Tampilkan postingan dengan label #Ayokesulsel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Ayokesulsel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Oktober 2019

Mengunjungi Bukit Nane Pulau Polassi Yang Lagi Viral di Sosial Media

Polassi, salah satu nama pulau di Kabupaten Kepulauan Selayar yang akhir-akhir ini menjadi buah bibir para traveler, khususnya traveler lokal Selayar maupun traveler dari luar Pulau Selayar, termasuk traveler Sulawesi Selatan dan  beberapa traveler dari Pulau Jawa. Pulau ini menjadi viral karena memiliki spot yang sangat instagramable, yang katanya KW Pulau Padar Labuan Bajo, Flores. Secara administrasi Pulau Polassi terletak di desa Polassi, Kecamatan Bontosikuyu, berdekatan dengan pulau Bahuluang dan Tambolongan. Pulau ini merupakan pulau berpenduduk, dan bahkan pulau ini memiliki SD SMP Satu atap. Perkampungan penduduk terpusat pada Pesisir Timur pulau ini.
Pulau ini menjadi viral karena di ujung selatannya memiliki bukit yang dikenal dengan nama Bukit Nane. Dari puncak bukit Nane kita akan disuguhkan pemandangan sekeliling pulau yang menakjubkan. Pemandangan perairan Selayar yang berwarna biru menyatu dengan garis horizon, pantai-pantai pasir putih yang mengelilingi pulau dengan airnya yang jernih memadukan warna biru dengan tosca.

Untuk menuju pulau ini butuh tenaga dan persiapan yang matang. Tidak boleh asal-asalan. Dari Kota Benteng menuju ke Kampung Turungan butuh waktu kurang lebih 45 menit berkendara menggunakan sepeda motor. Kampung Turungan merupakan perkampungan Nelayan yang merupakana salah satu gerbang terdekat untuk menuju ke Pulau Polassi. Dari perkampungan ini butuh waktu sekitar 3 jam untuk sampai ke Pulau Polassi jika ombak bersahabat dan bukan musim timur. Saat ini kapal regular yang melayani penyeberangan ke Pulau Polassi belum ada, jadi jika ingin ke Pulau Polassi harus mencarter kapal nelayan lokal di perkampungan Turungan. Makanya butuh persiapan dana perencanaan yang matang. Bukan tiba masa tiba akal. Selain untuk urusan transportasi, urusan logistic juga penting. Walaupun pulau Polassai termasuk pulau berpenghuni, tetapi jangan harap menemukan penjual makanan di sekitar Bukit Nane. Tidak ada. Jadi harus membawa bekal. Karena waktu perjalanan pergi pulang lumayan lama. Kurang lebih 8 jam perjalanan dengan perhitungan Kota Benteng – Kampung Turungan 45 menit, persiapan keberangkatan di kampung Turungan kurang lebih 15 menit, perjalanan Turungan – Pulau Polassi kurang lebih 3 jam perjalanan laut, dengan kondisi ombak yang mengajak untuk bergoyang pada saat kapal sudah melewati Pulau Bahuluang. Total kurang lebih 4 jam untk perginya, dan pulangnya pun hampir sama, sehingga waktu perjalanan kurang lebih 8 jam.

