Kamis, 04 Juli 2019

Pengalaman Pertama Ke Selayar dan City Tour Selayar (Lingka-Lingka ri Silajara', Tarima Kasi' Silajara').



Kabupaten Kepulauan Selayar, merupakan kabupaten paling selatan Sulawesi Selatan yang berada di tengah-tengah Laut Flores. Kabupaten ini terdiri dari beberapa Pulau ada yang berpenghuni dan ada pula yang tidak berpenghuni. Untuk akses menuju ke Selayar bisa melalui jalur udara, jalur laut, maupun jalur darat-laut. Jalur udara bisa ditempuh dari Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin Maros, Makassar ke Bandar Udara H. Aroeppala Selayar, dengan waktu tempuh kurang lebih 40 menit menggunakan pesawat ATR, penerbangan setiap hari, dengan maskapai Transnusa ataupun Wings Air. Jalur laut bisa ditempuh dari Pelabuhan Soekarno Hatta menggunakan kapal ferry, dengan waktu tempuh kurang lebih 2 hari 2 malam, hal ini dikarenakan banyaknya pulau-pulau kecil yang disinggahi sebelum sampai ke Selayar. Adapun jalur darat-laut yakni dengan menggunakan mobil bus ataupun travel dari kota Makassar, jika menggunakan bus bisa mengambil bus di terminal Mallengkeri, Makassar, biasanya berangkat tengah malam. Sedangkan jika menggunakan mobil travel, sisa telpon lalu dijemput di rumah. Perjalanan darat dari kota Makassar ke Pelabuhan penyeberangan Bira di Kabupaten Bulukumba, selanjutnya perjalanan dilanjutkan menggunakan kapal ferry menuju pelabuhan penyeberangan Pamatata Kabupaten Selayar, jika cuaca bersahabat waktu tempuh dari Bira ke Selayar biasanya kurang lebih 150menit, selanjutnya sambung perjalanan darat dari Pelabuhan Pamatata ke Kota Benteng kurang lebih 45 menit. Kabupaten Selayar identik dengan Taman Nasional Taka Bonerate, taman nasional yang tersohor dengan keindahan bawah-lautnya dan merupakan kawasan atol terbesar ketiga di dunia, setelah kepulauan Marshall dan Maladewa. Tetapi untuk saat ini saya tidak akan bercerita tentang Taman Nasional Takabonerate, saya hanya ingin bercerita tentang pengalaman saya selama di Kota Benteng.
Kapal Ferry sesaat setelah bertolak dari pelabuhan Bira, Bulukumba
Kapal Ferry sedang berlabuh di Pelabuhan Pamatata, Selayar.

Berangkat ke Selayar secara mendadak, sendiri dan tanpa keluarga di Selayar adalah pengalaman baru bagi saya. Bermodalkan seorang kenalan di Instagram yang mengajak saya ikut trip ke Pulau Polassi yang lagi happening, akhirnya saya tiba di Selayar dalam kondisi tetap tampan walaupun harus menempuh jalur darat dan laut selama kurang lebih 7 jam. Singkat cerita akhirnya kami bertemu di terminal Kota Benteng. Dengan ramah saya disambut. Kesan sebagai teman yang baru kenal dan bertemu seolah tidak ada, bahkan serasa bertemu dengan keluarga atau sahabat lama. Saya diajak ke kostnya untuk beristirahat, tak perduli perut yang lapar, saya lebih memilih untuk tidur menghilangkan rasa kantuk dan mengembalikan stamina yang sempat terkuras. Ketika saya bangun, hari sudah sore, sayapun diajak untuk city tour, di sekitaran kota Benteng.
Bandar Udara H. Aroeppala, Selayar.
Dari Selayar ke Makassar dengan Transnusa Air.
Spot pertama yang kami tuju adalah Taman Pusaka. Taman Pusaka ini sejenis alun-alun, tempat berkumpul, dengan ikon utamanya adalah patung Gong Nekara, pusaka kebanggaan Selayar, bagaimana tidak Gong Nekara ini merupakan tertua, terbesar dan satu-satunya di dunia. Terletak di jantung kota Benteng, ibukota Kabupaten Selayar. Taman ini merupakan salah satu tempat terbaik untuk menyaksikan matahari terbenam atau sunset. Taman Pusaka mirip dengan Pantai Losari di Makassar, ataupun Pantai Seruni Kota Bantaeng. Setiap hari selalu ramai dikunjungi oleh warga kota Benteng, baik tua maupun muda, baik muda mudi yang masih memadu kasih, maupun keluarga yang bercengkrama dengan keluarganya. Tempat ini sangat bersih, tidak ada pengamen, dan tidak ada tukang parkir. Jadi tempat ini sangat rekomended kalau berkunjung ke Selayar. Menikmati matahari terbenam dengan segelas pop ice yang murah meriah ataupun dengan semangkok bakso akan memberikan pengalaman yang tak terlupakan saat berkunjung ke Taman Pusaka.
Selfie di Taman Pusaka sambil menunggu sunset

