannya yang akan mengantar kami. Sekitar 3 menit kapal menuju ke spot snorkling, si Dg Perahu yang tidak kami tahu siapa namanya menjatuhkan jangkarnya ke dasar laut yang dalamnya kurang lebih 3 meter. Wawan langsung nyebur ke laut, tanpa menggunakan pelampung, maklum dia pintar berenang. Saya baru nyebur setelah memasang pelampung, diikuti K’Ridho. Ical yang awalnya saya kira lihai berenang, ternyata tidak pandai berenang. Kasur angin yang sudah di pompa di pulu tadi langsung dia jatuhkan di samping perahu lalu kemudian dia naik ke kasur angin tersebut. Maka jadilah dia mengapung di atas kasur angin tersebut sambil berselfie ria. Arfan ternyata juga tidak pintar berenang, padahal di Soppeng rumahnya sangat dekat dengan Sungai Walennae, bahkan dia takut melompat karena kedalaman laut kurang lebih 3 meter.
Foto bersama sebelum meninggalkan Pulau Kodingareng Keke
Wawan dan saya sangat menikmati keindahan karang dan ikan warna-warni di bawah sana, sementara Arfan masih mikir-mikir untuk melompat ke laut. K’ Ridho yang saya pikir juga terbiasa, ternyata ini adalah pengalaman pertamanya bersnorkling, bahkan dia tidak tahu menggunakan kacamata snorkling. Katanya air masuk di hidungnya dan susah bernafas, tidak bisa lama-lama snorklingnya. Ternyata pemakaian kacamatanya salah, hidungnya tidak di masukkan ke kacamata snorklingnya, dan pipa udaranya yang terhubung ke mulut ikut tenggelam, jadi yah wajar saja susah bernafas dan air masuk di hidungnya. Arfan akhirnya menyeburkan diri ke laut setelah di ejek oleh Wiwin, dia sangat panik, melarang saya jauh-jauh darinya, dia takut tenggelam ( padahal sudah menggunakan pelampung). Selain K’ Ridho, Arfan juga tidak tahu menggunakan alat snorkling, bahkan dia baru tahu ternyata pelampung itu bisa membuat kita terapung. Ical naik ke atas perahu, menyimpan Handphonenya, lalu mengenakan pelampung, diapun juga ikut nyebur bersama kami. Maka jadilah kami genk snorkling tidak tahu berenang. Wiwin, Riana dan anaknya beserta Dg Perahu setia menunggu kami diatas perahu yang terombang ambing di tengah lautan. Ical, Arfan, dan K’ Rido mulai bisa dan nyaman bersnorkling menikmati keindahan pemandangan bawah laut perairan Pulau Kodingareng Keke. Sementara Wawan asik berenang kesana kemari tanpa menggunakan pelampung, sesekali dia menyelam ke dasar laut mengambil bintang laut yang berwarna biru. Ada dua bintang laut yang dia naikkan ke Perahu untuk mainan anak Arfan. Kami berlima sangat menikmati snorkling, meskipun ada yang kurang, yaitu kamera gopro.
kami yang memilih menjadi hitam dibanding hanya memandangi lukisan yang tergantung di dinding.
Wiwin memberanikan diri turun setelah dibujuk beberapa kali, namun tidak mau lepas dari punggung saya, alasannya takut dan tidak tahu berenang. Memangnya saya pintar berenang?. Saya tidak pintar berenang, hanya modal pelampung, tidak panik dan sudah terbiasa jadi saya sangat menikmati terapung di atas permukaan laut yang kedalamannya kurang lebih 3 meter ini. Tanpa kami sadari jam digital di Handphonenya Riana sudah menunjukkan pukul 12 lebih, kami memutuskan untuk menepi ke Pulau. Selain karena sudah lelah, sengatan mathari sudah semakin terik, kami juga sudah merasa lapar. Semuanya sudah naik ke perahu saatnya menepi ke pulau. Namun ternyata jangkar perahu tersangkut di karang, akhirnya Wawan kembali menyelam untuk melepaskan jangkar tersebut, selanjutnya kami ke Pulau.