Jika sudah tiba di Pulau Polassi, untuk sampai di Puncak Bukit Nane, terdapat dua jalur, yaitu jalur barat dan jalur timur. Jalur barat, rute tanjakannya lebih ekstrim, dan lebih cepat sampainya, ombak yang dihadapi pun lumayan tenang jika memilih untuk menempuh jalur barat. Berbeda dengan jalur timur, jalur timur kondisi medannya lebih landai sehingga penanjakan lebih santai, tetapi agak panjang dan lama perjalanannya. Untuk sampai pada titik star awal penanjakan menggunakan jalur timur, perahu/kapal mesti mengitari pulau, sehingga peluang untuk bertemu ombak yang lumayan bisa mengajak untuk goyang ombak sangat besar. Bagi yang punya nyali dan tenaga besar, biasanya memilih jalur barat, tetapi bagi mereka yang ingin perjalanan santai dan bisa jepret-jepret di tengah perjalanan pasti memilih jalur timur. Jalur barat dengan kondisi kemiringannya yang hampir tegak lurus, sehingga butuh tenaga ekstra pada saat menanjak, dan butuh tenaga double ekstra serta mental kuat jika akan turun. Tetapi semua perjalanan baik melalu jalur timur ataupun jalur barat akan terbayrkan ketika sudah sampai di Puncak Bukit Nane. Angin yang semilir bertiup seolah bersyair menyanyikan lagu selamat datang kepada siapapun yang datang. Rerumputan pun tak kalah menunjukkan tarian terindahnya menyambut kehadiran tamunya. Di kejauhan di bawah, ombak bergulung-gulung dan saling berkejaran menuju pantai. Birunya laut yang menyatu dengan horizon memberikan ketenangan dan kedamaian setelah proses perjuangan sampai ke puncak. Tidak usah terlalu terburu-buru untuk jepret sana dan sini, nikmatilah suguhan alam yang bersimfoni menyatu membentuk irama dan pemandangan yang tak terlupakan. Dendangan angin, tarian rerumputan, atraksi ombak hingga kedamaian yang ditawarkan oleh birunya laut menyatu membentuk senyawa yang kuat dengan ikatan tak terpisahkan bernama BUKIT NANE.
Bukit Nane dengan segala keindahannya, pantai pasir putih, bukit savanna, dan pemandangan laut yang adem merupakan anugerah luar biasa dari Tuhan yang sepantasnya dan seharusnya disyukuri, dijaga dan dilestarikan. Membiarkannya tetap indah tanpa campur tangan manusia, menjaganya dari sampah yang bisa merusak ekosistem, dan tidak melakukan vandalism merupakan salah satu aksi kecil yang dampak positifnya sangat  besar untuk klestarian Bukit Nane sehingga generasi berikutnya juga bisa tahu dan menyaksikan keindahan Bukit Nane secara langsung, bukan dari cerita orang.
Terima kasih Selayar, terima kasih @anakrumahan98 dan @OpenTripSelayar yang sudah mengajak saya untuk liburan kesini dan hospitalitynya yang luar biasa ketika saya di Selayar. Ah aku jatuh cinta lagi dengan kabupaten terselatan di Sulawesi Selatan ini. Selayar, aku jatuh cinta.

Kamis, 04 Juli 2019

Pengalaman Pertama Ke Selayar dan City Tour Selayar (Lingka-Lingka ri Silajara', Tarima Kasi' Silajara').



Kabupaten Kepulauan Selayar, merupakan kabupaten paling selatan Sulawesi Selatan yang berada di tengah-tengah Laut Flores. Kabupaten ini terdiri dari beberapa Pulau ada yang berpenghuni dan ada pula yang tidak berpenghuni. Untuk akses menuju ke Selayar bisa melalui jalur udara, jalur laut, maupun jalur darat-laut. Jalur udara bisa ditempuh dari Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin Maros, Makassar ke Bandar Udara H. Aroeppala Selayar, dengan waktu tempuh kurang lebih 40 menit menggunakan pesawat ATR, penerbangan setiap hari, dengan maskapai Transnusa ataupun Wings Air. Jalur laut bisa ditempuh dari Pelabuhan Soekarno Hatta menggunakan kapal ferry, dengan waktu tempuh kurang lebih 2 hari 2 malam, hal ini dikarenakan banyaknya pulau-pulau kecil yang disinggahi sebelum sampai ke Selayar. Adapun jalur darat-laut yakni dengan menggunakan mobil bus ataupun travel dari kota Makassar, jika menggunakan bus bisa mengambil bus di terminal Mallengkeri, Makassar, biasanya berangkat tengah malam. Sedangkan jika menggunakan mobil travel, sisa telpon lalu dijemput di rumah. Perjalanan darat dari kota Makassar ke Pelabuhan penyeberangan Bira di Kabupaten Bulukumba, selanjutnya perjalanan dilanjutkan menggunakan kapal ferry menuju pelabuhan penyeberangan Pamatata Kabupaten Selayar, jika cuaca bersahabat waktu tempuh dari Bira ke Selayar biasanya kurang lebih 150menit, selanjutnya sambung perjalanan darat dari Pelabuhan Pamatata ke Kota Benteng kurang lebih 45 menit. Kabupaten Selayar identik dengan Taman Nasional Taka Bonerate, taman nasional yang tersohor dengan keindahan bawah-lautnya dan merupakan kawasan atol terbesar ketiga di dunia, setelah kepulauan Marshall dan Maladewa. Tetapi untuk saat ini saya tidak akan bercerita tentang Taman Nasional Takabonerate, saya hanya ingin bercerita tentang pengalaman saya selama di Kota Benteng.
