Tampilkan postingan dengan label Kab. Jeneponto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kab. Jeneponto. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 September 2016

Batu Siping Jeneponto, Karena Jeneponto Bukan Hanya Tentang Garam Dan Gantala Jarang

          Lelah masih tergurat di wajah-wajah kami saat memasuki Kota Jeneponto, selain karena ngantuk juga karena lapar. Sudah setengah hari kami menikmati aam Jeneponto. Kami memutuskan untuk mencari tempat makan yang terdekat. Kami memilih sebuah warung jawa karena tergiur dengan menu yang ditawarkan di depan warungnya. Kami berlima langsung masuk dan memesan makanan sesuai selera kami. Harga menunya hampir rata,Rp.13.000. 3 Nasi Goreng, 1 Mie Pangsit dan 1 Mie Goreng semuanya hanya Rp 65.000. Tak berselang berapa lama, menu pesanan kami langsung datang, kami menyantap dengan lahap. Perkara enak atau tidak enak itu urusan belakangan, yang jelas lambung terisi dulu. Sekitar 30 menit di warung Jawa tersebut, akhirnya kami memutuskan untuk cabut menuju ke lokasi yang akan kami tuju. 

          Waktu masih menunjukkan pukul 2 siang saat kami meninggalkan warung Jawa tersebut. Dan kini terjadi pergantian sopir, Icha yang menggantikan Wawan untuk mengemudikan mobil. Kami memutuskan untuk singgah sejenak beristirahat di emperan Mesjid Agung Kabupaten Jeneponto untuk menuntaskan lelah yang masih tersisa. Emperan mesjidnya lumayan bersih sehingga bisalah untuk beristirahat sejenak. Saya, Andang dan Wawan langsung merebahkan diri di emperan tersebut, disamping beberapa orang yang juga rebahan. Angin sepoi-sepoi yang berhembus seakan-akan membuai kami bertiga untuk tertidur sejenak, sementara Icha dan Debie lebih memilih untuk istirahat di dalam mobil. Kira-kira sejam lebih kami istirahat dan kondisi kami lumayanlah dibanding sebelumnya, sehingga kami memutuskan untuk beranjak dari emperan mesjid ini. Kembali Wawan yang mengemudikan mobil, karena kondisinya sudah lumayan fit. Untuk tiba di lokasi yang akan kami tuju, kami memutuskan untuk menggunakan google map, meskipun kadang arahannya tidak sesuai. Daripada nyasar, mending singgah bertanya pada warga sekitar. Bermodalkan senyum manis, saya langsung menyapa beberapa orang yang sedang asyik bercerita di pinggir jalan sambil memandikan kuda mereka. Mereka mengarahkan kami untuk masuk melalui Lorong Bisoli, karena jika melewati lorong ini, agak jauh dan jalanan jelek. Dengan ucapan terima kasih dan senyuman manis, kami pamit dan langsung cabut menuju ke lokasi yang akan kami tuju.
     Dengan bantuan google map, kami bisa menemukan Lorong Bisoli, sesuai arahan warga tadi, kami langsung masuk lorong tersebut, sekitar 100 hingga 200 meter, rumah-rumah masih agak ramai dipinggir jalan, tetapi semakin masuk dan semakin masuk kondisi menjadi semakin sepi. Bahkan untuk menemukan orang yang bisa kami tempati untuk bertanya sangat susah. Jalanan pun semakin rusak, dan tentunya semakin sepi pula karena melewati hutan jati. Di tengah jalan kami bertemu dengan seorang remaja laki-laki yang baru pulang dari menggembalakan sapinya. Kami langsung meminggirkan mobil, dengan maksud untuk bertanya, tetapi raut wajah remaja tersebut langsung berubah menjadi ketakutan. Dengan senyum manis saya langsung bertanya pada dia, dan dia menjawabnya dengan menggunakan bahasa Makassar yang sebagian besar saya tidak mengerti, kecuali kiri dan kanan yang saya tahu. Kami berlima hanya langsung tertawa, mengingat informasi yang kami dapat semakin membuat kami menjadi tambah bingung. Kebingunagn kami akhirnya terpecahkan ketika kami menemukan simpang tiga ke arah kanan, setelah memelankan mobil dan membaca apa yang tertulis dibalik spanduk tersebut. Wawan langsung mengarahkan mobil bereblok kanan menyusuri lorong keil tersebut. Lorong tersebut hanya berupa jalanan tani, belum ada sentuhan aspal atau kerikilpun pada jalanan tersebut, hanya berupa tanah dan batu pengerasan alias jalan rintisan. Kami berlima hanya bisa bertanya-tanya dimanakah akhirnya kami harus berhenti. Jalan rintisan ini, terletak ditengah-tengah hutan jati yang lumayan rapat, sehingga agak gelap dan terkesan mistis. Ditengah-tengah kebingungan kami, kami melihat disekitaran ladang jagung milik warga ada dua minibus yang terparkir, saya langsung menunjuk mobil itu dan mengatakan kita sudah hampir sampai. Kami berlima turun saat mobil sudah terparkir sejajar dengan dua mobil tersebut. Seorang penjaga areal parkiran langsung menyambangi kami dan mengarahkan  serta menujukkan kami jalan untuk ke tempat yang kami tuju.