aku bahagia
Pulau kian riuh, semakin ramai, nahkan beberapa rombongan tidak kebagian balai-balai. Ikan yang tadi kami beli sudah di eksekusi oleh Dg Tayang, dibakar maksudnya. Tepat sekali, ikan bakar sudah matang, perut kami yang keroncongan, sisa meracik sambal mentah untuk teman ikan bakar tersebut. Sambal sudah siap, saatnya makan. Kami menikmati makan siang sederhana ini secara bersama-sama. Meski hanya nasi putih dan ikan bakar, tetapi ini sangat istimewa bagi kami. Suasana seperti ini sangat mahal harganya bagi kami warga kota. Menikmati santap siang di balai-balai, di alam terbuka tanpa polusi, dengan hembusan angin sepoi-sepoi dan pemandangan laut yang membiru. Siapapun akan merasa tenang dan senang jika berada di pulau ini. Pulau Kodingareng Keke.
aku puas
Angin sepoi-sepoi khas kepulauan seolah membuai kami, setelah menikmati makan siang kami memutuskan untuk bersantai dulu sambil menikmati cemilan yang kami bawa. Kami asyik bercengkrama tanpa kami sadari kalau matahari semakin condong ke barat. Kami mulai berberes-beres, membereskan semua sampah yang kami hasilkan lalu membuangnya ke tempat sampah yang di sediakan di pulau ini, membereskan bawaan kami. Teman Dg Tayang yang tadi mengantarkan kami snorkling datang menghampiri kami, mengajak kami untu segera pulang, katanya Ombak sudah mulai besar. Pukul dua siang lebih kami meninggalkan Pulau Kodingareng Keke dengan sejuta rasa bahagia yang hanya kami yang tahu. Perahu perlahan membelah lautan menuju dermaga Popsa, kedua bintang laut yang tadi diambil oleh Wawan dari dasar laut kami buang kembali ke dalam laut.
aku senang
Yah betul saja, perahu kami di hantam ombak dengan ketinggian ombak antara 50cm hingga 1m. Pakaian kami kembali menjadi basah semua, karena percikan air. Wiwin menutup matanya, tangan kanannya menggenggam erat tangan kanak K’Ridho, pacarnya, sementara tangan kirinya menggenggam tangan saya dengan erat. Arfan memeluk istri dan anaknya supaya tidak panik. Wawan dan Ical tidak menampakkan ketakutannya, sayapun berusaha demikian. Perjalanan yang biasanya hanya sekitar 45 menit berubah menjadi sejam stengah lebih. Perjalanan pulang yang membuat jantung dag dig dug ser, tetapi menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi Arfan dan keluarganya, Wiwin, dan K’ Ridho. Perjalanan yang lumayan menegangkan tetapi tidak ada yang kapok, semuanya masih ingin kesana lagi jika ada rezeki dan umur panjang dari Tuhan.  Pukul stengah empat sore lebih kami tiba dengan selamat di dermaga Popsa meski dengan kondisi basah kuyup, tetapi kami bersyukur. Kami berpisah setelah Arfan mendapat hotel untuk menginap selama beberapa malam di sekitaran Benteng Rotterdam dan Pantai Losari.