Kapal Ferry sesaat setelah bertolak dari pelabuhan Bira, Bulukumba
Kapal Ferry sedang berlabuh di Pelabuhan Pamatata, Selayar.

Berangkat ke Selayar secara mendadak, sendiri dan tanpa keluarga di Selayar adalah pengalaman baru bagi saya. Bermodalkan seorang kenalan di Instagram yang mengajak saya ikut trip ke Pulau Polassi yang lagi happening, akhirnya saya tiba di Selayar dalam kondisi tetap tampan walaupun harus menempuh jalur darat dan laut selama kurang lebih 7 jam. Singkat cerita akhirnya kami bertemu di terminal Kota Benteng. Dengan ramah saya disambut. Kesan sebagai teman yang baru kenal dan bertemu seolah tidak ada, bahkan serasa bertemu dengan keluarga atau sahabat lama. Saya diajak ke kostnya untuk beristirahat, tak perduli perut yang lapar, saya lebih memilih untuk tidur menghilangkan rasa kantuk dan mengembalikan stamina yang sempat terkuras. Ketika saya bangun, hari sudah sore, sayapun diajak untuk city tour, di sekitaran kota Benteng.
Bandar Udara H. Aroeppala, Selayar.
Dari Selayar ke Makassar dengan Transnusa Air.
Spot pertama yang kami tuju adalah Taman Pusaka. Taman Pusaka ini sejenis alun-alun, tempat berkumpul, dengan ikon utamanya adalah patung Gong Nekara, pusaka kebanggaan Selayar, bagaimana tidak Gong Nekara ini merupakan tertua, terbesar dan satu-satunya di dunia. Terletak di jantung kota Benteng, ibukota Kabupaten Selayar. Taman ini merupakan salah satu tempat terbaik untuk menyaksikan matahari terbenam atau sunset. Taman Pusaka mirip dengan Pantai Losari di Makassar, ataupun Pantai Seruni Kota Bantaeng. Setiap hari selalu ramai dikunjungi oleh warga kota Benteng, baik tua maupun muda, baik muda mudi yang masih memadu kasih, maupun keluarga yang bercengkrama dengan keluarganya. Tempat ini sangat bersih, tidak ada pengamen, dan tidak ada tukang parkir. Jadi tempat ini sangat rekomended kalau berkunjung ke Selayar. Menikmati matahari terbenam dengan segelas pop ice yang murah meriah ataupun dengan semangkok bakso akan memberikan pengalaman yang tak terlupakan saat berkunjung ke Taman Pusaka.
