Tampilkan postingan dengan label Amazing Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amazing Nusantara. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Maret 2018

Malam di Labuan Bajo, Tentang Kampung Kuliner Kampung Ujung dan Kain Flores

Puas menikmati sunset di Kafe Paradise, kami berempat kembali menuju ke hotel. Kebetulan letak hotel kami berada pas di kampong kuliner Kampung Ujung, jadi sebelum masuk hotel, kami mampir dulu untuk makan malam. Kampung Kuliner Kampung Ujung agak mirip dengan Pantai Losari sebenarnya. Penjualnya berderet dari ujung ke ujung di pinggir pantai, sama-sama buka pada malam hari saja. Bedanya, jika di Pantai Losari kulinernya berupa pisang epe, sedangkan di Kampung Ujung semuanya menjajakan makanan laut, ikan yang segar-segar, lobster, udang dan tak ketinggalan ayamnya juga.
Ikan Cepa dan Ikan Kakap bakar ala Kampung Kuliner Kampung Ujung
Kami memilih salah satu stand yang pengunjungnya tidak terlalu ramai, agar kami bisa bebas. Sebelum memilih tempat duduk, pertanyaan pertama yang kami ajukan adalah, “ada jeruk nipis?”. Kenapa mesti harus ada jeruk nipis? Karena orang Makassar makan ikan bakar atau apalah tidak lengkap rasanya jika tidak ada jeruk nipis. Orang Makassar pasti setuju. Jika pengunjung tidak terlalu ramai, selain bebas bergerak otomatis pesanan pasti cepat selesai. Dan betul, tidak perlu menunggu lama, pesanan kami langsung dihidangkan, 2 ikan bakar jumbo, kakap dan cepa terhidang di hadapan kami. Sangat menggoda. Perut yang langsung keroncongan dan liur yang semakin encer melihat ikan bakar tersebut membuat kami langsung menyantapnya. Kami berempat kewalahan menyantap kedua ikan jumbo tersebut. Rasanya betul-betul membuat lidah menari-nari. Banyak yang bilang, tidak afdol ke Labuan Bajo jika tidak mengunjungi dua tempat di Kota tersebut, yakni, Kampung Kuliner Kampung Ujung dan Kafe Paradise. Dan betul sekali pendapat tersebut, karena di kedua tempat itu, kita betul-betul dimanjakan. Satu tempat memanjakan mata dan satu lagi tempat memanjakan lidah. Satu lagi fakta dari kampong ujung, harga makanannya murah dan bersahabat, penjualnya juga rata-rata perantau dari Sulawesi Selatan.
Ekspresi sudah lapar, tetapi disuruh untuk selfie