Setelah puas menikmati suasana senja di Taman Pusaka, ternyata baru nyadar bahwa seharian belum makan apa-apa. Teman langsung mengajak saya untuk ke Kawasan Wisata Kuliner Selayar. Letaknya tidak terlalu jauh dari Taman Pusaka, hanya sekitaran 5 menit, berdekatan dengan Pelabuhan Benteng. Terdapat beberapa warung, mulai dari warung jawa, penjual aneka jus hingga warung penyedia makanan khas Kabupaten Selayar, Nasi Santan dan hidangan Seafood seperti ikan, cumi dan udang. Kami datang pada saat belum terlalu ramai, sehingga masih bebas memilih tempat. Kami memilih sebuah warung bertuliskan WARUNG MAMA MIA, mungkin yang punya warung mamanya Mia, atau entahlah. Hahahahhaha. Sebuah warung yang posisinya menyudut dengan beberapa tempat makannya pas berada dipinggir tanggul pantai. Saya memilih meja yang pas berada di tanggul pantai sambil menikmati langit jingga yang baru saja mengantarkan matahari menuju peraduannya. Perpaduan yang sempurna. Menikmati sepiring nasi santan dengan ikan bakar dan ikan goreng tepung berlatarkan langit jingga menjadi pengalaman tak terlupakan di Selayar. Soal harga tidak usah ragu, murah sampai membuat mata saya terbelalak. Soal rasa, percayalah bahwa lidah tak pernah berbohong dijamin lidah bergoyang, nasi santannya sangat gurih dan ikannya sangat lezat, apalagi disediakan 3 macam sambel, sambel racak mangga, sambel dabu-dabu dan sambel cobek terasi. Untuk penikmat seafood khususnya ikan bakar ataupun ikan goreng, tempat ini sangat direkomendasikan. Seporsi nasi santannya hanya dihargai Rp.5.000, kalau dibandingkan dengan porsi nasi sari laut di Makassar, porsinya 2kali lebih banyak. Soal harga ikannya relatif, dari harga Rp.15.000 hingga harga Rp.80.000 menyesuaikan dengan besar dan jenis ikannya. Tetapi bagi saya harga tersebut sangat murah jika dibandingkan dengan makan di restoran seafood di Makassar, kualitas ikannya pun jauh lebih segar. Saya di Selayar selama 3 malam dan setiap malam ke tempat ini untuk makan malam. Malam terakhir saya bahkan kalap, sampai makan nasi santannya 2 porsi. Hahahahahha. Nasi Santan dan Ikan Bakar serta Ikan Goreng Tepung