Selfie di Taman Pusaka sambil menunggu sunset

Setelah puas menikmati suasana senja di Taman Pusaka, ternyata baru nyadar bahwa seharian belum makan apa-apa. Teman langsung mengajak saya untuk ke Kawasan Wisata Kuliner Selayar. Letaknya tidak terlalu jauh dari Taman Pusaka, hanya sekitaran 5 menit, berdekatan dengan Pelabuhan Benteng. Terdapat beberapa warung, mulai dari warung jawa, penjual aneka jus hingga warung penyedia makanan khas Kabupaten Selayar, Nasi Santan dan hidangan Seafood seperti ikan, cumi dan udang. Kami datang pada saat belum terlalu ramai, sehingga masih bebas memilih tempat. Kami memilih sebuah warung bertuliskan WARUNG MAMA MIA, mungkin yang punya warung mamanya Mia, atau entahlah. Hahahahhaha. Sebuah warung yang posisinya menyudut dengan beberapa tempat makannya pas berada dipinggir tanggul pantai. Saya memilih meja yang pas berada di tanggul pantai sambil menikmati langit jingga yang baru saja mengantarkan matahari menuju peraduannya. Perpaduan yang sempurna. Menikmati sepiring nasi santan dengan ikan bakar dan ikan goreng tepung berlatarkan langit jingga menjadi pengalaman tak terlupakan di Selayar. Soal harga tidak usah ragu, murah sampai membuat mata saya terbelalak. Soal rasa, percayalah bahwa lidah tak pernah berbohong dijamin lidah bergoyang, nasi santannya sangat gurih dan ikannya sangat lezat, apalagi disediakan 3 macam sambel, sambel racak mangga, sambel dabu-dabu dan sambel cobek terasi. Untuk penikmat seafood khususnya ikan bakar ataupun ikan goreng, tempat ini sangat direkomendasikan. Seporsi nasi santannya hanya dihargai Rp.5.000, kalau dibandingkan dengan porsi nasi sari laut di Makassar, porsinya 2kali lebih banyak. Soal harga ikannya relatif, dari harga Rp.15.000 hingga harga Rp.80.000 menyesuaikan dengan besar dan jenis ikannya. Tetapi bagi saya harga tersebut sangat murah jika dibandingkan dengan makan di restoran seafood di Makassar, kualitas ikannya pun jauh lebih segar. Saya di Selayar selama 3 malam dan setiap malam ke tempat ini untuk makan malam. Malam terakhir saya bahkan kalap, sampai makan nasi santannya 2 porsi. Hahahahahha. Nasi Santan dan Ikan Bakar serta Ikan Goreng Tepung


Ikan Bakar
Pulang dari Wisata Kuliner, sekitaran pukul 8 malam, rasanya terlalu pagi jika langsung tidur. Teman mengajak ke salah satu kafe tempat nongkrong anak muda kekinian Selayar yang lagi happeningnya, nama kafenya Coffee House atau CH. Terletak di Jalan Rauf Rahman, Kota Benteng, Selayar. Kafe ini lumayanlah untuk ukuran kota kabupaten, tempatnya lumayan choosy, ada live musik, menu minumannya pun bervariasi, seperti kafe di kota besar. Saya pun penasaran dengan green tea nya. Harganya Rp.18.000, pesanan sayapun datang, tidak sabar ingin mencobanya dan langsung saya coba. Setelah saya coba, ternyata green teanya jauh dari ekspektasi saya. Live musiknya pun semakin malam semakin kafe rasa kondangan, hanya di Selayar ada acara dangdutan di kafe. Untuk nilai, Coffee House saya beri nilai 7.
Malam kedua di Benteng, teman saya mengajak saya ke sebuah kedai kopi, nama kedainya Kedai Kopi Nongkrong, soal tempat tidak sebesar kafe CH, suasana santai, bersahaja langsung terasa pas saya masuk di kedai kopi ini, menunya hanya dua, kopi susu dan kopi hitam. Meskipun peralatannya tak sekeren dan secanggih kopi-kopi shop di kota besar, dan tidak pakai filosofi-filosofian untuk membuat dan menikmatinya, tetapi saya merasa sangat puas di tempat ini, kopi hitam hanya dihargai Rp.5.000, kopi susu Rp.8.000, sangat murah. Yang datang, mulai dari yang muda sampai yang tua, semuanya berbaur menikmati kopi racikan Bang El. Keakraban sangat terasa di kedai ini. Mungkin karena tidak ada embel-embel kekiniannya dan tanpa filososfi-filosofiannya sehingga semuanya berbaur tanpa sekat. Selain itu disisi lain kedai merupakan tempat jualan istri bang El, ada nasi kuning dan songkolo, yang dijamin enak dan murah. Songkolo hanya dihargai Rp.10.000, itu sudah pakai lauk ayam dan abon kelapa. Nasi kuningnya mulai dari harga Rp.10.000 tergantung jenis lauknya. Juga menerima ketering. Kedai Nongkrong hanya berjarak sekitar 20 meter dari Coffe House alias berdekatan, di Jalan Rauf Rahman. Untuk nilai saya hadiahi 8,5.
