Tampilkan postingan dengan label Kabupaten Maros. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kabupaten Maros. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Mei 2015

Air Terjun Lacolla : Karena Rasa Penasaran Itu Harus Dituntaskan.



Lacolla. Kata itu pertama kali saya baca di sosial media twitter tahun lalu. Ternyata itu nama salah satu air terjun yang ada di Kabupaten Maros. Tidak ingin terlalu larut dalam rasa penasaran, saya mencoba mencari di Google.com, dan akhirnya muncullah beberapa gambar air terjun yang bersusun-susun. Sangat indah dan cantik, saya terpesona. Puas melihat-lihat gambarnya, saya mencoba mencari infonya dengan penelusuran web. Tidak lama muncul beberapa artikel yang membahas tentang air terjun Lacolla, saya coba buka satu persatu, ternyata pembahasannya tidak terlalu memadai. Satu kata yang timbul “PENASARAN”.


Berbekal dari informasi yang saya dapatkan dari beberapa teman di sosial media Instagram dan  Facebook yang akhir-akhir ini ramai membahas Lacolla, saya merencanakan untuk mengunjungi Lacolla. Menjawab beberapa tanya yang sering muncul di benak saya dan mengobati rasa penasaran saya yang semakin subur gara-gara melihat postigan beberapa teman di Instagram. Hari Minggu, tanggal 26 April 2015 merupakan hari yang saya dan teman-teman saya rencanakan untuk mengunjungi Air Terjun Lacolla. Dan hari itu telah tiba. Dari koordinasi terakhir ada  8 orang yang acc untuk berangkat, Saya, Asty, Aswan, Insar, Icchank, Kamal, Fachry, dan Echa. Titik kumpul di Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, namun Insar dan Icchank akan bergabung di Sudiang nanti.

Perjalanan di mulai dari titik kumpul di Kampus Universitas Hasanuddin, saya, Aswan, Echa , Asty, Fachry dan Kamal. Perjalanan kami ke arah utara menuju Kabupaten Maros, kabupaten yang berbatasan langsung dengan Kota Makassar. Di Sudiang, Insar dan Icchank bergabung bersama kami, dengan mobil berbeda. Perjalanan di lanjutkan hingga memasuki kabupaten Maros. Tidak terlalu lama untuk tiba di Kota Maros, ibukota kabupaten, Echa menyalakan weser kanan di pertigaan Maros - Bone dan Maros Pangkep. Selepas kota Maros, memasuki Kecamatan Bantimurung, kami disuguhkan dengan landscape pemandangan yang memanjakan mata, landscape berupa hamparan sawah dengan padi yang mulai menguning serta kawasan Karst Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.


Sudah hampir 30 menit kami meninggalkan kota Makassar, sekarang sudah masuk di Kecamatan Cenrana. Di rombongan ini hanya saya dan Kamal yang memiliki sedikit gambaran tentang jalur  menuju Lacolla, dan itupun gambaran yang agak kabur. Daripada tersesat, mendingan singgah bertanya. Seorang bapak-bapak yang duduk santai diteras rumahnya menjadi target kami, dengan memasang muka ramah, saya bertanya pada beliau tentang jalan menuju Lacolla. “ Terus-terus sampai dapat pasar Cenrana dan sekolah, tidak jauh dari situ ada tulisan ‘Gerbang Emas’, disitu nanti belok kanan”. Berbekal info dari beliau, perjalanan kami lanjutkan hingga mendapat tanda-tanda tersebut. Sebuah papan dengan dua tiang di sebelah kanan bahu jalan bertuliskan “GERBANG EMAS”, dan saya tidak membaca tulisan yang lainnya lagi, hahahaha. Weser kanan menyala, rtandanya mobil akan berbelok ke arah kanan.