Mata sudah puas, perut juga sudah puas, saatnya kembali ke hotel untuk bersih-bersih dan istirahat. Namun ketika keluar dari tempat makan, kami dihadang oleh beberapa orang penjual kan khas Flores. Awalnya kami tidak tertarik karena sudah lelah, dan gerah seharian jalan terus. Tetapi karena kegigihan para penjual kain tersebut akhirnya kami melirik juga, dan kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh mereka untuk menunjukkan semua dagangannyan. Mulai dari Blanket tenun Flores, syal dan ikat kepala. Kainnya cantik-cantik dan unik ternyata, harganya? Unik juga, Rp.350.000 per lembar. Dengan proses tawar menawar satu kain blanket saya dapat dengan harga Rp.200.000. Kegigihan Mitha dalam menawar membuatnya mendapatkan kain yang lebih murah lagi dibanding saya, 1 blanket dan 1 syal di dapat dengan harga Rp.200.000. Uncle Japh dan Topan masih belum tertembus benteng pertahanannya. Kain sudah kami dapat, kami berempat langsung menuju hotel. Ternyata kami diikuti oleh seorang penjual kain lagi menuju lobby hotel, dan  distu terjadi lagi proses tawar menawar yang sengit antara Uncle Japh, Mitha dan Penjual kain tersebut. Dari kain harga Rp.300.000 dia dapatkan menjadi Rp.100.000. Lumayan juga mereka menawar.
Kain hasil buruan Mitha, Rp200.000, kain kualitas terbaik dan inklud syal
Selesai proses pembelian kain untuk oleh-oleh dan pribadi kami menuju kamar, untuk istirahat dan bersih-bersih diri. Rasa kantuk, lelah sirna setelah air hangat mengguyur tubuh kami, seolah kantuk dan lelah terbawa oleh air hangat yang mengguyur tubuh kami. Saya melihat kain saya, kain tersebut saya belikan untuk ibu saya, rasanya kurang deh untuk tante saya dan ketiga kakak perempuan saya. Saya memutuskan untuk turun dari hotel sendiri mencari penjual kain. Harga penawaran dari seorang penjual kain yang saya panggil masih sama, Rp.350.000 untuk kain dengan kualitas terbaik, sedangkan kualitas nomor dua dia tawarkan Rp.300.000. Tanpa basa-basi, saya mengatakan saya ingin mengambil 4 lembar, jadi total penawaran si bapak Rp.1.400.000. saya langsung menawar Rp.500.000 untuk 4 lembar kain kualitas terbaik. SI bapak mentah-mentah menolaknya, dia menurunkan menjadi 1,2 juta, saya tetap keukeh pada penawaran saya. Turun, turun, dan turun hingga dia patok harga mentok Rp.800.000. sekali Rp.500.000 tetap Rp.500.000, itu prinsip saya. Dengan modus penawaran umumnya, berpura-pura pergi, lalu si bapak berteriak tujuh setengah, saya tetap melangkah tanpa menoleh, lalu turun tujuh ratus. Dalam hati saya, yes sedikit lagi. Sekali lagi tanpa menoleh, hingga si bapak berteriak, OK ambil Rp.500.000 4 kain, silakan dipilih. Dengan secepat kilat saya berbalik menoleh, tanpa menyia-nyiakan saya langsung memilih 4 kain yang saya incar, 2 biru, 1 merah dan 1 hijau. Fix, Rp.500.000 untuk 4 kain. Rekor saya dalam menawar, dari harga Rp.1.400.000 hingga turun ke Rp.500.000. hahahah, ibu-ibu kompleks lewat. Sesampainya di hotel lalu memperlihatkan ke Mitha, Uncle Japh dan Topan hasil perburuan saya, satu kalimat dari mereka, “Gila”, kuat banget nawarnya”.
Rp.700.000 untuk 5 Lembar Kain Blanket Khas Flores
Sesuai rencana awal, setelah mandi, rencananya langsung istirahat, agar besok bisa fit untuk mulai trip sailing Komodo. Tetapi karena kebiasaan kami sebelum ke Labuan Bajo, yang suka dan rajin begadang, mata kami belum bisa diajak untuk berkompromi agar bisa terpejam di pukul 9 malam, kami memutuskan mencarikafe terdekat untuk menikmati malam di Labuan Bajo. Kafe terdekat sekitar 100  meter dari hotel, kami memilih kafe tersebut sesuai rekomendasi teman yang pernah ke Labuan Bajo. View kafe tersebut lumayan keren, tak ada pengunjung, bebas memilih mau duduk dimana. Lagi-lagi kopi Flores menjadi pilihan kami. 3 kali dalam sehari, kopi Floresnya. Tetapi sayang kafenya hanya beroperasi sampai pukul 11.00 malam, jadi mau tidak mau, kami harus angkat kaki sebelum pukul 11.00 malam. Kami kembali ke hotel untuk betul-betul istirahat agar besok kembali fit untuk memulai petualangan kami yang sesungguhnya.
Malam di Labuan Bajo, Yang Tengah memakai syal baru.

Minggu, 04 September 2016

Batu Siping Jeneponto, Karena Jeneponto Bukan Hanya Tentang Garam Dan Gantala Jarang

          Lelah masih tergurat di wajah-wajah kami saat memasuki Kota Jeneponto, selain karena ngantuk juga karena lapar. Sudah setengah hari kami menikmati aam Jeneponto. Kami memutuskan untuk mencari tempat makan yang terdekat. Kami memilih sebuah warung jawa karena tergiur dengan menu yang ditawarkan di depan warungnya. Kami berlima langsung masuk dan memesan makanan sesuai selera kami. Harga menunya hampir rata,Rp.13.000. 3 Nasi Goreng, 1 Mie Pangsit dan 1 Mie Goreng semuanya hanya Rp 65.000. Tak berselang berapa lama, menu pesanan kami langsung datang, kami menyantap dengan lahap. Perkara enak atau tidak enak itu urusan belakangan, yang jelas lambung terisi dulu. Sekitar 30 menit di warung Jawa tersebut, akhirnya kami memutuskan untuk cabut menuju ke lokasi yang akan kami tuju. 

