Tampilkan postingan dengan label Kab. Gowa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kab. Gowa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Maret 2015

Happy Holiday Malino : Hutan Pinus dan Air Terjun Takapala



Saya masih duduk manis di depan TV menyaksikan acara jalan-jalan yang disiarkan di salah satu stasiun TV swasta nasional. Sahar menghampiri saya, menyuruh saya siap-siap, “siap-siap mako, saya kira mauko ke Malino, maumi jam 9, pi mako cepat mandi”. Saya segera mematikan TV dan beranjak menuju kamar mandi, hanya butuh 3 menit untuk mandi, Sahar lalu menggantikan saya di kamar mandi. 10 menit berlalu. Kami berdua sudah siap dan motor sudah panas karena dipanasi sedari tadi sebelum mandi. Sebelum kami berdua tancap gas, tak lupa mempersiapkan semua perlengkapan yang kami butuh di lokasi, tongkat narsis, kaca mata, topi, power bank, kabel data, dompet, handphone dan baju ganti. Sahar sudah mengeluarkan motor biru kesayangannya dari Garasi. Saya masih di depan pintu mengecek kembali semua perlengkapan yang kami butuh, dan semuanya sudah beres dan lengkap, saya mengunci pintu rumah, kemudian mengunci pagar. Kami berdua tancap gas menuju Antang, karena di sana kami janjian dengan Unyi dan Ari.
Assalamu Alaikum, Malino
Jalanan protokol Kota Makassar tidak terlalu ramai, mungkin karena hari Minggu, hanya butuh 10 menit untuk tiba di depan gerbang masuk TPA Antang, disitu kami singgah menunggu Unyi dan Ari. Menunggu mereka berdua lumayan bikin bete, sekitar setengah jam akhirnya mereka berdua menampakkan batang hidungnya. Tak perlu berlama-lama untuk melanjutkan perjalanan menuju ke Malino, kami berempat tancap gas menuju Malino melalui jalur Samata. Unyi membonceng Ari dan Sahar membonceng saya, kami berempat beriringan dengan Unyi dan Ari di depan, sahaar mengikuti dan tak pernah mendahului mereka.
Memasuki area Samata, mata kami dimanjakan dengan pemandangan yang menghijau di sisi kiri dan kanan jalan. Sawah dan gunung merupakan suatu landscape yang tak pernah ada matinya untuk memanjakan mata yang lelah memandang hutan beton dan kemacetan kota setiah hari. Di sepanjang jalan tidak begitu banyak rumah, lingkungan masih hijau, jalan sepi kendaraan dan polusi bisa dikatakan tidak ada, sangat berbeda dengan kondisi kota Makassar. Beberapa kali kami menemui warga yang lagi menjemur padi di halaman rumahnya, beberapa juga lagi menyiangi sawah yang sedang ditanami padi. Tanpa terasa kami memasuki kawasan jalan rusak dan penanjakan, itu pertanda jalur utama Sungguminasa - Malino sudah dekat. Setiap pengendara menurunkan kecepatan kendaraannya, bahkan ada yang singgah jika harus berpapasan dengan kendaraan dari arah berlawanan. Penanjakan dan jalan yang sangat rusak membuat setiap pengendara harus ekstra hati-hati dalam mengendalikan kendaraannya. Selepas jalan rusak kami langsung mendapatkan jalan poros Malino – Sungguminasa. Karena tujuan kami adalah Malino, maka kami mengikuti jalan poros tersebut. Pemandangan di sebelah kanan dan kiri sangat mempesona, berupa danau bili-bili dan areal persawahan di kejauhan sana, dan semua itu sungguh menakjubkan.
Menikmati sejuknya Hutan Pinus Malino
Sekitar satu stengah jam lebih, berkendara akhirnya kami tiba di gerbang selamat datang Malino, kami singgah istirahat sejenak setelah gerbang tersebut dan tak lupa berfoto ria. Perjalanan kembali kami lanjutkan menuju kawasan wisata hutan pinus Malino dan hanya butuh waktu sekitar 5 menit untuk sampai. Sesampainya di Malino hawa langsung berubah, menjadi sejuk meskipun mentari bersinar terang. Suhu udara sekitar 19-21 derajat celcius, sangat sejuk.
Bercengkrama di hutan pinus Malino
Karena jalan yang berkelok-kelok dan rata-rata menanjak, ditambah kami hanya sarapan air sebelum berangkat, sehingga perut kami minta untuk diisi. Kami memutuskan untuk singgah makan siang di salah satu warung yang berjejer di depan kawasan wisata hutan pinus tersebut. Menu yang ditawarkan rata-rataa sama, yaitu coto, olahan mie instant, ketupat dan buras. Saya dan Sahar memesan mie instant rasa soto, tetapi Sahar minta tambahan telur, Unyi memesan mie goreng sedangkan Ari memesan coto. Tak berapa lama berselang pesanan kami datang, kami langsung menikmati pesanan kami masing-masing, di temani ketupat daun pandan sebagai pelengkap yang sangat harum aromanya.