          Lokasi yang kami tuju adalah sebuah spot yang baru dibuka untuk umum pada bulan Juli kemarin. Yakni sebuah kawasan batu karst yang bernama Batu Pondo, atau warga lokal menyebutnya dengan nama Batu Siping. Spot ini agak mirip dengan Rammang-Rammang yang ada di Kabupaten Maros. Tetapi pembedanya adalah, Rammang-Rammang berlatar gunung dan areal persawahan, sedangkan Batu Siping berlatar tambak ikan dan daerah pesisir. Untuk sampai pada spot Batu siping, dari parkiran kami harus berjalan kaki kira-kira sekitar 300 meter, melewati pematang ladang jagung warga dan pematang tambak ikan. Awalnya kami mengira bahwa di dalam pasti sepi, karena hanya ada dua mobil yang terparkir, tetapi melewati ladang jagung, ternyata disini ada lahan kosong yang dijadikan areal parkir motor, dan ada puluhan lebih motor yang terparkir. Kami berlima menyusuri pematang empang, dan hanya berelang beberapa menit penampakan Batu Siping sudah ada di depan mata, kami mempercepat serta memanjangkan langkah kami agar bsa cepat sampai di lokasi sekitar Batu Siping. Batu Siping ini agak mirip batu-batuan karang yang terbentuk mungkin dalam ratusan bahkan ribuan tahun sebelumnya melalui proses alam. Maha Besar Tuhan Sang Pemilik Semesta. Kami hanya bisa berdiri sejenak sambil melongo menyaksikan keindahan yang disuguhkan oleh alam melalui Batu Siping ini. Batu-batu nya rata-rata berukuran besar, dan terleta ditengah-tengah empang. Luas kawasan ini mungkin sekitar beberapa hektar, kami tak tahu pasti karena kami tak menjelajahi semuanya. 

          Sambil menikmati pemandangan dan keindahan alam ini, tak lupa kami juga mengambil beberapa gambar, bahkan kadang harus bertingkah konyol untuk mengambil sebuah gambar. Ada spot yang kami tempati berfoto, yang memaksa saya dan Icha untuk turun ke dalam empang dengan lumpur setinggi betis agar bisa sampai pada spot yang kami inginkan. tetapi kami baru menyadari bahwa sebenarnya ada cara untuk sampai ke tempat Icha duduk tanpa harus turun berlumpur-lumpur ria. Alhasil kamipun berlima tertawa terbahak-bahak menertawakan kekonyolan kami. Seperti kata-kata yang banyak beredar di sosial media, bahwa dibalik foto yang keren ada fotografer yang tersiksa, nah disini yang berlaku adalah, dibalik pose yang keren ada cerita konyol dan terkesan bodoh. Tetapi yah itulah yang menjadikan trip kami lebih berkesan dan meninggalkan kisah lucu, yang mungkin kelak akan kami ceritakan kepada generasi kami selanjutnya. Sampai perut kami menjadi sakit gara-gara kebanyakan tertawa. Puas menertawakan kekkonyolan kami, kami memutuskan untuk beranjak ke spot yang lain. Kami memilih spot yang berupa batu lebar yang terletak ditengah-tengah empang untuk berfoto-foto sambil menunggu sunset. 

          Batu Siping terletak di Desa Garassikang, Kecamatan Bangkala Barat, Kabupaten Jeneponto. Berjarak sekitar kurang lebih 7 KM dari poros Takalar Jeneponto, terletak di sebelah Barat ibukota Jeneponto atau sekitar satu jam lebih perjalanan dari Kota Jeneponto. Sedangkan jika dari Kota Makassar mungkin hanya butuh waktu sekitar dua jam setengah. dengan kondisi jalan yang lumayan bisa membuat orang hamil lahiran prematur jika sudah masuk di Lorong Bisoli. Tetapi apaun itu kami tetap puas, kami tetap senang, kami tetap bahagia. Rasa penasaran kami sudah terjawab dan Tuntas.