Ikan Bakar
Pulang dari Wisata Kuliner, sekitaran pukul 8 malam, rasanya terlalu pagi jika langsung tidur. Teman mengajak ke salah satu kafe tempat nongkrong anak muda kekinian Selayar yang lagi happeningnya, nama kafenya Coffee House atau CH. Terletak di Jalan Rauf Rahman, Kota Benteng, Selayar. Kafe ini lumayanlah untuk ukuran kota kabupaten, tempatnya lumayan choosy, ada live musik, menu minumannya pun bervariasi, seperti kafe di kota besar. Saya pun penasaran dengan green tea nya. Harganya Rp.18.000, pesanan sayapun datang, tidak sabar ingin mencobanya dan langsung saya coba. Setelah saya coba, ternyata green teanya jauh dari ekspektasi saya. Live musiknya pun semakin malam semakin kafe rasa kondangan, hanya di Selayar ada acara dangdutan di kafe. Untuk nilai, Coffee House saya beri nilai 7.
Malam kedua di Benteng, teman saya mengajak saya ke sebuah kedai kopi, nama kedainya Kedai Kopi Nongkrong, soal tempat tidak sebesar kafe CH, suasana santai, bersahaja langsung terasa pas saya masuk di kedai kopi ini, menunya hanya dua, kopi susu dan kopi hitam. Meskipun peralatannya tak sekeren dan secanggih kopi-kopi shop di kota besar, dan tidak pakai filosofi-filosofian untuk membuat dan menikmatinya, tetapi saya merasa sangat puas di tempat ini, kopi hitam hanya dihargai Rp.5.000, kopi susu Rp.8.000, sangat murah. Yang datang, mulai dari yang muda sampai yang tua, semuanya berbaur menikmati kopi racikan Bang El. Keakraban sangat terasa di kedai ini. Mungkin karena tidak ada embel-embel kekiniannya dan tanpa filososfi-filosofiannya sehingga semuanya berbaur tanpa sekat. Selain itu disisi lain kedai merupakan tempat jualan istri bang El, ada nasi kuning dan songkolo, yang dijamin enak dan murah. Songkolo hanya dihargai Rp.10.000, itu sudah pakai lauk ayam dan abon kelapa. Nasi kuningnya mulai dari harga Rp.10.000 tergantung jenis lauknya. Juga menerima ketering. Kedai Nongkrong hanya berjarak sekitar 20 meter dari Coffe House alias berdekatan, di Jalan Rauf Rahman. Untuk nilai saya hadiahi 8,5.
View dari Warung Mama Mia, gimana gak lahap makannya.
Malam terakhir, saya diajak ke Cheetos, agak jauh melepir ke arah utara, tepatnya di jalan Sudirman. kesan pertama saya, WAW. Mulai dari masuk, suasana elegan langsung terasa, apalagi ketika masuk ke dalam ruangan bebas asap rokok. Saya langsung memilih duduk di bar, sambil nanya-nanya ke mbak yang menjadi pelayan kafe, setelah membaca menunya, sayapun bertanya menu yang recommended, mbaknya hanya ngaha, alais ngomong A? Ha? Tunggu teman saya yah. Kesan kocak sudah mulai terasa di kafe ini. Si teman yang mbaknya tunggu akhirnya datang, sayapun mengulang pertanyaan sama, minuman rekomended, ekspresi mbaknya lebih lucu dari mbak yang satu, bahkan kembali nanya ke mbaknya yang tadi ngaha. Hahahhahahahhaha, asli lucu. Alhasil sayapun menggigit bibir saya sambil menahan tawa, supaya mbak-mbaknya tidak tersinggung. Setelah menjelaskan menu rekomended itu apa, mbaknya hanya melongo, dan sayapun masih penasaran dengan green tea Kota Benteng. Untuk green tea di cheetos kafe lumayan sesuai ekspektasi saya. Seorang teman lain pun datang, tak perlu lama untuk menunggu pesanannya datang, karena kami duduk di meja bar, pas di depan 2 mbak pelayan kafe yang sedari tadi dijamin kesal pada kami. Kekocakan mbak-mbaknya pun berlanjut saat teman yang baru datang meminta password WIFI kafe tersebut, dengan nada dan ekspresi sinis mbak yang ngaha tadi memberikan kami password di selembar kertas lengkap dengan penjelasan mengenai password tersebut, dari huruf besar hingga spasi yang digunakan. Karena jaringan Indosat di kota ini lumayan ngadat, akhirnya kami bertiga mencoba WIFI tersebut, dan kocaknya semua tidak bisa tersambung dengan keterangan kesalahan autentifikasi. Kami pun mengaduh ke mbaknya, jawaban mbaknya sangat keren, “hape kalian rusak”, kami bertga langsung ngakak, dan menjawab, “masa hape kami bersamaan rusak”, sayapun menimpali “kalau memang hape saya rusak, sekarang saya keluar beli hape baru”. Hahahahhaha. Setelah dicoba dan dicoba, satu teman sudah bisa tersambung, sisa kami berdua. Setelah hampir sejam menunggu, dan pengunjung sudah beberapa yang pulang akhirnya bisa juga tersambung. Ternyata WIFInya over user. Kekocakan-kekocakan lain pun tak putus hingga kami harus pulang. Tapi bagaimanapun saya sangat senang di kafe ini. Kafe ini saya hadiahi juga nila 8,5.
abang2 ketjehnya Selayar.
Coffee House
Itulah pengalaman seru saya selama di Benteng 4 hari 3 malam. Jatuh cinta dengan kota kecil di Ujung selatan Provinsi Sulawesi Selatan ini.  Tarima kasi’ Silajara.