Terima kasih Arfan dan Riana sekeluarga, Wiwin, K’ Ridho, Wawan dan Ichal. Sampai jumpa di jalan-jalan selanjutnya. Terima kasih kepada Allah SWT atas lindungannya, Terima kasih Om Dg Tayang yang sudah menjadi langganan setia saya jika ingin menyeberang ke pulau-pulau sekitaran Makassar, Terima kasih Indonesia. 


Trip Pulau Kodingareng Keke, 25 Juli 2015. 


__Achyie Sabang__

Rabu, 08 Juli 2015

Hanya Pemberani Yang Bisa Sampai Di Pulau Sanrobengi




Sekitar sejam lebih setelah melewati jalur Makassar – Barombong, akhirnya tiba juga di desa Boddia. Kami sempat bertanya-tanya dan merasa heran, ada apa yah kok banyak polisi dan tentara di pinggir jalan, orang-orang juga rata-rata berpakian rapi sambil mengenakan ID Card. Pikiran kami semakin bertanya-tanya ketika kami semakin dekat ke dermaga, begitu banyak bendera umbul-umbul berwarna warni, ada apa gerangan?. Di lahan parkir begitu banyak mobil terparkir, awalnya kami mengira ada acara di pulau seberang. Setelah mencari tempat parkir kosong, akhirnya Anto menemukan tempat untuk memarkir mobil yang kami tumpangi. Kami berenam turun, karena gaya kami yang berbeda, ada yang oakai celana pendek, hanya pakai kaos oblong, pakai topi lengkap dengan kacamata anti sinar matahari maka kami tak luput dari perhatian warga dan orang-orang yang lagi ramai di sekitar tempat parkir tersebut.  Kami tidak menghiraukan orang-orang yang menatap aneh kepada kami, kami tetap berlalu berjalan menuju dermaga dengan sambutan umbul-umbul warna-warni yang melambai-lambai tertiup angin seolah mengucapkan selamat datang kepada kami.
umbul-umbulnya untuk menyambut JK dan ibu Susi, tetapi kita lebih duluan yang melewati jalanannya

Dermaga Boddia dengan latar Pulau Sanrobengi di kejauhan

Dermaga agak sepi, mungkin karena perhatian warga dan para nelayan tertuju pada acara di sekitaran dermaga, hanya beberapa perahu tak bertuan yang tertambat di sekitar dermaga. Kami sempat celingak celingukan mencari orang yang bisa kami tempati bertanya tentang ikhwal penyewaan perahu ke seberang. Tidak lama kemudian akhirnya muncul seorang lelaki prauh baya menghampiri kami dan menanyakan maksud kami di tempat itu. Kami pun mengutarakan jika kami hendak ke pulau seberang, tetapi tidak tahu tempat sewa perahu. Ternyata beliau adalah pemilik perahu, lalu kami meminta beliau untuk mengantarkan kami menuju pulau seberang dengan kesepakatan biaya Rp 20.000 per orang untuk pergi dan pulang. Beliau pun mengajak kami menuju ke perahunya, kami sempat kaget setelah melihat perahunya, sungguh di luar expektasi kami. Pikir kami perahunya seperti halnya dengan perahu yang di Makassar yang melayani penyeberangan yang bisa muat sekitar 10 orang. Perahu yang akan kami tumpangi hanya perahu nelayan, perahu yang bisa memuat paling banyak 3 orang penumpang dan satu tukang perahunya. Perahu itu lebarnya mungkin sekitar 40-50 cm, tetapi diakali dipasangi tempat duduk yang mirip balai-balai di samping kiri kanannya, maka jadilah penumpang duduk di balai-balai tersebut berhadapan. Karena perahu hanya bisa memuat 3 orang maka kami sepakat, Asty, Anto dan Fachry yang berangkat duluan, saya, Sabri dan Kina berangkat belakangan.
Perahunya membuat jantung dag dig dur ser
Jarak antara dermaga Boddia dengan Pulau Sanrobengi mungkin  kurang lebih 1 KM dengan waktu tempuh menggunakan perahu tadi atau masyarakat sekitar menyebutnya ojek laut kira-kira sekitar 10-15 menit jika ombak bersahabat. Namun jika ombak tidak bersahabat, bisa saja para pemilik perahu tidak berani menyeberangkan penumpang. Jika kita berdiri di dermaga Boddiah, sangat jelas kelihatan Pulau Sanrobengi di seberang. Pulau Sanrobengi merupakan salah satu pulau gugusan kepulauan Spermonde yang secara administratif terletak di Desa Boddia, Kecamatan Galesong, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Pulai berpasir putih ini sangat sejuk, karena di tengah-tengah pulau terdapat banyak pepohonan yang tumbuh rindang. Pulau ini juga dihuni oleh beberapa keluarga. Pulau ini di kelilingi oleh pantai berpasir putih yang landai, bagus untuk berenang melepas penat, menurut yang kami baca di artikel-artikel online, pulau ini juga surganya untuk melihat bintang laut, tetapi waktu kami daatang, kami tidak beruntung, kami tidak melihat bintang laut, mungkin karena kami tidak bersnorkling.
Pulau Sanrobengi dengan view di google maps
Saat kami tiba di pulau ini, pengunjung sudah bejibun, ramai dan riuh. Balai-balai yang disediakan semuanya sudah full, diisi oleh beberapa rombongan keluarga yang datang berlibur melepas penat di pulau ini. Kami memutuskan untuk mencari tempat di bagian belakang pulau, tetapi hasilnya nihil, semuanya sudah terisi. Akhirnya kami memilih duduk di pinggir pantai yang agak teduh sambil menikmati pemandangan laut dihadapan kami sembari menikmati cemilan dan langsat yang kami bawa dari daratan Takalar. Asty, Anto, Sabri, Sakina dan Fachry memilih bercengkrama di bawah naungan pohon besar tersebut, sementara saya sudah siap berenang di pinggir pantai berpasir putih ini. Teriknya matahari tak membuat saya urung untuk berenang ditambah dengan jernihnya air. Perpaduan antara pasir putih, jernihnya air, birunya laut dan langit merupakan pemandangan yang sangat indah yang sangat sayang jika tidak diabadikan dengan mengambil beberapa gambar. Setelah selesai beranang, saya kembali bergabung dengan mereka. Karena matahari sudah agak condong kebarat maka tempat kami berteduh sudah mulai panas. Kami memutuskan untuk pindah ke tengah-tengah pulau untuk bersantai. Mencari tempat yang bisa kami tempati untuk duduk lesehan. Setelah berkeliling menikmati riuh-rendahnya suasana pulau ini akhirnya kami menemukan satu balai-balai milik warga yang kosong, setelah meminta izin, kami langsung menempati balai-balai tersebut. Suasananya sangat sejuk, karena terletak di bawah pohon yang tumbuh rindang. Kami melanjutkan menikmati cemilan yang kami bawa, hitung-hitung mengurangi beban yang kami bawa pulang.
Tiba dengan selamat di Pulau Sanrobengi