Puas menikmati atraksi matahari terbenam, kami memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju ke Kota Makassar. Kami bahagia, kami senang, kami cinta Indonesia dan bangga terlahir sebagai orang Indonesia. Indonesia itu Kaya tempat keren, ngapain susah dan repot keluar negeri.

Terima Kasih Tuhan,
Terima Kasih Jeneponto,
Terima Kasih Batu Siping,
Terima Kasih Indonesiaku,
Terima Kasih Orang Tuaku,  dan
Terima Kasih Wawan, Icha, Debie dan Andang
Sampai jumpa pada tulisan berikutnya


Achyie Sabang
September 2016

Bukit Bossolo View Air Terjun Tama'lulua : Mimpi Yang Terwujud

Jeneponto, mungkin hampir semua orang yang bukan orang Sulawesi Selatan tidak tahu tempat ini, atau bahkan orang Sulawesi Selatan sendiri mungkin masih ada yang belum tahu Jeneponto. Jeneponto merupakan sebuah kabupaten di pesisir selatan Sulawesi Selatan yang menghadap langsung ke Laut Flores. Pusat pemerintahan Kabupaten Jeneponto terletak di Kota Jeneponto, dengan jarak tempuh sekitar dua jam dari Kota Makassar, atau sekitar 90 KM. Berbicara tentang Jeneponto, mindset orang kebanyakan dan termasuk juga saya sebelumnya, pasti tertuju dengan kondisi cuaca yang sangat gersang, coto kuda, gantala jarang dan garam. Tetapi untuk tulisan saya pada kesempatan ini saya akan menulis tentang review perjalanan saya ke Jeneponto. Dan ini adalah salah satu sisi lain Kabupaten Jeneponto yang banyak orang tidak tahu.
Entah nama tempatnya apa, tetapi viewnya keren sekali
Saya dan keempat teman saya, Nurfaisah Arsal, Kurniawan, Debie Natalia, dan Andang, menuju ke Kabupaten Jeneponto sesaat setelah mentari mulai bersinar di ufuk timur. Perjalanan menuju Kota Jeneponto yang harusnya hanya ditempuh dengan waktu kurang lebih 2 jam, tetapi harus ditempuh dengan waktu kurang lebih 3 jam. Hal ini dikarenakan karena kami berangkat bertepatan dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 71 alias pada tanggal 17 Agustus. Kendala pertama saat melewati Kabupaten Gowa, yaitu macet parah yang terjadi di Pasar Tumpah Panciro yang berhadapan langsung dengan Stadion Kalegowa. Aktivitas Pembeli dan Penjual yang menggunakan bahu jalan serta parkiran kendaraan para peserta upacar peringatan HUT Kemerdekaan RI di Stadion Kalegowa otomatis membuat laju kendaraan tersendat. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk lolos dari kemacetan ini, padahal semestinya biasanya hanya 5 menit. Kendala kedua saat kami melintas di Kota Takalar, meskipun tidak separah di Gowa tetapi lumayan macet juga di Depan Kantor Bupati Takalar, karena upacara HUT Kemerdekaan RI dipusatkan disini. Dan kendala ketiga saat kami memasuki kawasan Kota Jeneponto. Jalur Satu Arah Jalan Lanto Dg Pasewang ditutup untuk pengendara umum, hanya untuk pengendara yang akan mengikuti upacara, sehingga kami harus berputar-putar sebanyak dua kali untuk mencari arah menuju ke Kecamatan Rumbia. 
The Abalz
Dari Pusat Kota Jeneponto ke Kecamatan Rumbia berjarak sekitar 40 KM atau sekitar 1 jam perjalanan melalui Jalan Sungai Kelara. Sepanjang jalan kami disuguhkan oleh hiruk pikuk aktivitas warga khas pedesaan. sengaja saya menurunkan kaca mobil supaya dapat melihat secara langsung aktivitas mereka, tak jarang mereka yang kami temui ke kami, memberikan senyum hangat dan menyapa kami. Khas PEdesaan banget, Senyum Tulus tersungging dari bibir mereka mampu meneduhkan jiwa. Saya harus turun bertanya pada seorang warga ketika kami menemukan persimpangan, berkat arahannya perjalanan kami lanjutkan menuju ke Kecamatan Rumbia. Selanjutnya kami dibuat tercengang oleh pemandangan areal persawahan yang menghijau, ternyata Jeneponto tak segersang yang kami pikirkan. Belum habis kekaguman kami akan indahnya areal persawahan yang terletak di sebelah kiri jalan, kami langsung disuguhkan oleh pemandangan sebuah lembah yang dikelilingi oleh beberapa bukit. Lembah itu berupa areal persawahan yang tengah-tengahnya dibelah oleh aliran sungai, sungguh sangat indah, ibarat lukisan-lukisan yang terpajang di dinding. Kami tak tahan untuk singgah sejenak mengabadikan pemandangan ini. Sekali lagi, Jeneponto tak segersang yang kami pikirkan. 