Perbedaan sangat mencolok setelah berbelok ke kanan, jalan yang tadinya aspal mulus kini berganti menjadi jalan yang hanya berupa pengerasan yang dilapisi batu gunung. Medan yang menantang, echa melambatkan laju kendaraan, karena kondisi jalanan yang tidak memungkinkan untuk memacu kendaraan dengan laju yang tinggi. Hanya beberapa rumah yang ada di sisi kanan dan kiri jalan, setelahnya itu yah hutan. Sepuluh menit berkendara, teman-teman yang lain mulai bertanya ke saya “Aci’ dimanakah sebenarnya?, mauki’ kemana ini, mana ndada lagi jaringan”. Saya hanya tersenyum sembari menjawab “yah mauki’ ke Lacolla toh, ndag takutjaka tersesat kalau sama kalianji”. Echa mulai gusar karena bensin mobil sudah hampir habis. Serasa dunia saya jungkir balik, arah yang tidak jelas, bensin yang hampir habis, di tengah hutan dan tidak ada jaringan untuk berkomunikasi melalui telpon genggam. Tetapi saya kembali meyakinkan teman-teman, bahwa jalur yang kami tempuh sudah benar, mengingat papan penunjuk yang tadi di bahu jalan. Aswan memberikan solusi, singgah bertanya, tetapi solusinya itu membuat saya tertawa dalam hati, bagaimana caranya singgah bertanya jika kita di tengah hutan, tidak ada orang selain kami. Saya tidak tahu persis dengan apa yang terjadi di mobilnya Insar, apakah mereka menyesal ikut atau bagaimana, atau selalu bertanya kapan sampainya. Masih dengan suasana tidak tahu arah, bensin yang mulai menipis, kami berpapasan dengan sebuah mobil yang dikendarai oleh seorang laki-laki paruh baya. Niatnya ingin bertanya tetapi muka orang tersebut sangat garang dan seolah-olah tidak berpapasn dengan kami, tidak ada ekspresi, tidak ada klakson antara kami dan dia, dia hanya berlalu saja.


Kami mulai yakin jika jalan yang kami lalui sudah benar setelah berpapasan dengan bapak tersebut, dan tidak lama kemudian kami berpapasan lagi denan seorang pengendara motor, kami memutuskan tidak bertanya lagi karena kami yakin ini jalur yang benar. Ada motor ada mobil yang keluar, artinya di dalam ada kampung, dan pasti ada penjual bensin. Akhirnya semua masalah hampir terpecahkan dengan solusi yang kami terka-terka. Setengah jam terguncang-guncang di tengah hutan, dikejauhan kami melihat sebuah atap rumah, dan perlahan kami melihat beberapa rumah, akhirnya kami bisa bernafas lega, akhirnya kami bisa singgah untuk bertanya.


Sesampainya di depan rumah tersebut, saya singgah bertanya pada pemilik rumah itu, dari beliau kami mendapat informasi jika lokasi Air Terjun Lacolla masih di atas lagi, sekitar 2 KM. Semangat kami untuk tiba di Lacolla semakin bertambah, setelah berterima kasih kami melanjutkan perjalanan, meninggalkan perkampungan yang mungkin hanya sekitar 10 rumah tersebut, kembali kami melewati jalan dengan pemandangan hamparan sawah yang padinya sudah mulai menguning, pemandangan sawah khas perbukitan, sawah yang bersusun-susun. Beberapa menit kemudian kami menemukan perkampungan lagi, dan di perkampungan ini ada penjual bensin, betapa senangnya kami. Akhirnya kami batal dorong mobil, akhirnya kami batal menginap di hutan. Harga 1 liter bensin disini Rp.9.000, kami mengisinya 5 liter, harga bukan lagi masalah bagi kami, daripada harus menginap dihutan atau dorong mobil, kan tidak lucu. Beli bensin sambil cari informasi. Masih di atas lagi kata ibu penjual bensin itu.