Berlibur, Berwisata dan Berziarah paket komplit Pulau Sanrobengi

Selain berlibur kami juga mendapatkan satu rombongan keluarga yang mungkin sekitar 50 orang datang ke pulau ini untuk bersiarah di sebuah makam yang terletak di tengah-tengah pulau ini. setelah melakukan siarah dan beberapa ritual serta membawa sesajen persembahan, selanjutnya rombongan tersebut mencari tempat untuk bersantap bersama dengan keluarga mereka. Makam tersebut terletak tidak jauh dari balai-balai yang kami tempati, Anto sempat menghampiri seorang ibu yang menjadi penjaga makam tersebut. Selain itu di samping balai-balai terdapat sebuah musholah, namun musholah tersebut tidak bisa kami masuki untuk shalat dhuhur karena terkunci. Sembari bersantai saya melihat foto-foto yang ada di smartphone milik Sabri, karena iri dengan fotonya Asty, maka saya mengajak Sabri untuk kembali ke sebuah spot di dekat kami bersantai sebelumnya tadi dipinggir pantai. Spot itu sebenarnya pinggir pantai biasa, namun yang mebuatnya unik karena ditumbuhi rumput yang kami tidak tahu apa namanya. Bentuk rumputnya pun sangat unik, daunnya mirip rumput biasa, seperti alang-alang, namun bunganya mirip bulu babi, seperti jarum yang ditusukkan pada sebuah pusat dan mebentuk pola tiga dimensi seperti bola. Perpaduan antara warna kuning kehijauan dari rumput tersebut dan birunya langit sangat sayang jika tidak berfoto di spot itu.
air yang jernih, pasir yang putih, pantai yang landai, sayang kalau tidak bermain air

inilah alasannya kenapa suka pakai baju merah kalau main ke pantai, karena merah dan biru itu serasi