          Waktu masih menunjukkan pukul 2 siang saat kami meninggalkan warung Jawa tersebut. Dan kini terjadi pergantian sopir, Icha yang menggantikan Wawan untuk mengemudikan mobil. Kami memutuskan untuk singgah sejenak beristirahat di emperan Mesjid Agung Kabupaten Jeneponto untuk menuntaskan lelah yang masih tersisa. Emperan mesjidnya lumayan bersih sehingga bisalah untuk beristirahat sejenak. Saya, Andang dan Wawan langsung merebahkan diri di emperan tersebut, disamping beberapa orang yang juga rebahan. Angin sepoi-sepoi yang berhembus seakan-akan membuai kami bertiga untuk tertidur sejenak, sementara Icha dan Debie lebih memilih untuk istirahat di dalam mobil. Kira-kira sejam lebih kami istirahat dan kondisi kami lumayanlah dibanding sebelumnya, sehingga kami memutuskan untuk beranjak dari emperan mesjid ini. Kembali Wawan yang mengemudikan mobil, karena kondisinya sudah lumayan fit. Untuk tiba di lokasi yang akan kami tuju, kami memutuskan untuk menggunakan google map, meskipun kadang arahannya tidak sesuai. Daripada nyasar, mending singgah bertanya pada warga sekitar. Bermodalkan senyum manis, saya langsung menyapa beberapa orang yang sedang asyik bercerita di pinggir jalan sambil memandikan kuda mereka. Mereka mengarahkan kami untuk masuk melalui Lorong Bisoli, karena jika melewati lorong ini, agak jauh dan jalanan jelek. Dengan ucapan terima kasih dan senyuman manis, kami pamit dan langsung cabut menuju ke lokasi yang akan kami tuju.
     Dengan bantuan google map, kami bisa menemukan Lorong Bisoli, sesuai arahan warga tadi, kami langsung masuk lorong tersebut, sekitar 100 hingga 200 meter, rumah-rumah masih agak ramai dipinggir jalan, tetapi semakin masuk dan semakin masuk kondisi menjadi semakin sepi. Bahkan untuk menemukan orang yang bisa kami tempati untuk bertanya sangat susah. Jalanan pun semakin rusak, dan tentunya semakin sepi pula karena melewati hutan jati. Di tengah jalan kami bertemu dengan seorang remaja laki-laki yang baru pulang dari menggembalakan sapinya. Kami langsung meminggirkan mobil, dengan maksud untuk bertanya, tetapi raut wajah remaja tersebut langsung berubah menjadi ketakutan. Dengan senyum manis saya langsung bertanya pada dia, dan dia menjawabnya dengan menggunakan bahasa Makassar yang sebagian besar saya tidak mengerti, kecuali kiri dan kanan yang saya tahu. Kami berlima hanya langsung tertawa, mengingat informasi yang kami dapat semakin membuat kami menjadi tambah bingung. Kebingunagn kami akhirnya terpecahkan ketika kami menemukan simpang tiga ke arah kanan, setelah memelankan mobil dan membaca apa yang tertulis dibalik spanduk tersebut. Wawan langsung mengarahkan mobil bereblok kanan menyusuri lorong keil tersebut. Lorong tersebut hanya berupa jalanan tani, belum ada sentuhan aspal atau kerikilpun pada jalanan tersebut, hanya berupa tanah dan batu pengerasan alias jalan rintisan. Kami berlima hanya bisa bertanya-tanya dimanakah akhirnya kami harus berhenti. Jalan rintisan ini, terletak ditengah-tengah hutan jati yang lumayan rapat, sehingga agak gelap dan terkesan mistis. Ditengah-tengah kebingungan kami, kami melihat disekitaran ladang jagung milik warga ada dua minibus yang terparkir, saya langsung menunjuk mobil itu dan mengatakan kita sudah hampir sampai. Kami berlima turun saat mobil sudah terparkir sejajar dengan dua mobil tersebut. Seorang penjaga areal parkiran langsung menyambangi kami dan mengarahkan  serta menujukkan kami jalan untuk ke tempat yang kami tuju.


          Lokasi yang kami tuju adalah sebuah spot yang baru dibuka untuk umum pada bulan Juli kemarin. Yakni sebuah kawasan batu karst yang bernama Batu Pondo, atau warga lokal menyebutnya dengan nama Batu Siping. Spot ini agak mirip dengan Rammang-Rammang yang ada di Kabupaten Maros. Tetapi pembedanya adalah, Rammang-Rammang berlatar gunung dan areal persawahan, sedangkan Batu Siping berlatar tambak ikan dan daerah pesisir. Untuk sampai pada spot Batu siping, dari parkiran kami harus berjalan kaki kira-kira sekitar 300 meter, melewati pematang ladang jagung warga dan pematang tambak ikan. Awalnya kami mengira bahwa di dalam pasti sepi, karena hanya ada dua mobil yang terparkir, tetapi melewati ladang jagung, ternyata disini ada lahan kosong yang dijadikan areal parkir motor, dan ada puluhan lebih motor yang terparkir. Kami berlima menyusuri pematang empang, dan hanya berelang beberapa menit penampakan Batu Siping sudah ada di depan mata, kami mempercepat serta memanjangkan langkah kami agar bsa cepat sampai di lokasi sekitar Batu Siping. Batu Siping ini agak mirip batu-batuan karang yang terbentuk mungkin dalam ratusan bahkan ribuan tahun sebelumnya melalui proses alam. Maha Besar Tuhan Sang Pemilik Semesta. Kami hanya bisa berdiri sejenak sambil melongo menyaksikan keindahan yang disuguhkan oleh alam melalui Batu Siping ini. Batu-batu nya rata-rata berukuran besar, dan terleta ditengah-tengah empang. Luas kawasan ini mungkin sekitar beberapa hektar, kami tak tahu pasti karena kami tak menjelajahi semuanya. 