GRUFIE dulu sebelum beranjak dari Hutan Pinus Malino
Di sini adalah tempat dimana menikmati mie instant paling enak, nomor dua adalah di Bulu Dua Kabupaten Soppeng, dan terakhir di Kampus di Mace Norma di terminal Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan. Masing-masing kami menghabiskan dua ketupat. Meskipun kami sudah kenyang tetapi kami masih tinggal sejenak untuk mengobrol. Sekitar stengah jam di warung tersebut, selanjutnya kami menuju ke areal hutan pinus, yang sisa berjarak puluhan meter dari lokasi tempat kami makan. Sebelum memasuki gerbang, kami di wajibkan membayar tiket masuk, seharga Rp.3.000 per orang, dan untuk anak-anak dikenakan Rp.2.000 per anak. Saya menyodorkan uang Rp.12.000 karena kami berempat, dan kami diperbolehkan memasuki kawasan wisata hutan pinus tersebut. Soal kesegaran udara tidak usah dipertanyakan, keindahan pemandangan sanggup membuat anda berdecak kagum. Tempat ini sudah sangat ramai, karena memang hari sudah siang, dan kebetulan bertepatan dengan hari Minggu sehingga wajar kalau lokasi ini sangat ramai. Tampak beberapa rombongan sudah tiba duluan, dan ada juga yang baru tiba setelah kami di lokasi ini. Para penyewa kuda tunggangan menghampiri setiap rombongan yang datang, menawarkan jasa mengelilingi hutan pinus menggunakan kuda. Saya lupa menanyakan sewa sekali naik kuda tersebut, tetapi banyak wisatawan yang berminat dan tertarik untuk menggunakan jasa mereka, terutama anak-anak.
Air Terjun Takapala yang mempesona
Kami berempat mencari lokasi yang agak sepi pengunjungnya, agar kami bisa lebih menikmati suasananya. Akhirnya kami memilih di bagian agak belakang untuk duduk bercengkrama dan tak lupa mengabadikan gambar diri kami. Tongsis dari tadi tak pernah lepas dari tangan kami. Untungnya tongsis di Indonesia tidak dilarang, sehingga kami bisa dengan bebas berekspresi tanpa harus kucing-kucingan atau takut kedapatan. Karena suasana yang tidak terlalu ramai, sehingga kami bisa bercengkrama dan mengambil gambar dengan leluasa tanpa harus menjadi perhatian orang yang lalu-lalang. Kawasan wisata hutan pinus sangat ramai, beberapa rombongan anak sekolahan yang menggunakan bus besar, dan beberapa juga rombongan keluarga lainnya serta muda-mudi yang menggunakan kendaraan roda dua semuanya tumpah ruah memadati kawasan wisata hutan pinus. Tempat ini menjadi icon wisata favorit di Malino, rasanya tak lengkap ke Malino jika tak mengunjungi kawasan wisata hutan pinus ini.
saya
Malino, merupakan sebuah kelurahan yang terletak di Kecamatan Tinggi Moncong, Kabupaten Gowa. Berjarak sekitar 77 Km dari kota Makassar, ibukota provinsi Sulawesi Selatan dan 63 KM dari kota Sungguminasa ibukota Kabupaten Gowa, menjadikan Malino merupakan kawasan wisata favorit warga Makassar dan sekitar Kabupaten Gowa, bahkan di Sulawesi Selatan.  Membutuhkan waktu sekitar 1 ½ - 2 jam dari kota Makassar dan kota Sungguminasa, tergantung bagaimana kita mengatur laju kendaraan yang  kita kemudikan. Jarak yang tidak begitu jauh, bermacam-macam destinasi wisata, harga karcis masuk yang terjangkau,  masyarakat lokal yang ramah dan suhu udara yang sangat sejuk membuat Malino menjadi destinasi favorit liburan keluarga atau liburan bersama teman-teman.
Keindahan yang maha Sempurna, sempurnanya hidupku
Puas menikmati suasana hijau dan sejuknya kawasan wisata hutan pinus, kami berempat beranjak menuju salah satu air terjun yang ada di sekitaran Malino juga.  Air Terjun Takapala. Letak air terjun ini saya lupa apa nama kelurahannya, tetapi masih di kawasan Malino, kira-kira berjarak kurang lebih 8KM dari kawasan hutan pinus. Untuk menuju air terjun ini, harus mengambil arah balik menuju kota Makassar, mungkin sekitaran 3 atau 4KM dari hutan pinus. Jalan masuknya terletak di dekat kantor kelurahan Malino, masuk kurang lebih 4KM ke dalam, dengan kondisi jalan yang agak rusak, sempit, pendakian dan penurunan serta berkelok-kelok. Menuju ke air terjun Takapala, lebih efisien jika menggunakan kendaraan roda dua, tetapi jangan khawatir kendaraan roda 4 pun bisa sampai, namun harus ekstra hati-hati karena jalan sempit, rusak, pendakian dan penurunan serta jurang yang dipinggir jalan. Mata kita akan dimanjakan dengan landscape berupa hamparan sawah yang membentang menghijau, bertingkat-tingkat membuat perjalanan yang menguras tenaga ini seolah terbayar.