View dari Warung Mama Mia, gimana gak lahap makannya.
Malam terakhir, saya diajak ke Cheetos, agak jauh melepir ke arah utara, tepatnya di jalan Sudirman. kesan pertama saya, WAW. Mulai dari masuk, suasana elegan langsung terasa, apalagi ketika masuk ke dalam ruangan bebas asap rokok. Saya langsung memilih duduk di bar, sambil nanya-nanya ke mbak yang menjadi pelayan kafe, setelah membaca menunya, sayapun bertanya menu yang recommended, mbaknya hanya ngaha, alais ngomong A? Ha? Tunggu teman saya yah. Kesan kocak sudah mulai terasa di kafe ini. Si teman yang mbaknya tunggu akhirnya datang, sayapun mengulang pertanyaan sama, minuman rekomended, ekspresi mbaknya lebih lucu dari mbak yang satu, bahkan kembali nanya ke mbaknya yang tadi ngaha. Hahahhahahahhaha, asli lucu. Alhasil sayapun menggigit bibir saya sambil menahan tawa, supaya mbak-mbaknya tidak tersinggung. Setelah menjelaskan menu rekomended itu apa, mbaknya hanya melongo, dan sayapun masih penasaran dengan green tea Kota Benteng. Untuk green tea di cheetos kafe lumayan sesuai ekspektasi saya. Seorang teman lain pun datang, tak perlu lama untuk menunggu pesanannya datang, karena kami duduk di meja bar, pas di depan 2 mbak pelayan kafe yang sedari tadi dijamin kesal pada kami. Kekocakan mbak-mbaknya pun berlanjut saat teman yang baru datang meminta password WIFI kafe tersebut, dengan nada dan ekspresi sinis mbak yang ngaha tadi memberikan kami password di selembar kertas lengkap dengan penjelasan mengenai password tersebut, dari huruf besar hingga spasi yang digunakan. Karena jaringan Indosat di kota ini lumayan ngadat, akhirnya kami bertiga mencoba WIFI tersebut, dan kocaknya semua tidak bisa tersambung dengan keterangan kesalahan autentifikasi. Kami pun mengaduh ke mbaknya, jawaban mbaknya sangat keren, “hape kalian rusak”, kami bertga langsung ngakak, dan menjawab, “masa hape kami bersamaan rusak”, sayapun menimpali “kalau memang hape saya rusak, sekarang saya keluar beli hape baru”. Hahahahhaha. Setelah dicoba dan dicoba, satu teman sudah bisa tersambung, sisa kami berdua. Setelah hampir sejam menunggu, dan pengunjung sudah beberapa yang pulang akhirnya bisa juga tersambung. Ternyata WIFInya over user. Kekocakan-kekocakan lain pun tak putus hingga kami harus pulang. Tapi bagaimanapun saya sangat senang di kafe ini. Kafe ini saya hadiahi juga nila 8,5.
abang2 ketjehnya Selayar.
Coffee House
Itulah pengalaman seru saya selama di Benteng 4 hari 3 malam. Jatuh cinta dengan kota kecil di Ujung selatan Provinsi Sulawesi Selatan ini.  Tarima kasi’ Silajara.

Selasa, 03 Januari 2017

Perawan Cantik di Bulukumba Itu Ternyata Bernama Pantai Puntameng.