          Sambil menikmati pemandangan dan keindahan alam ini, tak lupa kami juga mengambil beberapa gambar, bahkan kadang harus bertingkah konyol untuk mengambil sebuah gambar. Ada spot yang kami tempati berfoto, yang memaksa saya dan Icha untuk turun ke dalam empang dengan lumpur setinggi betis agar bisa sampai pada spot yang kami inginkan. tetapi kami baru menyadari bahwa sebenarnya ada cara untuk sampai ke tempat Icha duduk tanpa harus turun berlumpur-lumpur ria. Alhasil kamipun berlima tertawa terbahak-bahak menertawakan kekonyolan kami. Seperti kata-kata yang banyak beredar di sosial media, bahwa dibalik foto yang keren ada fotografer yang tersiksa, nah disini yang berlaku adalah, dibalik pose yang keren ada cerita konyol dan terkesan bodoh. Tetapi yah itulah yang menjadikan trip kami lebih berkesan dan meninggalkan kisah lucu, yang mungkin kelak akan kami ceritakan kepada generasi kami selanjutnya. Sampai perut kami menjadi sakit gara-gara kebanyakan tertawa. Puas menertawakan kekkonyolan kami, kami memutuskan untuk beranjak ke spot yang lain. Kami memilih spot yang berupa batu lebar yang terletak ditengah-tengah empang untuk berfoto-foto sambil menunggu sunset. 

          Batu Siping terletak di Desa Garassikang, Kecamatan Bangkala Barat, Kabupaten Jeneponto. Berjarak sekitar kurang lebih 7 KM dari poros Takalar Jeneponto, terletak di sebelah Barat ibukota Jeneponto atau sekitar satu jam lebih perjalanan dari Kota Jeneponto. Sedangkan jika dari Kota Makassar mungkin hanya butuh waktu sekitar dua jam setengah. dengan kondisi jalan yang lumayan bisa membuat orang hamil lahiran prematur jika sudah masuk di Lorong Bisoli. Tetapi apaun itu kami tetap puas, kami tetap senang, kami tetap bahagia. Rasa penasaran kami sudah terjawab dan Tuntas.

Puas menikmati atraksi matahari terbenam, kami memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju ke Kota Makassar. Kami bahagia, kami senang, kami cinta Indonesia dan bangga terlahir sebagai orang Indonesia. Indonesia itu Kaya tempat keren, ngapain susah dan repot keluar negeri.

Terima Kasih Tuhan,
Terima Kasih Jeneponto,
Terima Kasih Batu Siping,
Terima Kasih Indonesiaku,
Terima Kasih Orang Tuaku,  dan
Terima Kasih Wawan, Icha, Debie dan Andang
Sampai jumpa pada tulisan berikutnya