Puas berfoto dengan latar tersebut kami kembali ke balai-balai di tengah pulau. Tak lama sesampai kami di balai-balai tersebut, akhirnya pemilik perahu datang menghampiri kami. Setelah berbenah dan mengucapkan terima kasih kepada ibu yang punya balai-balai tersebut kami menuju ke bagian depan pulau, tempat bapak tersebut menambatkan perahunya. Seperti semula hanya 3 orang yang bisa dimuat oleh perahu, jadi Anto, Asty dan fachry yang berangkat duluan, saya, Sabri dan Sakina menunggu untuk pemberangkatan selanjutnya. Sekitar stengah jam berlalu, bapak tersebut kembali menjemput kami. Perahu kecil ini yang panjangnya tidak lebih dari 3 meter dengan lebar stengah meter namun sduah dimodifikasi membawa kami menuju daratan takalar kembali. Melalui wawancara singkat kami dengan bapak tersebut, kami akhirnya mendapat jawaban dari pertanyaan kami. Ternyata besok akan datang Wakil Presiden Ri, bapak HM Jusuf Kalla aka JK bersama ibu mentri kelautan Ibu Susi Puji Astuti.
Padang rumput bulu babi, spot paling keren di Pulau Sanrobengi

sayang pemandangannya kalau tidak difoto

Sesampainya kami di daratan, kami langsung membayar ongkos perahu kami, 120.000 untuk 6 orang sambil mengucapkan terima kasih. Asty, Anto dan Fachry tidak kelihatan di sekitaran dermaga, pikir kami mungkin langsung ke mobil, sehingga kami langsung menuju mobil. Namun sebelum tiba di mobil kami menemukan ketiga orang tersebut lagi asyik menikmati santap siang di sebuah ruangan. Mereka memanggil kami masuk ke ruang tersebut, tanpa basa-basi kami langsung masuk, karena melihat makanan, kami sudah lapar dari tadi. Kami sempat kaget setelah menyadari di dalam ruangan tersebut ada seorang tentara TNI AL, kami bertiga langsung menyalami dan berkenalan dengan bapak tersebut. Dari papan namanya kami tahu jika nama beliau adalah bapak Anton. Beliau mempersilakan kami mengambil nasi dos yang ada di sudut ruangan tersebut, beliau juga menginfokan bahwa sayurnya sudah mulai masam. Mungkin sayurnya masam karena sedari waktu makan siang dan dibungkus panas, sekarang sudah hampir pukul 2 siang.  Kami bertiga langsung menikmati nasi dos tersebut, semuanya terasa enak mengingat kondisi kami yang memang sudah lapar, gratis pula. Kami sempat berbincang-bincang dengan beliau tentang pulau Sanrobengi, beliau juga mengajak kami melihat foto-foto perjalanannya di Pulau Satanga, beliau merekomendasikan pulau tersebut untuk kami kunjungi. Sekitar setengah jam di ruangan Pak Anton, kami memutuskan pamit, namun sebelum pamit kami sempat mengajak beliau berfoto bersama. Setelah berterima kasih, kami meninggalkan ruangan Pak Anton lalu menuju mobil,  dan selanjutnya menuju kota Makassar.
bersama pak Anton, kepala post penjagaan TNI AL desa Boddia, Kec. Galesong, Kab. Takalar, Sulawesi Selatan

Alhamdulillah makanan gratis, jika lapar semuanya terasa enak

Terima kasih kalian sahabat, Asty, Anto, Sabri, Fachry dan Sakina. Terima kasih Pak Anton. Terima Kasih Warga Pulau Sanrobengi, Terima kasih Tuhan atas alam Indonesia yang sangat indah ini. Alhamdulillahi rabbil alamin, sampai jumpa di cerita selanjutnya.