Menyebut nama pantai ini, mungkin masih asing bagi sebagian besar orang. Pertama tahu pantai ini karena iseng-iseng searching di google map, namun nama dan akses kesananya waktu itu saya belum tahu. Nama dan akses kesananya nanti saya tahu ketika berkunjung ke Pantai Bara bulan Mei lalu. Salah seorang warga lokal yang sedang mengerjakan lahannya di dekat Pantai Bara bernama Daeng Mattara menjadi sumber informasi saya kala itu. Waktu itu saya menemani beliau bercerita ringan tentang lahannya, lalu kemudian bertanya-tanya tentang pantai yang sebelumnya saya lihat di google map. Pucuk dicinta ulampun tiba, beliau bercerita banyak tentang pantai itu, dan memberikan petunjuk jalan untuk ke pantai tersebut. Namanya Pantai Puntameng. Menurut informasi dari beliau, antara Pantai Bara dan Pantai Puntameng, masih ada lagi satu pantai perawan, namanya Pantai Pussahelu. Mengenai Pantai Pussahelu, saya sudah tuliskan beberapa bulan lalu.
Abaikan caption instamagnya,
tetapi itu adalah penampakan Pantai Pussahelu
Untuk menemukan lokasi pantai ini tidak begitu sulit, kira-kira 5 KM dari spot utama Pantai Tanjung Bira atau sekitar 3 KM dari Pantai Bara. Akses ke Pantai Puntameng masih berupa jalan pengerasan yang belum tersentuh oleh aspal. Dari spot utama Tanjung Bira, harus melewati jalan yang berliku-liku sebelum sampai di pertigaan menuju Pantai Bara. Setelah mengambil arah kanan dari pertigaan ke arah Pantai Bara, jalan menjadi semakin sempit dan pemandangan semakin memaksa untuk berdecak kagum. Sisi jalan masih berupa hutan-hutan dengan vegetasi beraneka macam pohon tropis yang rindang, namun sebagian lahan sudah ada yang mulai dijamah oleh pemiliknya. Menurut Daeng Mattara, lahan disekitar pantai ini tak jarang juga yang menjadi tanah sengketa. Dalam perjalanan dari pertigaan Pantai Bara, sekitar 2 KM kita akan menemukan petunjuk jalan yang mengarahkan menuju Pantai Pussahelu. Arah kiri atau laut ke Pantai Pussahelu dan arah lurus menuju ke Pantai Puntameng. Jarak dari Pantai Pussahelu ke Pantai Puntameng sekitar 1 KM dengan kondisi jalan yang hampir sama dengan jalan dari Pantai Bara ke Pantai Pussahelu. Pantai Puntameng merupakan salah satu dari sederet nama pantai pasir putih Kabupaten Bulukumba yang terkenal dan masih termasuk bagian dari Kawasan Wisata Pantai Pasir Putih Tanjung Bira.
Pasukan berani berkulit hitam dan eksotis, yang penting bahagia dan senang
Sesampainya saya dan beberapa orang teman di Pantai ini, kami langsung berhamburan, ada yang langsung mencari tempat berteduh, ada yang langsung mencari posisi untuk mengambil gambar dan saya hanya bingung mencari jalan untuk turun ke pinggir pantainya. Belum ada jalan yang terlalu jelas untuk menuju pantai dari tanah lapang tempat kami memarkirkan mobil. Akhirnya saya menemukan jalanan kecil yang menuju ke pinggir pantai. Tak perduli kulit akan semakin eksotis dan sebagainya kami tetap asik bermain seperti anak kecil yang tak perduli dengan teriknya sinar matahari pukul 11 siang. Saya langsung menceburkan diri, berenang di pinggir pantai yang agak landai dan sangat mencukung untuk berenang sementara yang lainnya berjalan menyusuri garis pantai hingga ujung. Garis pantai dari pantai ini tidaklah sepanjang dengan garis pantai yang dimiliki oleh Pantai Bara, hanya sekitar 100 meter lebih dengan hamparan pasir putih yang bersih dan lembut.

Yang paling atas Ndoro Putri alias Wardina Suwedi, S.T., M.T.
Yang Tengah saya
Yang bawah Lombok Botol alias Novelly Mitha Kambuno, S.T.