Jalanan beralih dari pengerasan batu gunung menjadi pengerasan beton, ternyata program PNP Mandiri sudah masuk disini. Tidak lama kami mendapatkan batas desa antara Desa Cenrana Baru dan desa sebelumnya yang kami tidak tahu namanya. Itu artinya lokasi semakin dekat. Dan kami bersorak kegirangan ketika dikejauhan terlihat sebuah perkampungan, ada Sekolah, dan ada Menara Mesjid. Dan tidak lama kemudian kami melewati sebuah gerbang yang di cat berwarna kuning keemasan, dan itulah “GERBANG  EMAS” yang dimaksud papan yang diluar sana tadi. Sesampainya di pusat desa, kami sisa mengikuti papan arah yang bertuliskan “WISATA LACOLLA” yang dibuat oleh mahasiswa KKN UNM tahun 2014, dan itu sangat membantu. Perjalanan kami terhenti di ujung jalan pengerasan. Karena sesuai info yang saya dapat dari teman di Facebook disitulah kami harus memarkir, karena jalanan selanjutnya masih jalanan tanah yang agak becek.


Mobil kami simpan di tempat parkiran tersebut. Saatnya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, kira-kira sekitar 100 meter, kami mendapatkan papan penunjuk arah lagi. tak lupa singgah untuk berfoto selfie, kondisi jalan masih rata. Puas berselfie, kami melanjutkan perjalanan, dan kondisi jalan mulai menurun, jalanan menurun, dan berkelok-kelok dengan kondisi tanah yang agak gembur, mungkin dikarenakan oleh hujan yang baru turun. Setelah berjalan kaki hampir 10 menit riuh air terjun mulai kedengaran, semakin dekat semakin jelas. Kami melewati air terjun yang tinggi dengan suara gemuruh itu, kami terus mengikuti jalan setapak, ternyata hanya air terjun mini setinggi kurang lebih 1 meter. Kami sempat kecewa karena ternyata tidak sesuai yang kami harapkan, tetapi tak kami lewatkan untuk tetap selfie dan foto-foto pada bongkahan batu yang besar-besar tersebut. Kami akhirnya memutuskan untuk turun ke air terjun yang gemuruh itu. Medan menuju air terjun utama lumayan sulit, agak curam dan licin jadi harus berhati-hati. Tetapi setelah sampai di dekat dan bisa melihat langsung, hanya satu yang bisa saya ucapkan. “SUBHANALLAH, Maha Besar Allah dengan segala ciptaannya”.


Air Terjun Lacolla, terletak di Desa Cenrana Baru, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Berjarak kurang lebih 70 KM dari Kota Makassar, dengan waktu tempuh antara 2 hingga 2 stengah jam. Air Terjun dengan ketinggian hampir 20 meter, dengan lebar kurang lebih 10 meter, dan bertingkat 5 ini sungguh sangat indah dan cantik. Seluruh peluh dan rasa perjuangan terbayarkan, dan yang pastinya rasa penasaran menjadi hilang. Kecantikan dan keindahannya memanjakan mata, riuh airnya yang jatuh menjadi symphony yang memanjakan telinga, serta airnya yang dingin mampu memanjakan kulit yang lelah selama perjalanan. Sebelum beraksi, kami mengisi perut dulu dengan bekal yang kami bawah dari Makassar, makan siang ramai-ramai di balik bongkahan yang sangat besar di pinggir aliran air sangat terasa nikmat. Waktu kami datang, airnya lumayan besar, sehingga saya agak takut untuk main air, tetapi beberapa teman yang lain sempat main air, Kamal, Fachry, Insar, Echa sempat main air sampai puas. Sementara kami yang lain hanya berfoto dan menikmati keindahan Lacolla. Kurang lebih 3 jam bercengkrama, kami memutuskan untuk kembali. Jarum jam menunjukkan pukul 3 sore, kami berkemas untuk pulang. Setelah memastikan sampah kami tidak ada yang tertinggal, kami meninggalkan air terjun Lacolla dengan perasaan bersyukur dan sangat puas. Perjuangan dimulai kembali untuk menaklukkan jalur menuju tempat mobil parkir, kondisi jalan 80% mendaki, dengan nafas yang ngos-ngosan, kurang lebih 10 menit akhirnya kami tiba di tempat mobil parkir. Dan kini saatnya kami kembali ke Makassar.

Senin, 02 Februari 2015

Petualangan Bolang Glamour Menaklukkan Tiga Air Terjun Di Camba - Maros, Sulawesi Selatan.