Sabtu, 01 Desember 2018

Kata Orang Tentang Traveling Dan Orang Yang Suka Traveling

Jika kamu orang yang suka jalan-jalan atau traveling, pasti sering mendapat tanggapan dan pertanyaan-pertanyaan yang menggemaskan dari beberapa orang, baik teman kantor, teman sosaial media bahkan keluargamu. Termasuk saya yang selalu mendapatkannya jika habis traveling ke suatu tempat. Wajar sih, soalnya sudut pandang dan selera orang kan beda-beda. Berikut tanggapan mereka dan pertanyaan mereka ke saya.
Pulau Padar Taman Nasional Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Tmur
Kata orang, orang yang suka jalan-jalan itu kerjanya cuma menghabiskan uang. Iya juga sih. Tetapi yang menjadi pertanyaan, apakah yang tidak suka jalan-jalan itu tidak menghabiskan uang? Iya yah, menghabiskan uang juga. Hanya saja cara mereka menghabiskan uangnya berbeda. Masing-masing dari mereka menghabiskan uang dengan caranya sendiri. Mereka yang tidak jalan-jalan menghabiskan uang dengan ke mall, ke bioskop, ke café, ke tempat nongkrong, ke tempat karaokean, ke coffe shop, gadget yang selalu uptodate, berbelanja pakaian bermerek, dan lain-lain. Sementara yang suka jalan-jalan, mereka menghabiskan uangnya dengan mendatangi pantai, mendaki gunung, mengunjungi air terjun, diving, snorkeling, berolahraga offroad, mengunjungi kampung tradisional, masuk hutan, berpanas-panasan, berhujan-hujan dan tidak takut kulit belang, terbakar hingga lecet. Jadi suka jalan-jalan ataupun tidak suka jalan-jalan sama saja menghabiskan uang. Hanya saja cara mereka yang membedakannya.
Kepulauan Sombori, Morowali, Sulawesi Tengah
Kata orang, orang yang suka jalan-jalan uangnya banyak. Iya, memang mereka yang suka jalan-jalan banyak uangnya. Karena jalan-jalan itu butuh uang, kecuali jika jalan-jalannya karena menang undian, atau giveaway atau endorse atau memang sebagai guide dan sebagainya. Tetapi tak banyak yang tahu bahwa mereka bahkan harus menabung berbulan-bulan. Jika harus mengeluarkan uang, mereka harus mengedepankan yang mana paling penting dan membutuhkan uang. Jadi, tidak semua mereka yang suka jalan-jalan kebanyakan uang, hanya saja mereka punya tujuan yang jelas. Sehingga uang sedikit demi sedikit mereka sisihkan untuk tujuan tersebut dan akhirnya mereka bisa jalan-jalan.
Pantai Pussahelu, Bulukumba, Sulawesi Selatan
Kata orang, kamu jalan-jalan terus, terus kamu kapan nikahnya? Pertanyaan yang menyebalkan dan mengerikan bukan hanya bagi kalangan traveler, tetapi hampir semua yang belum menikah. Persoalan menikah, semuanya ingin menikah, siapa sih yang tidak ingin memeiliki keturunan, tetapi untuk sementara biarlah Tuhan yang berencana. Karena saya masih punya rencana yang lain, apalagi kalau bukan jalan-jalan. Kalau sudah menikah jalan-jalan susah. Jangankan jalan-jalan, sekedar nongkrong aja sejenak kadang susah. Teman yang sudah nikah, ketika nongkrong bareng, jika sudah pukul 09 malam lewat handphonenya pasti sudah bordering terus, ditelpon oleh bininya, disuruh pulang, dengan berbagai alasan penyokong yang membuat teman tak bisa berkutik, misalnya token hampir hampir habis dan anaknya gak bisa tidur kalau panas, anaknya menangis susunya habis dan lain-lain. Ketika diajak ngetrip sehari, pas jelang hari H, datanglah si teman dengan alasannya bahwa mertuanya mendadak datang, atau mau menemani istri ke kondangan, atau jaga anak, atau ada arisan keluarga dan sebagainya. Jadi jika masih ingin bebas berjalan kesana-kemari mending tunda dulu menikahnya.