Grufie bersama Sahabat
Sekitar stengah jam berkendara akhirnya kami menemukan marka yang menunjukkan bahwa Air Terjun Takapala sudah dekat, sekitaran 200 meter lagi. Unyi memasuki jalan kecil yang sangat sempit dan hanya berupa pengerasan, Sahar pun mengikut. Sebelum masuk, kami harus membayar karcis, lagi-lagi hanya Rp.3.000 per orang yang kami harus bayar, harga yang sangat-sangat murah. Setelah merogoh kocek dan menyerahkan uang pas, kami berempat melanjutkan perjalanan. Takapala sudah kelihatan dari jarak 100 meter. Subhanallah, sangat indah. Kami singgah untuk mengambil gambar. Tak cukup kata untuk mendeskripsikan keindahan ciptaan sang Khalik. Puas berfoto, saatnya mlanjutkan perjalanan menuju lokasi parkir. Sudah tampak beberapa kendaraan roda 4 dan puluhan kendaraan roda 2. Seorang juru parkir mengarahkan kami untuk memarkir kendaraan kami di samping kendaraan roda dua yang sedari tadi dititip oleh pemiliknya. Selanjutnya kami menuju ke air terjunnya. Untuk sampai ke lokasi air terjun, kami harus menaiki beberapa anak tangga yang kiri kanannya rumah warga. Ramainya pengunjung di hari libur dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk menambah pundi-pundi rupiah. Mereka membuka warung-warung kecil yang menyediakan berbagai macam gorengan hangat, minuman dingin, ataupun minuman panas.
jangan takut di bawah, ada keindahan yang bisa dirasakan hanya jika berada di bawah
Berada di dekat air terjun seperti kita sedang main-main hujan, hujannya sangat deras. Hal ini dikarenakan oleh tampias air, yang jatuh dari ketinggian sekitar 30 meter, kecepatan angin yang lumayan tinggi membuat butiran-butiran air ikut terbawa angin dan membasahi daerah sekitar air terjun. Angin yang cukup kencang mengakibatkan hujan lokal yang deras, mengharuskan kami berteduh. Kami memilih sebuah warung kecil yang menyediakan gorengan plus tempat duduk untuk menikmati gorengan tersebut. Kami berempat menikmati gorengan hangat sekaligus minuman yang kami beli di kota malino tadi. Perkiraan kami tidak ada penjual, nyatanya disini banyak penjual. Menikmati gorengan hangat dengan latar pemandangan air terjun, rasanya itu.. hmmmm perfectoshhhhhh. Sekitar stengah jam dengan obrolan ringan, sambil bertanya-tanya kepada ibu pemilik warung, akhirnya hujan lokal agak redah. Saatnya mengambil gambar. Tampak di sekitar kami pengunjung sudah ramai, ada rombongan keluarga, tetapi kebanyakan anak muda bersama teman-teman mereka, termasuk kami juga. Tak perduli lelaki perempuan, tua dan muda semuanya senang dan kagum menikmati keindahan ciptaan Tuhan sang maha Sempurna. Mereka semua asik mengambil foto dengan latar air terjun yang indah ini. Yah lumayan buat dipasang di path, twitter, instagram, facebook dan dijadikan DP BBM, hehehehe, tanpa terkecuali kami berempat. Saya, Sahar dan Unyi nekat turun di sungai, dekat kolam air terjun tersebut, dengan kehati-hatian yang sangat ekstra akhirnya Sahar dan Unyi sampai di bongkahan batu yang sangat besar di pinggir kolam besar air terjun tersebut. Saya juga ingin naik di bongkahan tersebut, tetapi Sahar dan Unyi melarang saya, sangat licin dan harus manjat, takutnya mereka saya jatuh. Senang sekali memiliki dua sahabat seperti mereka, yang bisa diajak gila dan juga peduli. Berdiri dipinggir kolam air terjun ini serasa hujan badai, semua badan basah sebasah-basahnya. Tetapi semuanya terbayar dengan keindahan yang kami jumpai. Sudah puas, sudah lelah, sudah sore, saatnya kita pulang.
Happy Holiday With Happy People
Setelah menyelesaikan pembayaran pada ibu pemilik warung, dan berterima kasih, kami berempat pamit untuk kembali ke Makassar. Jam digital di tablet saya menunjukkan pukul 16.09 sore, kami berempat kembali menaiki kendaraan kami masing-masing, Unyi membonceng Arie, dan Sahar membonceng saya. Perjalanan pulang masih diwarnai dengan pemandangan alam yang memanjakan mata. Setelah berkendara selama dua jam, akhirnya kami tiba kembali dengan selamat di Makassar.
Unyi
Sahar, salah satu sahabat terbaikku