Achyie Sabang
September 2016

Pulau Panambungan : Karena Liburan Tanpa Foto-foto Ibarat Sayur Tak Bergaram

Samar-samar adzan subuh mulai terdengar, saya dan teman-teman yang lain satu persatu terjaga. Saya, Ucu, Dedy, Gusti, Ammink, Budi dan seorang teman yang saya lupa namanya. Setelah shalat subuh. kami langsung grasak-grusuk mempersiapkan perlengkapan yang akan dibawa ke Pulau Panambungan. Ucu langsung berangkat untuk menjemput Taufik, sementara Echa dan Rian lagi diperjalanan menuju ke tempat ngumpul kami sekarang. Pagi mulai menyingsing, teman-teman juga sudah lengkap, dan barang bawaan sudah dicek ulang, saatnya berangkat menuju ke pelabuhan Paotere. Sebelum sampai di Paotere, kami menjemput Vega, doi adalah yang paling cantik di Trip kali ini. Di perjalanan menuju Pelabuhan Paotere, pemilik kapal tak henti-hentinya menelpon, menanyakan posisi kami sudah dimana serta menginformasikan jika dia sudah standby di Pelabuhan Paotere. Pukul tujuh lebih sedikit, kami tiba di Pelabuhan Paotere. Pak Kasim sang pemilik kapal yang kami carter sudah menunggu di sekitaran mushallah yang ada di dalam kawasan pelabuhan Paotere. Saya dan Gusti langsung berkenalan dengan beliau, karena sebelumnya kami hanya berkomunikasi melalui telpon saja. Beliau menunjukkan posisi dimana kapalnya tertambat. Satu persatu perlengkapan dan barang bawaan sudah turun dari mobil, mobil juga sudah terparkir dengan rapi dan terkunci dengan aman. Kami langsung menuju ke kapal. 
Perjalanan dimulai, suasana di kapal saat perjalaan menuju Pulau Panambungan
Mesin kapal mulai berderu, satu persatu dari kami mulai naik ke kapal. Tak lama kemudian Pak Kasim mulai mengangkat jangkar kapalnya, perlahanpun kapal mulai berlayar. Semakin lama Pelabuhan Paotere semakin kecil, lautpun semakin membiru. Angin semilir berhembus menyapu wajah kami seolah sebagai sambutan selamat datang kepada kami di perairan laut Makassar. Kapal berlayar ke arah utara menuju ke Pulau Panambungan tanpa kendala karena kondisi laut masih sangat bersahabat. Angin berhembus belum terlalu kencang sehingga tidak memicu timbulnya ombak yang bisa menghambat perjalanan kapal. Sekitar sejam setengah berlayar, akhirnya kapal menepi di bagian timur Pulau Panambungan. Satu persatu kami turun sambil menurunkan barang yang kami bawa dari Makassar.
Pulau Panambungan
Pulau Panambungan terletak di Kacamatan Liukang Tupabbiring Utara, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep). Dapat diakses baik dari pelabuhan Paotere Kota Makassar ataupun Dermaga Maccini Baji yang ada di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Pulau ini milik mantan bupati Kabupaten Pangkep, tetapi sekarang dikelola oleh sebuah instansi swasta yang ada Di Kota Makassar. Pulau ini merupakan pulau tak berpenghuni dengan luasan sekitar 4 kali lapangan sepakbola. Vegetasi pulau ini didominasi oleh pohon cemara laut yang lumayan rimbun sehingga menjadikan pulau ini sangat sejuk. Di tengah-tengah pulau ini terdapat sebuah villa yang sudah tidak terawat lagi, entah pengelolanya kemana dan siapa. Ketika kami mendarat di pulau ini kondisinya sangat sepi, hanya seorang lelaki paruh baya yang sedang menyapu dedaunan kering dan beberapa ekor kucing yang saling berkejaran. Beliau langsung menghampiri kami diiringi oleh kucing-kucing tersebut. Setelah berbincang-bincang dengan beliau, ternyata dia ditugaskan sebagai penjaga pulau ini, namanya Pak Udin. Pak Udin hanya datang ke pulau ini jika pagi hari dan akan meninggalkan pulau ini pada saat,siang hari, Pak Udin tinggal di pulau tetangga Pulau Panambungan, yaitu Pulau Ballang Lompo. Untuk sekedar bersantai di pulau ini, masing-masing pengunjung dikenakan biaya masuk sebesar Rp.50.000. Ongkos tersebut hanya berupa uang masuk saja tanpa ada fasilitas penunjang seperti penginapan atau makanan ataupun fasilitas lainnya.
Makan siang yang sederhana tetapi super istimewa
Kami langsung mencari lokasi yang bagus untuk mendirikan tenda. Gusti dan kawan-kawan memilih di bagian barat pulau untuk lokasi pendirian tenda. Suasana pulau langsung berubah menjadi riuh rendah, oleh kehadiran kami. Kami langsung disibukkan oleh aktivitas pendirian tenda dan pengaturan barang-barang. Tenda sudah terpasang dan waktunya aktivitas untuk urusan pengisian lambung yang sedari tadi sudah keroncongan, maklum tidak ada yang sarapan pagi dan diperparah oleh terpaan angin laut kurang lebih sejam stengah. Semua bergerak cepat, ada yang mengurus ikan, ada yang memasak, ada yang mempersiapkan api untuk pembakaran ikan, ada yang meracik sambel dabu-dabu untuk cocolan ikan bakar nantinya. Sekitar pukul sebelasan siang semuanya sudah tersaji di sebuah gazebo yang ada di pinggir pulau ini. Ada ikan bakar, ada nasi, ada mie instan rebus yang dicampur dengan telur dan sambal dabu-dabu. Walaupun kondisi nasi yang tak sempurna alias hangus dalam keadaan masih mentah, tetapi kami tetap menyantapnya dengan lahap. Kami tetap kenyang dan menganggap jika ini adalah makan siang istimewa. Mengapa istimewa? karena kita menikmati apa yang ada tanpa mengeluh. Karena tempat dan view pada saat kita makan sangat keren, apalagi bersama dengan sahabat-sahabat tercinta. Perfect moment. Perut sudah terisi, maunya sih berenang, tetapi matahari lagi semangat-semangatnya bersinar dan air juga lagi surut, sehingga ada baiknya kita tidur siang dulu di pinggir pantai di bawah pohon cemara laut yang rimbun. Tidurnya pasti nyeyak.
Karena liburan tanpa foto-foto ibarat sayur tak bergaram
Matahari sudah condong ke barat, suara adzan Ashar samar kedengaran dari Pulau tetangga, Pak Kasim pun juga sudah merapat di dermaga mengantarkan beberapa pesanan kami yang lupa kami bawa, kopi, bola lampu, wajan, panci dan sendok nasi. Karena kopi sudah tiba, ada baiknya kita ngopi-ngopi ganteng dulu sebelum main ke dermaga. Kopi sudah siap, dan bola lampu juga sudah selesai dirakit oleh Pak Kasim, mari kita duduk santai sambil ngopi ganteng.
Matahari sudah tidak terlalu terik, saatnya main ke dermaga. Di dermaga aktifitas kami yah apalagi jika bukan foto-foto. Difoto dan memoto. "fotoka'dule", "saya lagi", yah kata-kata itulah yang senantiasa terucap di dermaga ini. Apalah arti sebuah trip tanpa kamera. Dan trip tanpa foto ibarat sayur tanpa garam. Kurang lebih sejam kami puas menikmati berfoto-foto ria. Kami bebas berekspresi, berteriak dan tertawa tanpa merasa malu atau mengganggu orang lain karena disini hanya rombongan kami. Setelah puas berfoto di dermaga saatnya berenang dan bermain air sambil menanti sunset. Lagi asik-asiknya kami bersenda gurau di Pantai bagian Timur pulau, terlihat satu kapal merapat ke dermaga dan menurunkan beberapa orang pznumpangnya. Artinya malam nanti kita ada teman untuk nginap. Sebenarnya saya belum puas berenang, tetapi karena saya tidak ingin kehilangan melihat momen sunset, jadi saya memutuskan untuk naik dan kembali ke sekitaran tenda. Ternyata setelah saya naik, yang lain pun juga ikutan naik. Sehingga acara berenang sudah selesai beralih ke acara menikmati moment matahari terbenam. Moment matahari terbenam tak lepas dari sesi foto-fot lagi, kali ini yang mznjadi fotografer adalah Uci', yang lain satu-persatu bergantian menjadi model. Hingga akhirnya kami harus menyudahi acara foto-fotonya karena hari sudah berganti malam.
Apayah, bingung captionnya apaan
Genset sudah menderu, lampu rakitan Pak Kasim tadi sudah menyala memberikn sinar terang yang mengusir kegalapan pulau. Semuanya sudah mandi dan berganti pakaian serta wangi, saatnya kita kembali untuk urusan makan malam. Seperti biasa semua mengambil bagiannya masing-masing, ada yang mengurus beras, ada yang mengurus ikan, ada yang mengurus indomie dn telur, ada yang mzngurus lombok dan tomat dan ada pula yang hanya berdiri atau duduk menunggu instruksi untuk melakukan apa. Hanya butuh sejam, 11 piring nasi, 7 piring ikan bakar, 4 piring sambal dabu-dabu, 2 piring telur orak arik, 1 panci indomie rebus sudah terhidang di atas pasir. Kami semua sama-sama duduk melingkar lalu makan bersama. Dan yang terpenting nasinya sudah ala-ala nasi restoran, Pulen dan wangi. Menunya lagi-lagi didominasi oleh ikan, karena ikan yang dibelikan oleh Pak Kasim sangan banyak dan semuanya sangat enak. Hanya 250.000 rupiah, kita sudah dikasih ikan stengah basket, ikannya campur-campur, ada sunu, napaleon, kakatua. kerapu, baronang, dan lainnya, semuanya ikan karang yang ditangkap dengan cara di panah. Makan malam yang begitu mewah. Alhamdulillah terima kasih Tuhan.
Bonus jika nginap di pulau, ada sunrise dan sunset yang senantiasa mendamaikan jiwa raga
Sehabis makan malam kami duduk-duduk santai di sekitaran api unggun yang kami nyalakan sembari ngobrol-ngobrol ringan. Sebelum kami putuskan untul tidur, kali jalan-jalan dulu ke dermaga lagi untuk melihat sinar lampu-lampu yang dipancarkan dari Kota Makassar. Sangat Indah dan menawan. Tanpa kami sadari, hari sudah beeganti dari hari Sabtu menjadi hari Minggu alias sudah dini hari. Kami kembali ke tenda untuk istirahat. Api Unggun yang tadi kami tinggal mulai meredup, sehingga beberapa teman memutuskan mzncari kayu untuk menyalakan kembali api untuk menghalau dinginnya malam. Api kembali menyala, satu persatu mulai masuk kedalam tenda. Namun hanya sekitar 3 menit, beberapa orang kembali keluar, termasuk saya. Di dalam tenda sangat panas, sehingga kami melutuskan untuk tidur di luar tenda saja.Kantuk pun tiba-tiba hilang, jadinya kita kembali bercerita panjang lebar hingga satu persatu ketiduran. Kami semua terlelap dalam mimpi indah kami. Selamat tidur sahabat.
Suasana malam sebelum kami tertidur pulas
Suara alarm dari Handphone Vega menyadarkanku dari mimpi-mimpi indahku. Kugosok-gosok mataku sebelum akhirnya saya buka. Vega sudah duduk di depan tendanya, karena sebelumnya memang saya sudah janjian dengan dia untuk bangun subuh karena ingin melihat matahari terbit di dermaga. Dedi juga sudah bangun. Pukul stengah 6 pagi kami bertiga bergegas ke dermaga, hari sudah terang, tetapi mataharinya masih malu-malu muncul, agak tertutup awan. Hampir stengah jam lebih, matahari pagi Pulau Panambungan akhirnya menyapa kami. Saya tak henti-hentinya bersyukur dan memuji kebesaran Tuhan. sekali lagi terima kasih Tuhan. Pengalaman pertama dan entah kapan lagi bisa kembali main ke sini, semoga secepatnya.
Foto bersama dulu sebelum meninggalkan Pulau Panambungan