            Kemal memarkir si Biru di tempat yang ditunjukkan Kadir, di depan sebuah rumah batu yang masih dalam tahap pembangunan. Rumah Kadir di belakang rumah batu tersebut.  Ayah dan ibu Kadir sudah menunggu kami di teras rumahnya sambil merpesilakan kami naik. Kemal dan ayahnya Kadir sudah akrab dan saling mengenal, ternyata dulu waktu masih kami semua berstatus mahasiswa, Kemal sering singgah di rumah Kadir jika perjalanan menuju atau dari Sengkang. Perbincangan ringan mengalir antara kami dan ayahnya Kadir. Ibunya Kadir datang dari dalam membawa sepring besar jagung pulut rebus yang masih mengepul asapnya dan garam yang sudah ditumbuk halus dengan cabai rawit dalam piring kecil. Saya langsung ngiler melihatnya. Saya mengambil satu biji, masih panas. Sambil saya tiup-tiup saya mengoleskan tersebut. Tanpa perlu menunggu sampai betul-betul dingin, saya langsung menggigitnya. Rasa nikmat jagungnya bercampur asin dan pedis menjadi satu kesatuan yang sangat memanjakan lidah. Saya dan Dina asyik menikmati jagung rebus tersebut, sementara yang lain asyik bercerita bersama ayah Kadir sambil merokok. Kadang cara berbicara ayah Kadir menimbulkan gelak tawa diantara mereka dan kami pun juga ikutan tertawa. Ammank dan Kemal ikutan tergoda melihat kami begitu menikmati jagung rebus tersebut. Tidak lama kemudian ibunya Kadir kembali sibuk bolak balik dari dalam dapur ke ruang tengah, ternyata sibuk mempersiapkan makan siang untuk kami. Jarum jam memang sudah menunjukkan angka 2. Waktu makan siang sudah lewat sebenarnya, tetapi karena kami sudah terbiasa dengan jadwal makan tidak teratur di kota, jadi bagi kami itu tidak masalah, apalagi kami sudah menikmati jagung rebus. Singkat kata akhirnya kami dipersilakan untuk menuju ke ruang tengah untuk menikmati hidangan tersebut.
#bolangglamour sebelum berangkat ke Camba
Nasi putih yang masih mengepul asapnya, sayur rebung dan terong, telur dadar, ikan kering goreng saos kecap, sokko (nasi ketan), palopo’, dan peco’bue (saya tidak tahu apa bahasa Indonesianya, ini bahasa Bugis). Kami menikmati hidangan tersebut, jarang-jarang di kota ada makanan seperti ini. Kenyang. Setelah beristirahat sejenak sambil berbincang-bincang ringan, Dina mengajak kami untuk segera berangkat menuju air terjun. Serempak kami berlima setuju. Kami bersiap-siap, membawa pakaian ganti, minuman, cemilan, tablet serta handphone untuk keperluan dokumentasi dan jangan lupa bawa payung.
Disinilah petualangan #bolangglamour dimulai
Kami berenam sudah siap untuk berangkat, Kadir berangkat menggunakan motor sementara kami berlima berangkat menggunakan si Biru. Perjalanan lumayan memacu adrenalin. Di kejauhan sana nampak para petani membajak sawahnya, ada yang sedang menjalankan traktor, ada yang menabur benih, ada yang menanam padi, dan ada pula yang mencangkul untuk merapikan pematang sawah. Tampak begitu sempurna sajian alam yang Tuhan ciptakan.
Perjalanan si #bolangglamour mencari setitik surga
Kampung Maddenge, Desa Pattiro Deceng, Kecamatan Camba, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi – Selatan. Berjarak sekitar 80 KM arah Timur Laut dari Kota Makassar, ibukota provinsi Sulawesi Selatan dan menghabiskan waktu tempuh kurang lebih 1jam 30 menit jika tidak macet. Namun jika macet bisa lebih. Kurang lebih 50 KM dari Kota Maros dan membutuhkan waktu tempuh sekita sejam. Camba terletak di ketinggan 340 Meter di atas permukaan laut, membuat hawa disini terasa sejuk, pemandangan sekeliling hanyalah perbukitan. Disinilah tempat kami sekarang berpijak. 
#bolangglamour dan pemandangan di sekelilingnya
Si Biru sudah terparkir di halaman rumah salah satu kerabat Kadir. Kami sudah siap untuk mulai ngebolang bersama sahabat petualang melewati gunung dan lembah serta sungai. Kadir mulai menjemput kami satu persatu untuk menuju titik nol awal petualangan kami kali ini. Mulai dari Ammank, Dina, dan terakhir saya, Jaja dan Kemal jalan kaki karena jaraknya mungkin hanya sekitar 100 meter dari tempat kami parkir, tetapi karena berbelok-belok dan mendaki maka butuh waktu sekitaran 5 hingga 7 menit lebih untuk sampai di tempat ini. Selfie sebelum bertualang merupakan hal pokok yang harus dilakukan. 2 kali jepret menggunakan kamera depan tablet Samsung galaxy 10 yang saya bawa dengan latar pepohonan bambu yang rimbun sudah cukup bagi kami. Saatnya memulai petualangan.
air terjun pertama yang #bolangglamour dapatkan, tanpa nama. sehingga saya menamainya Air Terjun Bolangglamour I