Perjalanan ke Pulau Sanrobengi pada tanggal 10 Mei 2015

__Achyie Sabang__

Jumat, 01 Mei 2015

Air Terjun Lacolla : Karena Rasa Penasaran Itu Harus Dituntaskan.



Lacolla. Kata itu pertama kali saya baca di sosial media twitter tahun lalu. Ternyata itu nama salah satu air terjun yang ada di Kabupaten Maros. Tidak ingin terlalu larut dalam rasa penasaran, saya mencoba mencari di Google.com, dan akhirnya muncullah beberapa gambar air terjun yang bersusun-susun. Sangat indah dan cantik, saya terpesona. Puas melihat-lihat gambarnya, saya mencoba mencari infonya dengan penelusuran web. Tidak lama muncul beberapa artikel yang membahas tentang air terjun Lacolla, saya coba buka satu persatu, ternyata pembahasannya tidak terlalu memadai. Satu kata yang timbul “PENASARAN”.


Berbekal dari informasi yang saya dapatkan dari beberapa teman di sosial media Instagram dan  Facebook yang akhir-akhir ini ramai membahas Lacolla, saya merencanakan untuk mengunjungi Lacolla. Menjawab beberapa tanya yang sering muncul di benak saya dan mengobati rasa penasaran saya yang semakin subur gara-gara melihat postigan beberapa teman di Instagram. Hari Minggu, tanggal 26 April 2015 merupakan hari yang saya dan teman-teman saya rencanakan untuk mengunjungi Air Terjun Lacolla. Dan hari itu telah tiba. Dari koordinasi terakhir ada  8 orang yang acc untuk berangkat, Saya, Asty, Aswan, Insar, Icchank, Kamal, Fachry, dan Echa. Titik kumpul di Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, namun Insar dan Icchank akan bergabung di Sudiang nanti.

Perjalanan di mulai dari titik kumpul di Kampus Universitas Hasanuddin, saya, Aswan, Echa , Asty, Fachry dan Kamal. Perjalanan kami ke arah utara menuju Kabupaten Maros, kabupaten yang berbatasan langsung dengan Kota Makassar. Di Sudiang, Insar dan Icchank bergabung bersama kami, dengan mobil berbeda. Perjalanan di lanjutkan hingga memasuki kabupaten Maros. Tidak terlalu lama untuk tiba di Kota Maros, ibukota kabupaten, Echa menyalakan weser kanan di pertigaan Maros - Bone dan Maros Pangkep. Selepas kota Maros, memasuki Kecamatan Bantimurung, kami disuguhkan dengan landscape pemandangan yang memanjakan mata, landscape berupa hamparan sawah dengan padi yang mulai menguning serta kawasan Karst Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.


Sudah hampir 30 menit kami meninggalkan kota Makassar, sekarang sudah masuk di Kecamatan Cenrana. Di rombongan ini hanya saya dan Kamal yang memiliki sedikit gambaran tentang jalur  menuju Lacolla, dan itupun gambaran yang agak kabur. Daripada tersesat, mendingan singgah bertanya. Seorang bapak-bapak yang duduk santai diteras rumahnya menjadi target kami, dengan memasang muka ramah, saya bertanya pada beliau tentang jalan menuju Lacolla. “ Terus-terus sampai dapat pasar Cenrana dan sekolah, tidak jauh dari situ ada tulisan ‘Gerbang Emas’, disitu nanti belok kanan”. Berbekal info dari beliau, perjalanan kami lanjutkan hingga mendapat tanda-tanda tersebut. Sebuah papan dengan dua tiang di sebelah kanan bahu jalan bertuliskan “GERBANG EMAS”, dan saya tidak membaca tulisan yang lainnya lagi, hahahaha. Weser kanan menyala, rtandanya mobil akan berbelok ke arah kanan.