Kami kembali ke tenda, beberapa orang sudah bangun, bahkan Budi sudah memasak kopi dan Indomie, tetapi sayang hanya untuk dirinya sendiri, Ah Budi nggak keren, Au Ah ZBL. Akhirnya saya mengambil alih masak mie dan telur untuk sarapan pagi kami. Setelah semua sudah bangun dan sarapan. saatnya beres-beres karena Pak Kasim akan menjemput kami pukul 8 pagi. Sebelum pulang, saya menghampiri rombongan yang kemarin sore tiba, ternyata mereka pulangnya pukul 12 siang, sehingga saya menawari ikan kepada mereka supaya kami tak repot lagi membawanya balik ke Makassar karena ikan masih banyak yang tersisa.
Terima Kasih Pulau Panambungan
Pukul 8 lewat Kapal milik Pak Kasim merapat ke pantai persis di depan tenda kami. Satu persatu barang diangkat ke kapal. Setelah semua barang sudah dikapal, selanjutnya kami ke dermaga. Kami pamit pada rombongan yang lain, ketika kami lewat di depan tendanya. Di dermaga sebelum naik ke kapal saatnya berfoto lagi, footo terakhir di Dermaga Pulau Panambungan untuk edisi trip kali ini. Kapal perlahan meninggalkan dermaga saat kami semua sudah duduk di lantai atas kapal. Kami melambaikan tangan sebagai salam perpisahan kepada Pulau Panambungan. Sekitar 90menit mengarungi Selat Makassar, akhirnya kami kembali tiba di Pelabuhan Paotere. Tiada kata yang pantas terucap selain ucapan syukur kepada Tuhan, Tuhan Maha Indah dan Mencintai Keindahan. Tuhan Maha Baik.
Mumpung sebagai penulis, ah banyakin pasang foto sendiri deh
Terima kasih Tuhan,
Terima kasih Pulau Panambungan,
Terima kasih Indonesaiaku,
Terima kasih Orang Tuaku,
PP - Pulang Pergi - Pulang Merah - Pergi Putih. Indonesia banget kan