Awalnya jalanan masih berbatu, 10 meter kemudian batu-batunya mulai hilang hingga menjadi jalan becek, saya mengangkat sandal saya, sementara Kadir menyerahkan sandal lapangannya ke Dina, karena sandal Dina hanya sandal jepit, seperti sandal saya. Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang lumayan becek. Jalanan yang awalnya terletak dipinggir sawah lama-kelamaan memasuki area hutan-hutan, namun jalur jalan masih kelihatan. Kami kembali keluar dari hutan dan mendapatkan ujung jalan ini adalah menuju sawah. Tak ada lagi tanda-tanda jalan. Akhirnya kami mengikuti Kadir memasuki areal persawahan, melewati pematang yang sangat licin dan sempit. Karena saya takut jatuh, akhirnya saya memutuskan untuk turun ditengah-tengah sawah, sambil memegangi Dina yang jalannya tertatih-tatih. Kadir sudah berjalan lebih dulu, seakan melewati jalan beraspal tanpa kendala. Kemal, Jaja dan Ammank masih dibelakang, lagi sibuk berselfie ria. Karena ragu dengan jalan pematang yang sempit dan licin, Kemal mencari jalan lain yang lebih layak untuk kami. Kemal memutuskan kembali ke ujung jalan setapak tadi, lalu memilih melewati sungai-sungai kecil yang airnya merendam mata kaki. Ammank dan Jaja mengikutinya kembali. Saya dan Dina sudah ditengah-tengah pematang, untungnya sawah tersebut berbentuk oval, jadi kami tidak butuh waktu lama untuk kembali ke jalan yang benar dan layak. Kadir sudah hilang dari pandangan mata. Kami berlima berjalan beriringan. Kemal  berteriak ala  orang kampung untuk mengetahui keberadaan Kadir. “U..........” begitu teraiakan Kemal, lalu dijawab dengan teriakan sama oleh Kadir. Kadir kembali beregabung bersama kami sambil diomeli oleh Jaja dan Kemal, saya, Dina dan Ammank hanya tertawa sambil menarik nafas dalam-dalam. Perjalanan sudah mulai menurun, melewati jalur sempit yang sudah hampir tidak kelihatan karena sudah ditumbuhi rumput karena jarang dilalui oleh orang. Saya hanya berjalan sambil diam. Bukan hanya saya yang berjalan dengan diam, semuanya pun demilkian, tidak bersuara jika tidak pernting. Menyimpan tenaga. Nafas kami mulai ngos-ngosan, jalan kami mulai melambat karena medan yang licin dan menurun, banyak duri dan jalanan sempit. Kadir, Dina, Saya, Kemal, Ammank, dan terakhir Jaja, begitulah susunan kami beriringan berjalan menyusuri jalan sempit yang curam. Kami mendapati sebidang tanah yang agak landau dan rata tetapi rumput liarnya sangat tinggi. Kami singgah sejenak untuk menarik nafas baik-baik, Kemal mendahului saya mengikuti Kadir dan Dina. Perjalanan kami lanjutkan, kami harus menyeberangi sungai kecil yang lebarnya kira-kira hampir dua meter dengan melangkahkan kaki ke batu-batuan yang ada di tengah sungai. Hanya 3 m menginjak tanah, kami harus menyeberangi sungai lagi, lebarnya hampir tiga meter, kami harus turun ditengah-tengah sungai. Dalamnya selutut. Kami semua sudah berhasil menyeberangi sungai kedua. Kadir, Kemal dan Dina di hadapan saya, Jaja dan Ammank di belakang saya, yang dihadapan saya lagi semangat-semangatnya berjalan sementara yang dibelakang saya sibuk mencari batu dan bongkahan *EFEK DAN DEMAM BATU*. Saya terjatuh terpeleset karena batu kapurnya sangat licin, tetapi beruntung tidak ada yang melihat. Saya bangkit dan menertawakan diri saya sendiri. Setelah berjalan sekitar 10 meter, saya terhenti, tiba-tiba nafas saya yang tersengal-sengal langsung menjadi normal, cape saya langsung hilang, di hadapan saya sudah terpampang air terjun yang cantik.
#bolangglamour dengan latar Air Terjun Bolangglamour I