Saatnya memilih, mau yang santai atau yang penuh tantangan
Puas berfoto kami melanjutkan perjalanan menuju ke tujuan utama kami, yaitu Bukit Bossolo Rumbia. Keramaian mulai tampak saat kami semakin dekat dengan Lapangan Kecamatan Rumbia. Sesuai dengan info yang diberikan oleh google hidup alias warga yang kami tempati untuk bertanya tadi, bahwa tujuan kami tidak jauh dari Lapangan Rumbia. Kami memutuskan untuk berhenti didepan sebuah kios untuk bertanya. Wawan harus memundurkan mobil, karena jalan masuk ke Bukit Bossolo terlewati sekitar 20 meter. Sekitar 200 meter masuk, kami tiba di pos penjagaan. Sebelum masuk kami diharuskan untuk membayar Rp. 5.000 per orang dan biaya parkir mobil Rp. 10.000. Lalu kami diarahkan untuk menuju ke spot Bukit Bossolo. Jalanan menuju parkiran lumayan membuat mobil agak mengeluh, dan untuk sampai diparkiran, harus melewati jalanan ini sepanjang 100 meter kira-kira. Tibalah kami diparkiran. Di sekitar parkiran terdapat papan penunjuk arah, untuk menuju ke Bukit Bossolo View Air Terjun Tamalulua kami harus berjalan mengikuti jalan pengerasan sejauh 450 meter, sedangkan untuk menuju Air Terjun Tamalulua kami harus menuruni jurang dan berjalan sekitar 750 meter. Karena trip ini adalah trip dadakan tanpa persiapan dan tak ingin mengambil resiko mengingat kondisi kami juga akhirnya kami memilih ke Bukit Bossolo saja. 
Bukit Bossolo dengan View lembah yang keren dan air terjun Tama'lulua
Jalan Pengerasan yang lebih mirip dengan jalan setapak tersebut diapit oleh jurang di sebelah kiri dan kebun ubi di sebelah kanan. Sekitar 10 menit kami berjalan kaki menyusuri jalan setapak tersebut, akhirnya kami tiba di sebuah bukit yang agak lapang dengan latar tulisan "BOSSOLO". Dari tanah lapang ini kami bisa menikmati pemandangan yang sempurna, di depan sana terdapat lembah dan bukit yang dijadikan sebagai ladang jagung oleh warga sekitar. Tak hanya itu, Air Terjun Tama'lulua menjadi penyempurna pemandangan dari bukit ini. Sungguh Maha Besar Tuhan Sang Pencipta Semesta. Kami tak perduli sebagaimana teriknya sinar matahari pukul 11 siang, kami tetap asyik berfoto tanpa takut hitam. Prinsip kami, mengapa jauh-jauh dari Makassar ke sini jika hanya ingin jaim-jaiman. Bukit Bossolo ini memiliki 3 spot foto yang sangat keren, dan pemandangan dari sudut pandang yang berbeda. Yaitu Tanah lapang yang berlatar tulisan BOSSOLO, Puncak Bukit Bossolo, dan Sebuaah Batu yang berada di tepi Jurang di bawah Tulisan BOSSOLO. 
Merah Putih ku sayang, teruslah engkau berkibar di Langit Indonesia
Dari Spot pertama ke spot ke dua yaitu puncak bukit Bossolo, kami harus mendaki sekitar 20 meter dengan kondisi kemiringan sekitar 80 derajat. Spot kedua ini hanya sepanjang 2 meter dan lebar 1,5 meter, dikelilingi oleh jurang yang terjal. Untuk menjaga keamanan pengunjung sekeliling pinggir bukit ini dipasangi pagar kawat setinggi 1 meter dan diberi papan peringatan untuk tidak berdiri di luar pagar kawat tersebut. Sekitar 15 menit kami mengabadikan moment dan lumayan kepanasan, akhirnya kami memutuskan untuk beranjak ke spot ketiga. Tanpa kami sadari, di bawah sudah ada rombongan yang antri untuk naik berfoto di spot tadi. Dengan malu-malu seorang akhirnya berani mendekat dan meminjam bendera yang kami bawa untuk mereka pakai berfoto juga. MERDEKA. Selanjutnya kami beranjak menuju ke spot ketiga yaitu sebuah batu yang ada di pinggir jurang. Untuk menuju ke spot ketiga lumayan harus memacu adrenalin bagi kami, terutama bagi saya yang lumayan fobia pada ketinggian. Saya harus mati-matian untuk melawan diri saya agar tidak takut untuk menuju ke spot tersebut. Jalan menuju spot tersebut hanya berupa jalanan sempit yang lebarnya tak kurang dari 30 cm dengan kondisi yang agak miring. sebelah kiri adalah jurang dengan kedalaman sekitar 30 meter dan sebelah kanannya adalah tebing yang berdiri tegak lurus tanpa ada sesuatu yang bisa menjadi pegangan. Sehingga saya harus berjalan sangat pelan tanpa melihat ke samping. Bahkan sebelum tiba di spot tersebut, saya sempat dilema untuk kembali lagi dan tak usah sampai ke spot tersebut. Tetapi empat anak muda di spot tersebut menyemangati saya untuk tetap melanjutkan perjuangan saya. Dengan sedikit tertatih dan merangkak, akhirnya saya tiba dan bisa bernafas lega di spot tersebut. 