Terima kasih Vega, Gusti, Uci, Budi, Dedi, Echa, Ammink, Ucu, Taufik dan Rian,
Terima kasih yang tak terhingga kupersembahkan untuk Pak Kasim, terima kasih banyak Oom.

 
@lanaasir (instagram dan twitter)


Achyie Sabang
September 2016 

Sabtu, 04 Juni 2016

Pantai Ujung Tiro, Surga di Ujung Utara Bulukumba

Pantai Ujung Tiro, namanya belum terlalu menggema seperti pantai-pantai lainnya yang ada di pesisir Bulukumba, seperti Pantai Tanjung Bira, Pantai Bara, ataupun Pantai Apparalang. Terletak di Desa Eka Tiro, Kecamatan Bonto Tiro, Kabupaten Bulukumba, kira-kira membutuhkan jarak tempuh sekitar 60 hingga 90 menit dari Kota Bulukumba, ibukota kabupaten Bulukumba. 

Ah kamu mah, sudah dipandu, masih aja betah liatin dinding tembok

Menjangkau Pantai Ujung Tiro, tidak terlalu susah, karena lokasinya sejalur dengan Pantai Apparalang, Pantai Mandala Ria dan Pantai Samboang. Lokasinya bahkan bisa dikatakan satu kompleks dengan Pantai Samboang. Jika dari Kota Bulukumba bisa mengambil jalur poros menuju Pantai Tanjung Bira, setelah tiba di pertigaan antara Desa Ara dan Desa Bira, selanjutnya mengambil jalur menuju Desa Ara. Terus-terus sampai mendapat Gerbang Pantai Samboang yang terletak di pinggir jalan raya. Jika sudah tiba di gerbang Pantai Samboang selanjutnya belok kanan sampai mentok pada pertigaan, lalu belok kiri terus-terus sampai mendapat papan penunjuk arah yang bertuliskan Pantai Ujung Tiro, belok kanan lagi. Ikuti terus jalan, hati-hati karena jalannya sangat sempit, licin dan berbatu. Nanti di ujung jalan akan ada sebuah rumah yang disampingnya ada lahan parkir, disitulah tempat memarkir kendaraan. Tetapi jangan kaget yah, uang parkirnya Rp.30.000 untuk Mobil. Jangan lupa melihat pemandangan sebelah kanan saat sudah memasuki jalan sempit yang berbatu.
Kalau lihat yang ini, masih betah di kamar gak???