serba-serbi #bolangglamour di Air Terjun Bolangglamour I


#bolangglamour yang paling Narsis

Perjalanan kami terbayarkan oleh keindahan air terjun yang ada di hadapan kami, saya langsung bersujud memuji kebesaran Tuhan, tak henti-hentinya saya mengucap syukur dan memuji kebesaran Tuhan. Gemuruh air yang jatuh menggoda kami untuk bermain air. Saya langsung berendam. Mengunjungi tempat secantik ini tidak lengkap jika tanpa dokumentasi. Tanpa dikomando, kadir langsung mengeluarkan Tablet mininya dan menjepret kami sampai puas. Air terjun ini kami tidak tahu apa namanya, tingginya sekitaran 2-3 meter dengan debet air yang tidak terlalu besar. Berbentuk siku seperti huruf L, lebarnya mungkin sekitaran 5 hingga 7 meter. Airnya jatuh di dinding yang curam tegak lurus ke atas. Di salah satu sisinya air terjun ini bertingkat tiga, dan pas di sudutnya pertemuan antara dua sisinya terdapat sebuah bongkahan batu besar tepat ditingkatan yang pertama. Karena kami datang pada saat musim hujan sehingga airnya tidak terlalu jernih. 20 menit waktu berlalu di tempat ini kami tak sadari, kami asyik bermain air sambil foto-foto. Kadir mengajak kami untuk ke destinasi selanjutnya. Sebenarnya kami belum puas, tetapi kami menurut saja mengikuti omongan Kadir, karena katanya air terjun yang di atas lebih bagus lagi.
Air Terjun kedua yang #bolangglamour dapatkan, karena juga tidak ada namanya, maka saya menamainya Air Terjun Bolangglamour II
Semua barang sudah masuk kembali ke dalam ransel yang dibawa oleh Jaja, kami berlima melanjutkan perjalanan, mendaki dan berkelok-kelok tidak jelas mencari batu yang bisa ditempati oleh kaki kaki kami untuk berpijak. Kemal memotong kompas dengan memanjat dinding air terjun tadi. Sementara kami berlima memutuskan untuk mencari jalan lain, karena kami tidak bisa manjat dinding yang licin tersebut. Kami berputar-putar menerabas rerumputan akhirnya kami bertemu dengan Kemal di bagian atas air terjun tadi. Dengan sangat hati-hati kami berjalan di atas hamparan batu gunung yang sangat lebar dan licin. Batu gunung tersebut  masih merupakan bagian dari aliran sungai, tetapi karena debet air tidak terlalu besar sehingga tidak tergenangi air. Tetapi licinnya minta ampun. Dina berjalan sambil dipegang oleh Kadir. Kami berjalan sekitar 10 menit setelah melalui aliran sungai sungai kecil, kami mendengarkan suara gemuruh air yang jatuh lagi pertanda di hadapan kami ada air terjun lagi. Dan benar sekali di hadapan kami terdapat air terjun bertingkat empat dengan ketinggian kurang lebih 10 meter. Tingkatan pertama dan kedua tegak lurus, kira-kira sekitaran 3-4 meter, sementara tingkatan ketiga alirannya dengan kemiringan 60 derajat dengan tinggi kurang lebih dua meter. Sementara tingkatan terakhir dengan ketinggian hampir 4 meter membentuk aliran air dengan kemiringan 60 – 70 derajat. Debit airnya tidak terlalu besar, lebar air terjun ini kurang lebih 2 meter. Lagi lagi kami tidak sabaran untuk bermain air. Kami mengira ini adalah air terjun yang kami tuju, karena ini adalah air terjun yang kedua yang kami jumpai di petualangan ini. Ternyata ini bukan air terjun yang menjadi tujuan utama kami. Kadir masih mengajak kami untuk melanjutkan perjalanan.