Bukit Wairinding, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur
Kata orang, kok jalan-jalan terus, kan sayang uangnya. Hmmm. Perjalanan bukan hanya sekedar tentang destinasi ketjeh dan foto-foto mantul yang membuat seluruh teman sosial media berdecak kagum bahkan 74% diantaranya gemes dan iri. Sesungguhnya perjalanan adalah pengenalan diri, pembelajaran alam, menambah pengalaman dan wawasan, menumbuhkan rasa empati dan simpati, meningkatkan rasa toleransi, bahkan perjalanan bisa merubah sudut pandang seseorang menjadi lebih baik. Semakin jauh kamu melangkah maka semakin kaya dirimu, semakin dewasa dan semakin mengenal dirimu sendiri. Jadi jika jalan-jalan bisa mengubahmu ke hal yang lebih baik, masih mau bilang “uangnya sayang dihabiskan hanya untuk jalan”?
Kete Kesu, Toraja Utara, Sulawesi Selatan
Kata orang, apasih enaknya jalan-jalan? Untuk memberikan jawaban pasti, saya belum berani, karena saya juga masih bingung apa sih enaknya jalan-jalan. Padahal jika kita berpikir logis, daripada pergi jalan-jalan, panas, keringatan, hitam dan menghabiskan uang, mending tidur di kamar nonton drama korea, atau nonton youtube atau film India, atau ke salon atau apalah. Tetapi pada dasarnya jika tidak penting-penting amat saya malas berpikir, jadi saya selalu ingin jalan-jalan. Saya selalu ketagihan slepas pulang dari suatu destinasi. Kalau sudut pandangku, selain bisa menikmati keindahan suatu tempat, baik alam, budaya, kearifan lokal, makanan dan keseniannya, jalan-jalan itu bisa menambah wawasan, misalnya bahasa, menambah teman, menambah pengalaman yang bisa membuatmu menjadi penutur ulung. Jadi jika ingin tahu enaknya jalan-jalan, yah jalan-jalanlah.
Kepulauan Labengki, Konawe, Sulawesi Tenggara.
Kata orang, jalan-jalan itu tidak gunanya. Itu sih kata orang, tapi bagi yang sering jalan-jalan, gunanya banyak banget. Karena perjalanan mengunjungi destinasi impian adalah perjalanan yang tidak biasa. Ketika satu persatu bucketlist tercentang, ketika bertemu dengan teman baru dari daerah lain, ketika belajar bahasa lokal, ketika menikmati kuliner lokal,ketika mendapat petuah dari mayarakat lokal. Ketika selamat kembali ke rumah mencium tangan ibu, itu adalah prestasi yang luar biasa bagi seorang pejalan. Karena untuk mencapai destinasi impian, ada pengorbanan, ada air mata, ada cerita dan ada sejarah. Jadi ketika semuanya tercapai wajar jika kami  merasa sangat senang, bangga, bahagia, haru dan segenap rasa yang hanya kami para pejalan yang tahu rasanya, karena tidak bisa terlukiskan oleh kata. Jadi jika ingin tahu jalan-jalan itu bagaimana, mengapa banyak orang yang suka jalan-jalan, yah jawabannya simpel, harus mencobanya, mencoba jalan-jalan. Mungkin setelah jalan-jalan kamu akan tahu gunanya dan beruntung jika tidak ketagihan. Karena sejatinya perjalanan adalah tentang rasa, jadi harus dirasakan.
Pantai Walakiri, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur

Kamis, 26 Juli 2018

Pulau Padar, Pesona Labuan Bajo Yang Tak Pernah Pudar


Jauh dari kota Labuan Bajo, dan tak dihuni oleh manusia, tak serta merta namanya terlupakan, bahkan namanya lebih dari sekedar dikenal. Namanya menggaung hingga ke seantero dunia. Pulau Padar. Eksotik, seksi, cantik dan tentunya indah. Terletak di Kawasan Taman Nasional Komodo, Provinsi Nusa Tenggara Timur, memakan waktu pelayaran kurang lebih dua jam menggunakan kapal dari Pulau Komodo.
Padar by Drone
Pulau Padar, keindahan sempurna yang Tuhan turunkan di Bumi Indonesia. Di Padar Tuhan menunjukkan akan kecintaanNya akan keindahan dan membuktikan bahwa Dia dzat yang maha Indah. Keindahan Padar tidak tanggung-tanggung, baik pada saat berwarna hijau maupun pada saat berwarna coklat. Melihat potretnya saja bisa bikin jatuh cinta apalagi jika sudah melihatnya secara langsung dijamin semakin cinta. Komposisi lekukan-lekukan manja pantainya akan memukau mata siapapun yang menyaksikannya. Terdapat empat lekukan pantai yang masing-masing dua di sisi kiri dan dua juga di sisi kanan. Keempat lekukan ini masing-masing dipisahkan oleh bukit yang langsung menjorok ke laut. Perpaduan antara warna bukit yang kecoklatan dengan warna laut yang membiru semakin menyempurnakan keindahan Padar.
Pesona yang tak pernah pudar


Perjalanan menuju Padar dari Komodo tidaklah seindah dengan keindahan Padar yang kami lihat di sosial media. Sejam pertama pelayaran menuju Padar, perjalanan santai, bahkan kami sempat tertidur efek dari nikmatnya buaian angin samudera. Tetapi semakin berlayar perlahan kapal mulai miring kiri dan kanan, hingga puncaknya pada saat separuh perjalanan, pada saat yang ada dihadapan kami hanya lautan lepas. Ombak samudera seolah memberikan sambutan hangat kepada kami ketika kami memasuki wilayah teritorinya. Menurut sang Kapten kapal, ombaknya masih mendingan, padahal dia tidak tahu banwa jantung kami sudah dag dig dug ser. Yah wajar jika bagi mereka masih mendingan karena mereka sudah terbiasa. Butuh perjuangan super untuk menenangkan jantung yang berdetak kencang melihat kapal yang kami tumpangi melawan ombak yang tingginya hampir 2 meteran. Saya sempat bertanya kepada kapten kapal tentang kondisi ombak, kata beliau memang jika dari Komodo menuju Padar ombaknya besar dan terasa olengnya. Hal ini dikarenakan oleh dua factor, yaitu karena kita melawan arus dan yang kedua karena Posisi Padar menghadap langsung ke lautan lepas alias Samudera. Dan bonusnya kita berlayar sore hari, dimana angin berhembus lumayan kencang sehingga secara otomatis berpengaruh pada ketinggian ombak. Satu hal yang saya salut bagi beliau, beliau tenang-tenang saja, bahkan sambil menonton acara tv streaming melalui telepon genggamnya. Mungkin beliau membaca kekhawatiran dari gerak-gerik saya, beliau tertawa sambil ngomong, tidak apa-apa kok. Berbekal penjelasan beliau, saya mulai menjadi tenang dan rileks lalu bergegas meninggalkan beliau, menuju ke teman-teman yang asik diayun oleh ombak sambil teriak-teriak histeris. Kurang lebih sejam perjalanan menguji adrenalin akhirnya kami memasuki wilayah perairan Selat Lintah. Selat Lintah merupakan selat yang mengantarai Pulau Padar dan Pulau Rinca. Matahari sudah mulai berwarna keemasan saat kapal memasuki Selat Lintah. Perlahan Kapal menepi ke pinggir pulau yang tadi kami itari. Ternyata pulau yang kami itari tadi adalah Padar. Di pinggir pulau ABK menjatuhkan jangkar kapal, di samping beberapa kapal yang terlebih dahulu berlabuh.
Mentari pagi di Padar
Pukul 05 subuh kami dibangunkan oleh guide, persiapan tracking ke puncak Padar untuk menyaksikan matahari terbit. Setelah turun dari sekoci, kami langsung menjejaki satu persatu anak tangga yang terbuat dari kayu ulin. Lepas dari anak tangga kami menyusuri jalan setapak yang menanjak, di sisi jalan setapak, sudah dibangun jalan yang terbuat dari beton, namun belum rampung pada saat itu. Mungkin sekarang sudah rampung. Nafas pendek dan tersengal mulai kedengaran dari hidung kami masing. Cahaya keperakan bercampur keemasan sudah mulai kelihatan di ufuk timur pertanda matahari sedikit lagi muncul dari peraduannya. Menyaksikan matahari terbit dengan sudut terbaik menjadi semangat kami untuk terus melangkah menuju puncak Padar. Dan sedikit lagi sebelum kami sampai di puncak, Mentari muncul dari peraduannya dengan sinar hangatnya menyapa semesta. Perjuangan kami tidak sia-sia, semua rasa ngos-ngosan terbayar lunas dengan hangatnya sinar mentari pagi Pulau Padar yang menyapa kami. Puas menikmati pesona matahari terbit, kami bergegas melanjutkan tracking kami menuju puncak Padar yang sedikit lagi kami raih. Puncak masih kosong pada saat kami sampai, sinar mentari pun kian hangat. Kami istirahat sejenak memulihkan nafas yang kembali tersengal, melap bulir peluh yang membasahi wajah kami sembari terdiam menikmati mahakarya dari Sang Tuhan. SEMPURNA.
Tak lupa dengan Kain Flores