Perbedaan sangat mencolok setelah berbelok ke kanan, jalan yang tadinya aspal mulus kini berganti menjadi jalan yang hanya berupa pengerasan yang dilapisi batu gunung. Medan yang menantang, echa melambatkan laju kendaraan, karena kondisi jalanan yang tidak memungkinkan untuk memacu kendaraan dengan laju yang tinggi. Hanya beberapa rumah yang ada di sisi kanan dan kiri jalan, setelahnya itu yah hutan. Sepuluh menit berkendara, teman-teman yang lain mulai bertanya ke saya “Aci’ dimanakah sebenarnya?, mauki’ kemana ini, mana ndada lagi jaringan”. Saya hanya tersenyum sembari menjawab “yah mauki’ ke Lacolla toh, ndag takutjaka tersesat kalau sama kalianji”. Echa mulai gusar karena bensin mobil sudah hampir habis. Serasa dunia saya jungkir balik, arah yang tidak jelas, bensin yang hampir habis, di tengah hutan dan tidak ada jaringan untuk berkomunikasi melalui telpon genggam. Tetapi saya kembali meyakinkan teman-teman, bahwa jalur yang kami tempuh sudah benar, mengingat papan penunjuk yang tadi di bahu jalan. Aswan memberikan solusi, singgah bertanya, tetapi solusinya itu membuat saya tertawa dalam hati, bagaimana caranya singgah bertanya jika kita di tengah hutan, tidak ada orang selain kami. Saya tidak tahu persis dengan apa yang terjadi di mobilnya Insar, apakah mereka menyesal ikut atau bagaimana, atau selalu bertanya kapan sampainya. Masih dengan suasana tidak tahu arah, bensin yang mulai menipis, kami berpapasan dengan sebuah mobil yang dikendarai oleh seorang laki-laki paruh baya. Niatnya ingin bertanya tetapi muka orang tersebut sangat garang dan seolah-olah tidak berpapasn dengan kami, tidak ada ekspresi, tidak ada klakson antara kami dan dia, dia hanya berlalu saja.


Kami mulai yakin jika jalan yang kami lalui sudah benar setelah berpapasan dengan bapak tersebut, dan tidak lama kemudian kami berpapasan lagi denan seorang pengendara motor, kami memutuskan tidak bertanya lagi karena kami yakin ini jalur yang benar. Ada motor ada mobil yang keluar, artinya di dalam ada kampung, dan pasti ada penjual bensin. Akhirnya semua masalah hampir terpecahkan dengan solusi yang kami terka-terka. Setengah jam terguncang-guncang di tengah hutan, dikejauhan kami melihat sebuah atap rumah, dan perlahan kami melihat beberapa rumah, akhirnya kami bisa bernafas lega, akhirnya kami bisa singgah untuk bertanya.


Sesampainya di depan rumah tersebut, saya singgah bertanya pada pemilik rumah itu, dari beliau kami mendapat informasi jika lokasi Air Terjun Lacolla masih di atas lagi, sekitar 2 KM. Semangat kami untuk tiba di Lacolla semakin bertambah, setelah berterima kasih kami melanjutkan perjalanan, meninggalkan perkampungan yang mungkin hanya sekitar 10 rumah tersebut, kembali kami melewati jalan dengan pemandangan hamparan sawah yang padinya sudah mulai menguning, pemandangan sawah khas perbukitan, sawah yang bersusun-susun. Beberapa menit kemudian kami menemukan perkampungan lagi, dan di perkampungan ini ada penjual bensin, betapa senangnya kami. Akhirnya kami batal dorong mobil, akhirnya kami batal menginap di hutan. Harga 1 liter bensin disini Rp.9.000, kami mengisinya 5 liter, harga bukan lagi masalah bagi kami, daripada harus menginap dihutan atau dorong mobil, kan tidak lucu. Beli bensin sambil cari informasi. Masih di atas lagi kata ibu penjual bensin itu.