#bolangglamour lagi bermain air di Air Terjun Bolangglamour II

#bolangglamour ternarsis lagi narsis


Air terjun utama yang paling tinggi masih di atas sana. Kadir menuntun kami berlima untuk mengikutinya. Kami harus jalan sambil membungkuk, sedikit lagi sambil merayap di bawah terowongan batu yang panjangnya mungkin sekitar semeteran. Sebenarnya ini bukan terowongan alami, tetapi merupakan celah yang diakibatkan oleh bongkahan batu yang sangat besar yang berdampingan dengan dinding jurang sehingga membentuk celah yang seolah-olah adalah terowongan. Setelah melewati terowongan batu, kami harus memanjat melalui akar pohon yang berdiri tegak lurus. Saya sempat pesimis tidak bisa memanjat akar tersebut, karena tingginya antara tiga sampai empat meter. Kadir sudah memanjat duluan, lalu Dina, Dina sudah sampai di atas, saya masih ragu untuk memulai manjat. Dina menyemangati saya, dan keraguan saya tepis, setelah bersusah payah akhirnya dinding akar tersebut bisa saya taklukkan. Menyusul Kemal, Jaja dan Ammank, kami berenam sudah naik, sejajar dengan tingkatan kedua air terjun yang kedua tadi. 
air terjun ketiga yang tidak hanya ditaklukkan oleh dua orang #bolangglamour, dinamakan Air Terjun Bolangglamour III, yang memiliki nama asli Air Terjun Bantimurung E


#bolangglamour yang sempat menaklukkan medan menuju  Air Terjun Bolangglamour III