Butuh perjuangan melawan diri sendiri untuk menyingkirkan rasa takut agar bisa sampai di sini
Melihat saya yang bisa sampai di spot tersebut, membuat Icha dan Debie memberanikan diri mengikuti jejakku, meski agak pelan. Berbeda dengan Wawan dan Andang yang sangat gampang untuk tiba di spot ini, karena Wawan lumayan sering mendaki gunung, sehingga medan seperti ini tak berarti apa-apa bagi dirinya. Wawan dan Andang bahkan hanya butuh sekitar 1 menit untuk melewati jalan tersebut, sedangkan saya butuh sekitar 3 menit dengan tangan agak gemetaran baru bisa sampai di spot batu tersebut. Anak muda yang sebelumnya di spot ini ternyata menunggu kami disini, untuk meminjam bendera yang kami bawa untuk dia pakai berfoto. Eforia berfoto dengan bendera sangat tinggi karena bertepatan dengan ahri kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah berfoto dengan bendera akhirnya mereka pamit dan membiarkan kami berlima menikmati spot tersebut. Spot ini merupakan spot sempurna untuk menikmati keindahan Air Terjun Tama'lulua dari keindahan. Air Terjun tama'lulua kelihatan sangat indah dari kejauhan. Meskipun waktu kami datang bukan saat yang tepat. Debit airnya lumayan kecil, karena sekarang sudah memasuki musim kemarau. Selain itu kedatangan kami sebelum matahari condong kebarat juga mempengaruhi kualitas gambar yang kami potret, karena masih silau. Mungkin waktu terbaik untuk main kesini pada saat musim hujan dan sore hari, karena selain debit airnya besar, pepohonan sekitar menghijau, juga karena sinar matahari langsung memapar ke air terjun sehingga tidak silau lagi. 
Gado-gado, salah edit (Kiri atas - Istirahat dikios penjual di Bukit Bossolo, Kanan atas dan kiri bawah - menuju Bukit Bossolo dari parkiran, Kanan bawah puncak bukit Bossolo atau spotke dua)
Meskipun tak sesempurna dengan harapan saya, tetapi saya tetap menikmatinya, Tak ada kata kecewa yang terucap dari bibir saya, bahkan saya sangat bersyukur akhirnya saya bisa mampir ke tempat ini tanpa perencanaan yang panjang yang berujung kebatalan. Bukit Bossolo view Air Terjun Tamalulua ini sudah beberapa bulan terakhir ini menjadi destinasi impian saya yang sangat ingin saya kunjungi. Tetapi berhubung tidak ada teman ngetrip, karena yang biasa saya temani ngetrip beberapa orang sudah tidak asik lagi dan beberapa orangya lagi berhalangan sehingga hasrat itu terus terpendam. Akhirnya hanya 5 hari merencanakan trip ini, eh ternyata kesampaian. Jadi buat apa saya mengeluh dan kecewa. Bahkan saya bertekad untuk kembali main kesini, bersama mereka, ibu Kost Aswaliaty Anwar, Kamal Sidik dan Nurul Aswan, dan tentunya nanti insha Allah sudah ada baby Quinzha dan Anaknya Aswan yang akan menjadi primadona dalam trip kami selanjutnya. Trip ini sangat menyenangkan, karena satu lagi mimpi saya akhirnya terwujud. Kami pun pulang dengan sangat senang dan puas.
Terima Kasih Tuhan, saya bangga terlahir sebagai orang Indonesia
DIRGAHAYU INDONESIAKU, selamat ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia tercinta, apapun kata orang tentang Indonesia, saya akan tetap cinta dan bangga akan Indonesia. Jika saya tak mampu mengharumkan namamu dimata orang, setidaknya saya berusaha untuk senantiasa menggunakan bahasa Indonesia yang Baik dan Benar. SAYA CINTA INDONESIA.
Keren banget
Terima Kasih Tuhan,
Terima Kasih Kabupaten Jeneponto,
Terima Kasih Bukit  Bossolo,
Terima Kasih Indonesia,
Terima Kasih Orang Tua kami,
Terima Kasih Icha, Debie, Wagil dan Andang
Sampai Jumpa pada kesempatan berikutnya, dan review trip selanjutnya.
Karena Jeneponto Lebih Keren dari apa yang Kamu Pikirkan