Tuhan Maha Indah dan Mencintai Keindahan. Sempurna

Hangatnya sinar matahri pagi berpadu dengan keindahan sempurna dari Padar membius dan membungkam mulut kami. Kami hanya mampu terdiam menikmati sajian alam, sembari memuja kebesaran dari Sang Pencipta. Puas menikmati kemurnian alam, saatnya beraksi, menyalakan kamera, drone dari sang guide pun siap mengudara, mengabadikan kenangan kami di Padar. Langit semakin cerah, laut semakin membiru, petualanagn dan cerita kami pun di Padar semakin sempurna.
Padar, tentang cinta, perjuangan, kebanggaan dan sejarah
Padar sedang mempersembahkan kecantikannya yang eksotik pada saat kami datang. Menyuguhkan kami pemandangan padang rumput yang berwarna kecoklatan, rerumputan yang mengering karena musim kemarau menjadikan Padar semakin eksotis. Membuat kami yang datang semakin cinta,, menjadikan yang belum datang ke Padar semakin penasaran dan semakin ingin ke Padar, menjadikan yang nyinyir semakin iri pada kami yang sudah menjejakkan kaki di Padar.
Geng Kocak

Kumpulan bocah 30 Tahun tapi belum nikah

Padar, Bagi saya bukan hanya sekedar destinasi, tetapi Padar adalah perjuangan, Padar adalah kebanggaan, Padar adalah sejarah, dan Padar adalah Cinta.
Eksotis, seeksotis Padar.
Padar, kamu terlalu indah, kamu terlalu mempesona, sehingga pesonamu tak pernah pudar di memoriku. Hanya satu yang mengalahkan pesona dan keindahanmu, Penciptamu.
Terima Kasih Padar

Sudah Move On dari Padar?
   
Terima kasih Padar, Terima kasih porter andalan, terima kasih uncle Japh, Terima kasih Iyem, ah jadi kangen kalian, nulis ini. Terima kasih DINO TRIP KOMODO dan team, terima kasih JJS Labuan Bajo, terima kasih Fotografer Andalan, Muhammad Irfan Wowor.

Porter andalan yang sok Misterius, Dwipo Aris Topanno

Uncle Japh yang paling heboh, Jappi Pateddungi
Iyem sikuli Jekardah yang selalu merasa paling ketjeh, Novelly Mitha Kambuno

Alhamdulillah Ya Rabb, saya sudah menjejakkan kaki di Labuan Bajo, sudah melihat wujud nyata Padar, yang membuatku semakin cinta akan Indonesia, dan yang paling utama semakin mencintaiMu, semakin mensyukuri nikmatMu, semakin rajin curhat kepadaMu.