Pesona Pantai Puntameng tidak hanya sampai pada pantainya yang belum terjamah dan pasirnya yang memanjakan kaki dengan kelembutannya, tetapi pantai ini masih memilki beberapa keunikan yang lain. Salah satu keunikan yang ditawarkan adalah adanya lorong sempit diantara batu karang yang berada di pinggir pantainya, seolah-olah karena batu karang tersebut terbelah. Lorong sempit ini panjangnya sekitar 6 meter dengan lebar kurang dari 1 meter. Puas menikmati keunikan ini kami langsung berenang di pinggir karang tersebut. Karena penasaran dengan ada apa lagi selanjutnya akhirnya kami memutuskan untuk menyusuri pinggir karang tersebut, dengan kedalama air sampai di perut. Kami hanya bisa terdiam sambil menutup mulut ketika menemukan lagi satu lorong yang lebih keren jika dibandingkan lorong yang pertama tadi. Mengapa saya menyebutnya lebih keren? Karena untuk masuk ke dalam lorong ini kita harus menyusuri pantai sepanjang kurang lebih 10 meter dengan kedalaman air sampai perut untuk ukuran saya yang memiliki tinggi sekitar 170 cm lebih. Lorong ini lebih sempit lagi dibanding dengan lorong sebelumnya. Beberapa sisi karang ada yang berlubang, mungkin karena hantaman ombak yang terus menerus dari ratusan bahkan mungkin ribuan tahun yang lalu. Sehingga jika ombak datang menghantam tebing karang tersebut maka air akan masuk melalui lubang-lubang kecil tersebut dan akan keluar melalui mulut lorong tersebut. Lebar lorong ini sangat sempit, susah untuk dua orang berpapasan apalagi dengan ukuran XL kayak saya.
Oom Patrick Paduli, fotografer handal sekaligus driver kami yang kocak dan gila
Selain dua lorong berlawanan arah tersebut, salah satu keindahan yang masih ditawarkan dari tebing pantai ini yaitu adanya tanggadari atas tebing langsung turun ke laut yang terbuat dari batang pohon bulat utuh. Tangga ini kemungkinan besar digunakan oleh nelayan lokal yang menangkap ikan disekitaran pantai ini. Tetapi saya tidak sempat untuk naik ke atas tebing karang untuk melihat ada apa di atas sana karena teman-teman yang lain sudah memanggil-mangggil untuk pulang. Oh iyya lupa, meskipun pantai ini masih perawan dan belum terlalu eksis di sosial media, tetapi gelagat pantai ini akan dikembangkan sudah ada, terbukti dengan sudah didirikannya sebuah bangunan permanen yang sedang dalam proses pembangunan di pinggir pantai di atas tebing bagian kiri pantai ini.
Lorong yang sangat cantik, cocok buat ngegosip.
Mengenai biaya ke lokasi ini sangat terjangkau, pengunjung akan dikenakan tarif Rp 10.000 per orang untuk masuk di Kawasan Wisata Pantai Tanjung Bira, nah setelahnya itu sudah tidak ada lagi yang harus dibayar. Kecuali untuk membeli keperluan pribadi. Tetapi ada baiknya menyediakan uang lebih, jangan sampai mengalami hal seperti saya, yaitu datang ke Pantai Pussahelu tidak membawa uang sepersen pun, padahal di sana sudah ada uang parkir yang harus dibayar sebesar Rp 15.000, karena waktu berkunjung beberapa waktu lalu belum ada yang mengelolah parkirnya. Nah siapa tahu hal ini juga sudah berlaku di Pantai Puntameng, jadi siapkan saja uang sekitar Rp 20.000.