Ah masa kena AC terus, sekali-kali yang alami dong


Pantai Ujung Tiro, jika dilihat secara sekilas mirip Tanah Lotnya Bali, atau Pantai Balekambang nya Malang. Beberapa orang-orang hitsnya Instagram sudah pernah mengeksplor pantai ini, tetapi pantai ini masih bisa dikatakan belum terjamah dan masih alami. Waktu saya dan teman-teman datang, pantai ini sepi, tak ada satupun pengunjung, padahal kami datang pada saat hari libur, bahkan seminggu setelah memasuki bulan puasa. Hanya seorang nenek tua yang penjaga rumah sekaligus penjaga parkir dan warung di sekitar Pantai Ujung Tiro. Mengunjungi pantai ini kalau bukan untuk melihat sunrise, . sebaiknya jangan terlalu pagi, bagusnya kira-kira pukul 10an keatas. Pada saat itu, matahari mulai terik, awan mulai menipis sehingga langit membiru, otomatis laut akan ikut menjadi biru, sehingga sangat cocok bagi yang suka berfoto. 
Mati tetapi tetap indah


Indonesia itu banyak tempatnya yang KETJEH BADAYYY, jangan ngantor mulu


Kondisi Pantai Ujung Tiro agak mirip dengan Pantai Apparalang, yaitu pantai karang. Sepanjang garis pantainya, laut langsung berbatasan dengan tebing karang, sehingga tak ada garis pantai yang berupa pasir seperti di Pantai Samboang atau Pantai Bara atau Pantai-pantai lainnya di Bulukumba. Pantai Ujung Tiro berupa sebuah pulau karang yang besarnya mungkin hanya sebesar rumah. Sebuah jembatan kayu yang mungkin panjangnya kurang lebih sekitar 10 meter menjadi penghubung antara pulau karang ini dengan daratan Pulau Sulawesi. Pantai Ujung Tiro cocoknya untuk bersantai sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang bertiup di tengah-tengah jembatan kayu tersebut. Pantai Ujung Tiro merupakan surga bagi pecinta fotografer dan selfie.

Pantai Ujung Tiro adalah sebuah Surga dengan segala pesonanya. Langit dan Laut yang membiru seolah menyatu. Kesejukan yang tercipta dari angin yang bertiup semilir membelai wajah seolah mengucapkan selamat datang bagi siapapun yang datang. Kedamain yang tercipta dari heningnya suasana yang terpecahkan oleh suara deburan ombak yang sekali-kali menghujam karang. 
Ombak bernyanyi dan angin bersyair


Pantai Ujung Tiro, Datangi, setelah sampai duduklah dan diamlah, pandangi laut dan langit yang membiru. resapilah ombak yang bernyanyi dan rasakanlah angin yang bersyair. Karena simphony alam di pantai Ujung Tiro tak ada duanya. 
Tingkat kebahagiaan diukur dari kelebaran senyum, kata orang
Bahagia? kamu yang ciptakan sendiri


Indonesia itu yah seperti ini


Tips Jika ingin ke Pantai Ujung Tiro
1. Bawa Kendaraan sendiri, tidak ada kendaraan umum ke sana
2. Kondisi kendaraan harus baik, harus mampu dalam penanjakan
3. Isi bensin banyak-banyak, tidak ada pertamina
4. Kalau suka berfoto, pakai baju warna cerah yang kontras dengan warna biru
5. Jangan lupa kacamatanya dan topinya serta tongsisnya
6. Bawa Bekal jika ingin berlama-lama disana, penjual makanan berat tidak ada, adanya cuma penjual snack dan rokok tetapi pasti mahal, parkiran saja 30,000 rupiah.
7. Jangan buang sampah sembarangan, apalagi sampah plastik
8. Kalau tidak tahu arah, ikut petunjuk gugel maps
9. Bagi yang suka membaca atau ngopi boleh membawa buku dan kopinya
10. Hati-hati jika ingin turun ke air, agak licin  

Terima kasih sahabat-sahabatku, Nurfaisah Arsal, Nurul Aswan, Kurniawan dan Muhammad Kamal Sidik, tanpa kalian mungkin saya belum bisa melihat Setitik Surga yang Tuhan jatuhkan di Bulukumba ini. Terima kasih Tuhan Yang Maha Pengasih atas limpahan berkat-Mu kami bisa tiba di Pantai Ujung Tiro dengan selamat dan Kembali ke rumah masing-masing dengan kondisi sehat wal afyat walaupun kantong menangis pilu. Terima Kasih para instagramers, @misstikus @eghafajrin @panritalopiparadise @explorebulukumba dan lainnya berkat foto kalian di instagram kami bisa sampai disini. 


Pantai Ujung Tiro, Desa Eka Tiro, Kecamatan Bonto Tiro, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia Pada 28 Mei 2016.

____ Achyie Sabang ____