Kadir menunjukkan air terjun utama yang kami tuju, sudah kelihatan dibalik rimbunnya pepohonan yang tumbuh disekitar air terjun tersebut. Kadir kemudian berjalan mencari jalan yang bisa kami lalui supaya bisa sampai ke air terjun yang di atas sana. Untuk bisa sampai di atas sana, kami masih harus menaklukkan dua dinding batu yang berdiri tegak lurus. Kadir dan Kemal sudah mulai memanjat. Sementara saya, Dina, Jaja dan Ammank memutuskan untuk berhenti disini dan membatalkan untuk tiba ke atas sana. Saya dan Dina memutuskan berhenti karena tidak bisa memanjat dinding tebing yang curam dengan ketinggian antara dua hingga empat meter. Kami berempat hanya bisa melihat Kadir dan Kemal berusaha sekuat tenaga untuk bisa sampai ke atas sana air terjun nomor tiga yang dinamai oleh warga air terjun BANTIMURUNG E. Kadir dan Kemal sudah tidak kelihatan, mungkin sudah sampai di air terjun utama, kami berempat akhirnya memutuskan untuk turun kembali dan bermain air di air terjun nomor dua tadi. Ternyata proses menuruni dinding kar ini lebih susah disbanding pada proses memanjat tadi. Ammank turun paling pertama, lalu Jaja. Jaja sempat mengikatkan sarungnya pada akar sebagai tempat pegangan untuk saya dan Dina nantinya. Dengan bersusah payah akhirnya kami berempat sudah tiba kembali di aliran air terjun yang kedua. Tanpa memperhatikan sekitarnya, Dina langsung duduk bermain air, tidak cukup satu menit kemudian dia berteriak-teriak sambil loncat loncat tidak karuan. Kami bertiga, saya, Jaja dan Ammank panic, kami mengira ada apa-apa, ternyata dipantat celana dan pahanya ditempeli oleh banyak lintah kecil. Lintah yang ukurannya tidak cukup satu sentimeter. Meskipun kecil tetapi tidak bisa dianggap sepeleh, karena jika masuk kedalam organ tubuh bisa fatal akibatnya. Kami bertiga langsung menyiram-nyiramkan air ke pantat dan pahanya. Saya menepuk-nepuk bajunya yang juga ikut di tempeli lintah. Dia baru bisa diam saat berulang kali kami meyakinkan bahwa semua lintah yang menempel sudah jatuh dan pakainnya, baju dan celana serta pahanya sudah bersih dari lintah.
#bolangglamour yang menamakan diri NAVIGAZI
Kami berempat akhirnya bermain air secara tanggung, kami menghindari koloni lintah kecil yang jumlahnya mungkin ribuan yang menempel di batu di dasar aliran sungai. Sekitar 15 menit Kadir dan Kemal sudah kembali dari atas. Mereka langsung bergabung bersama kami berempat. Dina meminta Kadir untuk menjepret kami sambil bermain air. Sekitar 20 menit bermain air disini di air terjun kedua kami mulai haus dan lelah, kami ketepi untuk menikmati cemilan yang kami bawa. hari sudah mulai gelap, 16:48 begitu gambar angka yang sudah tertera di jam digital tablet mini milik Kadir. Kami bersiap-siap untuk pulang karena takutnya kami kemalaman. Kami harus kembali menyusuri jalan yang kami lalui tadi waktu perjalanan kesini. Perjalanan pulang lumayan berat dibanding perjalanan waktu pergi. Perjalanan pulang di dominasi dengan pendakian, karena waktu pergi tadi perjalanan banyakan menurun. Saya yang paling pertama, lalu Dina, kemudian kadir, disusul Ammank, Kemal dan Jaja. Kami berjalan beriringan, sesekali diperjalanan di tengah hutan-hutan kami berhenti sejenak untuk berselfie ria. Butuh waktu sekitar stengah jam untuk kembali sampai di parkiran mobil. Dengan kondisi berbasah-basahan, Dina membagikan kami kantong plastic untuk dipakai sebagai alas di dalam mobil, takutnya jok mobilnya basah. Ammank naik motor berboncengan bersama kadir, sementara kami berempat naik mobil.
We Are The #bolangglamour


#bolangglamour berhasil menaklukkan Camba

Kami tiba di kediaman kadir sebelum maghrib, kami bergantian mandi lalu naik dirumah, makan malam sudah siap kami dipersilakan makan dulu sebelum pulang. Alhamdulillah kami kenyang. Dan sebelum kembali ke Makassar tak lupa kami saling berbagi foto melalui bloetooth dan email. Pukul 8 malam, kami pamit untuk pulang ke Makasar. Dua jam kemudian kami tiba di Makassar dengan selamat, membawa satu cerita baru yang entah sampai kapan akan bersemayam dan menjadi salah satu kenangan yang indah di pikiran kami.
bolang Narsis bersama ketua Geng #bolangglamour


#bolangglamour dalam perjalanan pulang setelah menaklukkan Air Terjun Bolangglamour I, II dan III

#bolangglamour mengucapkan terima kasih kepada Desa Pattiro Deceng, Kecamatan Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Indonesia

Terima Kasih kepada Tuhan sang pencipta dengan segala keindahan ciptaannya, Terima Kasih Kadir beserta keluarga, terima kasih Camba, Terima kasih Dina, Kemal, Jaja dan Ammank, Terima kasih kepada orang tua saya. Alhamdulillahirabbilalaminn.. 





sampai jumpa pada petualangan #bolangglamour  selanjutnya.

Achyie Sabang.