Di bibir lorong bermain dengan air dan ombak yang manja
Penginapan dan tempat makan jika ingin menginap?. Penginapan di sekitaran pantai ini belum ada, karena murni berada di tengah hutan yang masih belum terjamah, jadi untuk menginap bisa bawa tenda jika ingin menginap di sekitaran pantai ini, tetapi harus hati-hati karena masih ada beberapa binatang hutan yang rajin berkeliaran seperti monyet dan ular. Jika mencari fasilitas penginapan, di Pantai Bara juga sudah terdapat penginapan, namun di sekitar Pantai Tanjung Bira lebih banyak pilihan dengan harga yang terjangkau. Jika bukan musim libur sewa penginapan hanya berkisar antara Rp 200.000 – Rp. 500,000 tergantung fasilitas dari penginapan yang anda pilih. Kamarnya bisa menampung 4 hingga 6 orang jika ukuran backpacker, tetapi untuk ukran turis dan wisatawan yah seperti penginapan-penginapan umumnya hanya 2 hingga 3 orang perkamar. Tempat makan, sama, tidak ada juga, bahkan jika bukan musim libur di kawasan utama Pantai Tanjung Bira juga agak sepi dari penjual makanan jadi, harus bangun pagi-pagi sekitar pukul 09 pagi untuk ke Spot Utama Tanjung Bira agar bisa mendapat penjual nasi kuning yang menjajakan nasi kuningnya menggunakan motor. Harganya hanya Rp. 10.000 dengan isi nasi kuning, mie dan telur. Nasinya sedikit, bagi yang kuat makan mungkin butuh 2 porsi. Tetapi ada kok restoran yang buka setiap hari. Namanya restoran yah harganya agak diatas dikit, harga terendah sekitar Rp. 25.000 per porsi. Jadi mengenai biaya dan pengeluaran tergantung anda memilih. Kalau starting pointnya dari Kota Makassar, perjalanan darat sekitar 4 sampai 5 jam, dengan kondisi jalan mulus. Biaya untuk BBM jika menggunakan roda empat sekitar Rp.500.000 itu sudah pergi pulang alias PP, jika roda dua lebih irit lagi. Untuk yang suka ketenangan datanglah ppada saat bukan musim libur atau hari kerja, dijamin tenang dan pantainya menjadi milik pribadi.
Tangga menuju surga, Lorong-lorong sempit, Ombak Manja,
Pasir putih halus. Paket komplit yang Pantai Puntameng
sajikan. Jangan dikotori yah.
Tips jika mengunjungi pantai ini
  • 1.       Bagi yang kulitnya sensitif terhadap sinar UV jangan lupa membawa sunblock, kacamata dan topi lebar, karena namanya pantai pasti panas, kecuali kalau musim hujan.
  • 2.     Ada baiknya membawa persediaan minuman dan cemilan, karena di pantai ini belum ada penjual sama sekali. Untuk air saya sarankan membawa lebih jika ingin membilas badan setelah bermain air, ngapain ke pantai kalau tidak main air, foto doang? kasihan pantai secantik Puntameng dianggurin.
  • 3.       Sebaiknya membawa sarung jika tidak  ingin kendaraan Anda basah karena tidak mengganti baju basah. Mengapa harus ada sarung? Karena disini belum ada kamar mandi ataupun tempat ganti, kalau cowok mah tidak masalah, di balik semak pun jadi, tetapi kalau cewek kan tidak mungkin.
  • 4.   Yang utama saudara-saudari adalah kantong sampah, pantai ini masih sangat perawan dan bersih, kasihan banget jika kita hanya datang ke sini untuk mengotori, apalagi jika sampahnya sampah yang tidak bisa terurai. Tetapi terurai atau tidak terurai tidak ada toleransi untuk membuang sampah bebas, karena bersih itu sebagian dari iman, maukan dapat pahala hanya karena tidak membuang sampah sembarang? Pasti pada mau kan.
  • 5.       Gunakan pakaian yang sesuai, sendal jepit, celana pendek dan kaos, karena mungkin beberapa maasih enggan untuk berbikini. Intinya gunakan pakaian yang nyaman, jangan menggunakan gaun, sepatu hak tinggi, celana jeans atau sepatu sporti. Kan tidak lucu jika ada yang bertanya mau ke pantai atau mau kondangan?
  • 6.       Jangan lupa kamera dan kacamatanya disipakan yah, jalan-jalan tanpa foto kan sama saja sayur tak bergaram, tetapi banyak kok yang suka sayur tak bergaram untuk diet katanya. Kacamata, sangat penting karena panas dan sangat menyilaukan,  kan tidak lucu kalau foto batal dipamer di sosial media hanya karena muka jelek yang disebabkan oleh mata tertutup atau kening dan dahi yang mengernyit karena kesilauan.
      Sekian dari saya semoga bermanfaat.