 
Achyie Sabang
September 2016

 

Sabtu, 13 September 2014

Pantai Ujung Timur Kabupaten Jeneponto: My Life Is My Journey

Pantai Ujung Timur Kabupaten Jeneponto: My Life Is My Journey

Hari Jumat, tanggal 12 September 2014. Di Kota bantaeng depan kantor Bupati Kabupaten Bantaeng. Matahari bersinar terik, karena memang sudah memasuki musim kemarau untuk Wilayah Indonesia. Namun teriknya matahari tak terasa, melainkan sangat sejuk, hal ini dikarenakan oleh banyaknya pepohonan rindang di kota Bantaeng. Saya lihat jam di handphone saya masih menunjukkan pukul 13 lebih 45 menit. Kalau saya langsung balik ke Makassar, mungkin sore baru sampai, setelah saya menimbang-nimbanag sejenak, saya memutuskan untuk tidak langsung balik ke Makassar. saya ingin jalan-jalan dulu. Pilihan saya yaitu Pantai Seruni Bantaeng atau Pantai Ujung Timur Jeneponto. 
Pantai Ujung Timur, Kabupaten Jeneponto

Pantai Ujung Timur, Kabupaten Jeneponto


Saya masih diliputi kebimbangan, tiba-tiba sebuah minibus berwarna merah berhenti di depan saya, saya kurang mendengar apa yang diucapkan sopirnya, saya hanya refleks bertanya, “Jeneponto yah pak?” pak sopir mengiyakan, saya naik dan duduk di depan di samping pak sopir yang sedang mengemudikan mobil. Hahaha. “Pak, saya mau turun di Pantai Ujung Timur, yang pantai pinggir jalan yang banyak pohon kelapanya yang ada gazebo-gazebonya” ucapku. “Itu Tino, Pak” “saya kurang tahu juga pak, saya Cuma taunya pantai Ujung Timur, Pak”. Kami berbincang-bincang, sehingga perjalanan kurang lebih 20 menit tak terasa. Minibus merah ini berhenti tepat di Pantai Ujung Timur. Tempat yang slama ini hanya bisa saya lihat jika lewat dan juga melalui internet di blog orang.  Saya turun, dan ternyata saya penumpang terakhir, saya sodorkan uang Rp 20.000, dan dikembalikna Rp 10.000. Setelah mengucapkan terima kasih, saya langsung menuju ke gazebo yang kosong, namun masih ada bekas batok kelapa yang tertinggal, pertanda tempat ini baru-baru saja ditinggalkan oleh pengunjung yang lain. 
Selfie Dulu dengan latar pohon kelapa, ciri khas Pantai Ujung Timur
Setelah meletakkan tas saya di gazebo tersebut, saya menghampiri kios kecil yang terbuat dari bambu dan atapnya dari daun kelapa yang dibentuk sedemikian rupa, saya kurang tahu apa namanya. Kios ini dijaga oleh seorang bapak paruh baya, mungkin umurnya sekitar 40tahunan, dan seorang anak laki berusia belasan. Saya memilih yang alami tanpa campuran es dan sebagainya. Sembari bapak tersebut menyediakan pesanan saya, saya minta izin untuk mencarger tablet saya yang baterainya sudah hampir habis. Saya menuju gazebo yang ada di dekat kios tadi. Gazebonya juga terbuat dari bambu dan beratapkan daun kelapa yang dianyam. Anginnya sangat kencang, baju saya terbang-terbang. Anak lelaki tadi datang membawa pesanan saya. Saya mencicipi pesanan saya, dan air kelapanya sangat segar. Sangat pas untuk membasahi tenggorokan saya. Menikmati kelapa muda denga hembusan angin yang lumayan kencang, di bawa pohon kelapa di Pinggir pantai dengan latar suara deburan ombak dan suara dedaunan yang bergesekan tertiup angin, itu Rasanya Damai dan Tentram banget. 
Selfie sambil Menikmati belaian Angin laut Jeneponto
Kira-kira sejam lebih saya disini, beberapa pengunjung lain datang, rata-rata dari Kabupaten Bantaeng dan Kabupaten Bulukumba. Saya pikir baterai tablet saya sudah lumayan dan bisa digunakan untuk berfoto-foto.  Saya mengambil tablet saya di kios untuk berfoto-foto. Di tengah keseruan saya berfoto, saya melihat seorang nenek dengan pakaian yang lusuh sambil membawa ember yang juga kondsinya sudah pecah-pecah bagian atasnya menyusuri garis pantai Pantai Ujung Timur. Saya menghampiri nenek tersebut, “Nek, apa ki boya?” (Nek, Apa yang dicari?*bahasa Makassar) “Rumpu’ lau’, Nak” (Rumput Laut, Nak) jawab nenek tersebut. Sekilas tidak tampak adanya rumput laut di  pinggir pantai tersebut. Yang ada hanya batok kelapa dan sampah-sampah lainnya. Saya meletakkan tablet saya di gazebo, kemudian kembali menemani nenk tersebut. Karena penasaran saya ikut juga mencari, ternyata memang ada ukurannya kecil-kecil dan pendek. Mencarinya harus dengan teliti, karena berbaur dengan lumut dan ampah lainnya. 
Menikmati Kelapa Muda segar di Pantai Ujung Timur