Sempurna

Terima kasihku kepada : Allah SWT, Tuhanku sang Maha Indah yang sangat mencintai keindahan. Orang Tuaku yang menjadikanku wujud nyata sehingga bisa melihat indahnya dunia. Indonesiaku, surga yang nyata di kehudupan nyata. Sahabatku, Sahar. Unyi dan Arie, tanpa kalian apa arti perjalanan ini, love you. Pahlawanku, tanpa mereka, mungkin Indonesia masih dijajah, sehingga tidak bisa bebas menikmati keindahan Indonesia. Warga Malino, atas keramahannya, kesadaran dan kepeduliannya untuk tetap menjaga kindahan dan kelestarian lingkungannya. Thank you so much.


Makassar, Maret 2015. Sampai jumpa di cerita selanjutnya.

Achyie Sabang


Kamis, 29 Mei 2014

Air Terjun Parangloe : The Hidden Paradise



Air Terjun Parangloe : The Hidden Paradise

Akhir pekan merupakan salah satu hal yang sanagta dinantikan oleh semua orang, baik yang pelajar, mahasiswa, karyawan ataupun bos-bos yang berdasi. Mengunjungi lokasi air terjun merupakan salah satu hal yang menarik, apalagi jika perginya bersama teman-teman atau sahabat terdekat. membayangkan pemandangan yang hijau, segarnya udara dan suara gemericik air yang berjatuhan merupakan sensasi yang sangat menarik, membayangkannya saja sudah menakjubkan, apalagi jika menyaksikan langsung di depan mata. 