Jalanan beralih dari pengerasan batu gunung menjadi pengerasan beton, ternyata program PNP Mandiri sudah masuk disini. Tidak lama kami mendapatkan batas desa antara Desa Cenrana Baru dan desa sebelumnya yang kami tidak tahu namanya. Itu artinya lokasi semakin dekat. Dan kami bersorak kegirangan ketika dikejauhan terlihat sebuah perkampungan, ada Sekolah, dan ada Menara Mesjid. Dan tidak lama kemudian kami melewati sebuah gerbang yang di cat berwarna kuning keemasan, dan itulah “GERBANG  EMAS” yang dimaksud papan yang diluar sana tadi. Sesampainya di pusat desa, kami sisa mengikuti papan arah yang bertuliskan “WISATA LACOLLA” yang dibuat oleh mahasiswa KKN UNM tahun 2014, dan itu sangat membantu. Perjalanan kami terhenti di ujung jalan pengerasan. Karena sesuai info yang saya dapat dari teman di Facebook disitulah kami harus memarkir, karena jalanan selanjutnya masih jalanan tanah yang agak becek.


Mobil kami simpan di tempat parkiran tersebut. Saatnya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, kira-kira sekitar 100 meter, kami mendapatkan papan penunjuk arah lagi. tak lupa singgah untuk berfoto selfie, kondisi jalan masih rata. Puas berselfie, kami melanjutkan perjalanan, dan kondisi jalan mulai menurun, jalanan menurun, dan berkelok-kelok dengan kondisi tanah yang agak gembur, mungkin dikarenakan oleh hujan yang baru turun. Setelah berjalan kaki hampir 10 menit riuh air terjun mulai kedengaran, semakin dekat semakin jelas. Kami melewati air terjun yang tinggi dengan suara gemuruh itu, kami terus mengikuti jalan setapak, ternyata hanya air terjun mini setinggi kurang lebih 1 meter. Kami sempat kecewa karena ternyata tidak sesuai yang kami harapkan, tetapi tak kami lewatkan untuk tetap selfie dan foto-foto pada bongkahan batu yang besar-besar tersebut. Kami akhirnya memutuskan untuk turun ke air terjun yang gemuruh itu. Medan menuju air terjun utama lumayan sulit, agak curam dan licin jadi harus berhati-hati. Tetapi setelah sampai di dekat dan bisa melihat langsung, hanya satu yang bisa saya ucapkan. “SUBHANALLAH, Maha Besar Allah dengan segala ciptaannya”.


Air Terjun Lacolla, terletak di Desa Cenrana Baru, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Berjarak kurang lebih 70 KM dari Kota Makassar, dengan waktu tempuh antara 2 hingga 2 stengah jam. Air Terjun dengan ketinggian hampir 20 meter, dengan lebar kurang lebih 10 meter, dan bertingkat 5 ini sungguh sangat indah dan cantik. Seluruh peluh dan rasa perjuangan terbayarkan, dan yang pastinya rasa penasaran menjadi hilang. Kecantikan dan keindahannya memanjakan mata, riuh airnya yang jatuh menjadi symphony yang memanjakan telinga, serta airnya yang dingin mampu memanjakan kulit yang lelah selama perjalanan. Sebelum beraksi, kami mengisi perut dulu dengan bekal yang kami bawah dari Makassar, makan siang ramai-ramai di balik bongkahan yang sangat besar di pinggir aliran air sangat terasa nikmat. Waktu kami datang, airnya lumayan besar, sehingga saya agak takut untuk main air, tetapi beberapa teman yang lain sempat main air, Kamal, Fachry, Insar, Echa sempat main air sampai puas. Sementara kami yang lain hanya berfoto dan menikmati keindahan Lacolla. Kurang lebih 3 jam bercengkrama, kami memutuskan untuk kembali. Jarum jam menunjukkan pukul 3 sore, kami berkemas untuk pulang. Setelah memastikan sampah kami tidak ada yang tertinggal, kami meninggalkan air terjun Lacolla dengan perasaan bersyukur dan sangat puas. Perjuangan dimulai kembali untuk menaklukkan jalur menuju tempat mobil parkir, kondisi jalan 80% mendaki, dengan nafas yang ngos-ngosan, kurang lebih 10 menit akhirnya kami tiba di tempat mobil parkir. Dan kini saatnya kami kembali ke Makassar.