Menikmati Kelapa Muda Segar di Pantai Ujung Timur


Menikmati Kelapa Muda segar di pinggir Pantai Ujung Timur
dengan suara deburan ombak yang bersahutan


Saking asiknya menemani nenek mencari rumput laut yang terbawa oleh ombak, tak terasa ember nenek sudah penuh. Sayang saya lupa menanyakan nama nenek tersebut siapa. Nenek pun pamit pulang karena embernya sudah penuh dan sudah masuk waktu Ashar. Saya sempat termenung mendengar kata-kata nenek yang pamit untuk pulang karena mau sholat. Nenek yang usianya segini saja dengan pekerjaan yang berat masih ingat sholat tepat waktu. Dibanding saya yang masih fit, kerjaan Cuma duduk manis dibelakng meja, hanya mampu untuk sholat Jumat sekali seminggu. Ya Allah murahkanlah rezeki dan berikanlah kesehatan kepada Nenek tersebut. 
Nenek, Pencari Rumput Laut di Pantai Ujung Timur
Oh iya yah, hampir lupa, Pantai Ujung Timur merupakan salah satu Pantai di Desa Tino, Kecamatan Tarowang Kabupaten Jeneponto, Provinsi Sulawesi Selatan. Berjarak sekitar  120 Kilometer sebelah Tenggara dari Kota Makassar. sekitar 50 Kilometer sebelah timur ibukota Kabupaten Jeneponto, dan 11 Kilometer sebelah barat Kota Bantaeng Kabupaten Bantaeng. Pantai Ujung Timur terletak dipinngir jalan Poros Trans Sulawesi Bagian Selatan yang menghubungkan antara Kota Makassar dan Kota-kota di Selatan Sulawesi seperti kota Bantaeng, Kota Bulukumba dan Kota Sinjai.
Pantai Ujung Timur yang  dipenuhi sampah
Sepulang nenek ke rumahnya, saya segera menuju gazebo tempat saya meletakkan tas, sepatu dan tablet saya. Saya cek jam melalu Tablet, ternyata sudah hampir stengah 4 sore. Tanpa pikir panjang saya langsung memesan kembali 1 Kelapa muda yang rasa gula merah. Tidak begitu lama pesanan saya datang, diantarkan oleh istri si bapak tadi. Setelah saya buka, ternyata yang rasa gula merah dan rasa alami beda penyajiannya, yang alami yah betul-betul alami, daging buahnya kita yang kerok sendiri. Sementara yang rasa gulah merah daging buahnya sudah dikerok, dan sudah pasti bercampur dengan campuran susu dan gulah merah. Hmmmm nikmat sekali. Di sini, kelapa mudanya ada 3 pilihan rasa, yang pertama rasa original atau alami, yang kedua rasa gula merah dan yang ketiga rasa sirup DHT. Semuanya mantap. Karena saya lagi batuk, maka saya pesan yang tidak pakai es saja. Sudah puas menikmati Pantai Ujung Timur dengan panorama pantainya sambil menikmati kelapa muda segar saatnya berkemas untuk pulang. Namun ada hal yang sangat saya sayangkan, karena pantainya sangat kotor, banyak sampah dan bato-batok kelapanya dibuang di pantai, makanya kelihatan kotor. 
KELAPA MUDA RASA ALAMI (ORIGINAL)