Berbicara mengenai air terjun, orang-orang di Makassar dan sekitarnya sudah tidak asing lagi dengan air terjun Bantimurung yang terletak di Kabupaten Maros Sulawesi Selatan, menghabiskan waktu tempuh kurang lebih sejam untuk mencapainya dari kota Makassar. Namun ada satu Air Terjun dari sekian banyak air terjun yang ada di Sulawesi Selatan, bernama Air Terjun Parangloe, yang mana belum terlalu diketahui oleh khalayak ramai. 

Hari itu saya mengajak 7 orang teman saya untuk kesana, bersama Aswan, Amir, Wawan, Abhy, Mely, Fachry, dan Echa saya siap untuk mengeksplore Kabupaten Gowa, tepatnya di Air Terjun Parangloe. Air Terjun Parangloe terletak di Desa Parangloe, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Penamaanya mungkin karena disesuaikan dengan nama Desa tempat Air Terjun berada. Tetapi terkadang orang menyebutnya dengan nama Air Terjun Bantimurung II, saya tidak tahu pasti kenapa, karena karakteristik air terjun Parangloe sangat berbeda dengan Air Terjun Bantimurung, saya pernah membaca sebuah tulisan, bahwa Air Terjun parangloe bermuara ke Air Terjun Bantimurung yang ada di Kabupaten Maros, mungkin ini ada kaitannya. 
Untuk Sampai di lokasi Air Tejun Parangloe bisa di tempuh melalui 2 jalur yaitu jalur poros Makassar - Malino via Kota Sungguminasa ( Ibukota Kabupaten Gowa) atau melalui jalur poros Makassar - Malino via Samata Pattallassang. Karena kami berdelapan belum ada yang pernah pergi ke Air Terjun Parangloe, Maka sebelum kita start, kita googling maps dulu, dari sini kita dapat informasi, bahwa jika via kota Sungguminasa, waktu tempuh sekitaran kurang lebih 2jam, sedangkan kalau melalui jalur Samata Pattallassang waktu tempuh tidak cukup 2 jam, sekitaran 1 jam setengah. setelah berembuk, akhirnya kita jadinya mengambil jalur via Samata Pattallassang. Perjalanan pun dimulai start dari rumahnya Aswan di sekitaran Vetran Selatan. 
Nge COTO dulu sebelum berangkat biar kuat
Wawan, Sabri, Amir, Saya, Fachry, Aswan, Mely dan Echa 
Wawan yang mmenyetir dan di sampingnya ditemani oleh teman kami yang paling cantik, Mely (Maklum dia sendiri cewek yang ikut. hahahhahah). dengang mengandalkan Google Map kami berdelapan berangkat. sejam setelah perjalanan tepatnya sekitaran daerah Pattallassang, kami menemukan jalanan menanjak, jalanannya rusak parah, dan apesnya mobil tidak bisa menanjak dengan muatannya yang penuh. daripada terus-terusan mundur, ada baiknya kami turun sebagian, saya, Amir dan Sabri memutuskan untuk turun berjalan kaki. mobilpun sedikit demi sedikit bisa berjalan, sekitaran 20 meteran kami mendaki dengan kemiringan sekitar 45 derajat. perjalananpun kami lanjutkan menuju poros Malino, 

Menemukan lokasi Air terjun ini bagi kami yang masih awam, merupakan suatu hal yang lumayan susah, memngingat disekitaran lokasi tidak ada tanda-tanda yang mengindikasikan jika di daerah sekitar ada surga kecil dari Tuhan. setelah melewati daerah kawasan Bendungan Bili-Bili, mungkin sudah hampir stengah jam memacu, si Fahri bilang kalau kita sudah dekat ke Malino, dalam artian ini kami tersesat. hahahahahaha, dengan saling menertawakan, Wawan memacu mobil dengan kecepatan rendah, mencari warga yang bisa ditempati untuk bertanya,  Tidak lama kami menemukan sebuah warung, setelah saling tunjuk untuk singgah bertanya, akhirnya saya dan Fahry yang turun, dengan sedikit bubuhan bahasa Makassar, kami berdua bertanya. dan ternyata betul kami sudah sangat jauh melewati jalur masuk lokasi air terjun Parangloe. pesan saya, jika baru pertama kali kesini, ada baiknya singgah bertanya di daerah sekitaran 10 KM setelah Bendungan Bili-Bili. dari Ibu yang baik hati ini kami mendapatkan informasi jika kami harus memutar arah atau kembali lagi sampai kami mendapatkan kantor PT INHUTANI, disitu kami disuruh bertanya lagi. dalam hal ini kami tersesat sejauh kurang lebih 5KM, tetapi tersesat itu indah kawan. Apalagi jika tersesat di belantara hati wanita cantik,, hahahhahaha (Intermezo). dari seorang informan, kami ditunjukkan jalan, setelah berterima kasih, kamipun melanjutkan perjalanan, Wawan menyalakan weser kanan, (kalau dari Makassar pakai weser kiri) sekitar 100 meter menyusuri jalan sempit yang lumayan tergenang, (habis hujan semalam) di samping PT INHUTANI, terlihat beberapa motor yang diparkir, Wawan pun memutuskan memarkir mobil. setelah turun kami melapor ke petugas yang ada di PT Inhutani, tanpa panjang lebar kami mengutarakan maksud kami untuk diantar menuju air terjun. Maka kami berdelapan ditemani 2 guide siap berjalan kaki menuju lokasi Air Terjun Parangloe. kata bapak yang mengantar (lupa ditanya siapa namanya) perjalanan kurang lebih 2 KM, dengan kondisi medan yang menanjak di tengah hutan produksi PT Inhutani. 
bersama petugas PT INHUTANI di tengah Hutan.
Perjalanan pun di mulai, disambut dengan jalanan yang berbatu tetapi agak becek, kata bapak kita potong kompas saja supaya lebih dekat, akhirnya kami diarahkan menuju jalan setapak yang lumayan licin dan mendaki, dengan hati-hati kami berjalan. Ngos-ngosan pun tak terelakkan, kami berjalan sudah hampir 10 menit, kami sudah masuk pada jalur perjalanan pada umumnya, sekitaran 5 menit berjalan di jalanan berbatu di tengah hutan produksi PT Inhutani, kami dipepet oleh serombongan komunitas pencinta mobil offroad dari Makassar, dengan saling menyapa senyum, mereka pun lewat, sekitaran 10 mobil lebih. perjalanan yang meleahkan lumayan terhibur oleh suara burung yang bersahutan. tidak jauh berjalan kami sampai disekitar tanah lapang, di sini terdapat papan pengumuman yang bertuliskan beberapa himbauan.  