KELAPA MUDA RASA GULA MERAH


KELAPA MUDA RASA SIRUP DHT


Saatnya untuk membayar dan mengambil kabel carger saya yang masih tercolok, saya menanyakan berapa yang harus saya bayar, ternyata yang harus saya bayar Cuma 17.000 rupiah. Saya sempat kaget, Waaaww murah sekali. Sebelum pulang saya sempat cerita dengan ibu dan bapak yang punya kios, saya bilang bahwa saya tahu tempat ini dari internet, bapak tersebut jadi lebih antusias bercerita dengan saya, “ooh jadi kita sudah lamami kenal saya melalui dunia maya di’?” (oh jadi anda sudah lama kenal saya melalui dunia maya yah?) *dengan logat khas orang Sulawesi Selatan. Belakanang saya ketahui kalo bapak tersebut bernama Pak SABDA NATA, tetapi saya lupa bertanya namanya istrinya. Dari perkenalan singkat inilah saya tahu kalau pohon kelapa-kelapa ini ternyata meruapakan peninggalan kakek ak Sabda sekitar 20 tahun yang lalu. Usaha penjualana kelapa mudanya ini dia rintis dari tahun 2011. Sebelumnya pak Sabda pernah kerja di makassar di sebuah perusahaan Meubel di jalan Sungai Saddang Baru. Dari cerita-cerita lepas inilah saya sampaikan keprihatinan saya mengenai pantainya yang kotor, pak Sabda menimpali dengan senyum khasnya,”susah jika sekarang dek, karena sampah-sampah itu bawaan dari atas, aangin bertiup dari atas, biasa saya bersihkan pagi-pagi, lalu sekitaran pukul 9 pagi sudah penuh kembali” tutur pak Sabda. “kalau mauki bagus, bersih sama jernih airnya, bulan-bulan sepuluhpi atau bulan sebelas, pasti bersih, anginnya juga ndag kencangmi, anginnya sepoi-sepoi” imbuh istri pak Sabda. Tanpa pak Sabda ketahui, saya juga mencari blog yang pernah saya baca tentang tempat ini, setelah berusaha dengan susah payah akhirnya blog tersebut terbuka. Dan alangkah senangnya mereka melihat fotonya di Internet, istri pak Sabda sangat girang, katanya itu waktu awal mereka merintis usahanya. Pantai Ujung Timur inipun julukannya dari pak Sabda. Seketika suasana jadi sangat hangat. Saya pun  menjadi semakin akrab dengan mereka. Saya masih ditahan sama pak Sabda untuk tinggal cerita-cerita. Tetapi karena hari sudah semakin tua, maka saya harus beranjak untuk kembali ke Makassar, “pak, bu, pulammaka dulu, doakan maka di terima di bantaeng supaya bolak balikka’, semoga bisajaki berjumpa di lain hari pak, ibu.” (Pak, Bu, saya pulang dulu, doakan saya semoga di terima di Bantaeng, supaya saya bisa bolak-balik kesini lagi, semoga kita bisa berjumpa di lain hari yah pak, Bu). Dengan senyum lebar mereka mengantarkan saya ke pinggir jalan untuk menunggu mobil menuju Makassar. tidak seberapa lama sebuah mobil panter singgah, setelah menanyakan tujuan Mobil tersebut, saya langsung naik ke Mobil tersebut. Pukul 8 malam saya tiba dengan selamat di terminal mallengkeri kota Makassar. saatnya pulang kerumah Aswan untuk istirahat. 
Bersama Pak Sabda sang Seniman Kelapa Muda di Pantai Ujung Timur, Jeneponto


Bersama dengan Istri pak Sabda (tengah) di kiosnya, tempat meracik pesanan pengunjung
Alhamdulillahi rabbil Aalamin, segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam. Hari ini perjalanan saya sangat mengesankan. Travelling sendiri juga ternyata mengasyikkan.

Sebelum terlelap saya kembali tersenyum, tersenyum bahagia karena berkenalan dengan orang-orang yang baru yang mengasyikkan. Dan tak lupa saya mengucap syukur dan terima kasih kepada Allah SWT, Tuhan saya. Terima kasihku juga untuk Indonesiaku yang sangat Indah ini, kepada orang tuaku yang melahirkanku di bumi Indonesia ini. Kepada para Pahlawanku yang rela berkorban harta jiwa dan raga untuk merebut kemerdekaan Indonesia dari para penjajah. Dan terakhir terima kasihku untuk Pak SABDA NATA dan keluarga atas kehangatan dan keramahannya, semoga usahanya sukses, dan semoga kita bisa berjumpa kembali di lain hari.


Achyie Sabang