papan pengumuman yang berisi beberapa himbauan

Prasasti untuk mengenang korban yang meninggal
Perjalanan dilanjutkan dengan mengambil arah ke kiri, sekitar 10 meter kami disambut oleh sebuah prasasti, artinya di tempat ini pernah jatuh korban. Medan semakin terjal, kami menyusuri jalan setapak yang licin dan menurun dengan kmiringan 30-60 derajat. dari sini gemuruh air terjun  sudah kedengaran, perjalanan masih ada sekitar 100 meter. setelah berjalan air terjun pun sudah mulai kelihatan. Kecantikannya membayar lunas smua kelelahan sebelumnya. jalan semakin licin rasa penasaran dan ingin cepat sampai di dekat air terjun semakin menggebu. ngos-ngosan tak menjadi penghalang, dengan hati-hati kami berjalan. Kami pun menemukan prasasti kedua. setelah sampai pas dihadapan air terjun, saya hanya bisa diam, seolah semua kata lumpuh untuk menjabarkan keindahan Air Terjun Parangloe. 
Air Terjun Parangloe dengan keindahannya yang mempesona
 Sejuta rasa syukur saya hatur kepada Tuhan Sang Maha Indah.  Sebuah Air Terjun yang jauh tersembunyi dari hiruk pikuk kota, yang terlindung di dalam rimbunnya hutan.  Mencapai sesuatu yang indah, yang menakjubkan, tidak bisa dengan cara Instan, butuh pengorbanan dan cucuran keringat untuk bisa mencapainya. dan tiba-tiba saya teringat oleh ungkapan teman saya, "yang tersembunyi itu biasanya yang terindah". 
Air terjun Parangloe, keindahan maha sempurna dari Sang Pencipta
Keindahan Air Terjun Parangloe didukung oleh air terjunnya yang bertingkat-tingkat, dengan lapisan batu yang tersusun secara alami sekitar 20 meter.  Sumber Airnya berasal dari sebuah sungai dengan lebar sekitaran belasan meter. Debitnya lumayan deras, apalagi jika musim hujan. Pemandangan yang menakjubkan mseolah-olah mebuai kita dan mengajak kita berlama-lama untuk disini, jepret sana dan sini, merupakan aktivitas paling menarik. 
Grufie dengan latar belakang Air Terjun Parangloe
Pokoknya lokasi ini sangat mendukung bagi pencinta fotografi, takkan ada bosannya untuk menjepret air terjun dipadukan dengan hijaunya hutan dan birunya langit, kombinasi yang sangat unik. Jika debit tidak terlalu besar kitapun bisa mandi menikmati pijakan air terjun, hari itu Aswan dan Fachry memutuskan untuk mandi, kami hanya berjepret ria. Jika mandi disini kita harus berhati-hati karena terkadang air bah datang secara tiba-tiba. sehingga ada baiknya memperhatikan tanda-tanda alam, misalnya air yang mulai keruh, atau awan yang mendung di daerah hulu, sebaiknya menpi untuk menghindari hal yang tidak-tidak. Berhubung cuaca mendung hari itu Aswan dan Fachry mandi cuma 10 menitan. 18 Mei 2014 kemarin, Air TerjunCantik ini kembali menelan 6 korban, namun 3 diantaranya berhasil selamat, sementara 3 orang lainnya tak tertolong lagi. Tetapi jangan khawatir selama kita menaati dan mematuhi himbauan di papan pengumuman, dengan Izin Tuhan kita pasti selamat. 

Karena hari ini yang akan kita rindukan




Nah disinilah pentingnya kita membaca papan pengumuman yang terpajang setinggi 3 meter sebelum masuk di lokasi Air Terjun Parangloe. Selain itu ada baiknya kita melapor kepetugas PT Inhutani jika ingin memasuki kawasan Air Terjun Parangloe. Jika perlu minta tolong pada petugas untuk diantar, mereka tidak mematok tarif tertentu. Karena merekalah yang lebih paham mengenai situasi dan kondisi disini. 

Tak cukup kata untuk mengungkapkan kepuasan kami
Setelah puas bercengkrama dengan Air Terjun Parangloe, dan jarum jam menunjukkan pukul stengah 3 sore, kamipun berkemas untuk meninggalkan Si Cantik Parangloe yang tersembunyi di balik hutan ini. perjalanan kami lanjutkan setelah pamitan kepada dua orang bapak yang berbaik hati mengantar dan mendampingi kami. Tak lupa kami memberi ucapan terima kasih kepada bapak. Dengan selembar cerita baru, kami berdelapan menuju Makassar dengan perasaan puas. 

Foto Bersama dengan latar Air Terjun Parangloe sebelum pulang
Echa, Mely, Amir, Saya, Sabri, Fachry dan Aswan
yang motoin Wawan
Hingga kini tempat ini belum masuk kategori wisata umum untuk keluarga, dikarenakan kondisi medan yang tidak menunjang, Tetapi bagi mereka sang pencinta petualang, fotografi, dan backpacker sejati, ini adalah SURGA. 


NB : Tulisan ini sebagai catatan perjalanan saya bersama teman-teman di Air Terjun Parangloe, pada tanggal 06 April 2014. 

__ achyie sabang__ 
Makassar