Senin, 08 September 2014

PULAU KODINGARENG KEKE, EKSOTISME DI TENGAH LAUT MAKASSAR

PULAU KODINGARENG KEKE, EKSOTISME DI TENGAH LAUT MAKASSAR 

Rabu pagi. Saya baru membuka mata, tersadar dari tidur lelap saya, dengan pikiran yang masih stengah sadar saya raih Tablet yang saya simpan di atas meja. Ada beberapa notifikasi masuk, Path, Instagram, Twitter, E-Mail dan Line. Saya langsung mebuka LINE, dan benar ada line masuk dari Dina, “ Naz, Hari Kamis yah, Kodingareng Keke” line tersebut masuk pukul 00,04. Saya sudah ketiduran jam segitu, saya pun langsung membalas dan mengiyakan ajakan tersebut.

Tablet saya kembali berkedip, pertanda ada notivikasi masuk, ternyata pesan di Line, dari Dina. “ntar nginap di rumah saya aja yah, Mitha juga mau ikut, sekalian besok pagi kita barengan berangkatnya ke Dermaga” “ OK. Saya packing dulu”. Sementara Packing, Mitha menelpon, “ Naz, kamu dimana?, aku mau ke situ nih, sekalian kita sama-sama ke rumahnya Dina” “ iyya, saya disini, di kantor, iyya kesini aja, aku tunggu yah, nih aku sementara packing” “ok deh, daaa”. Sambungan telpon pun terputus, saya lanjut mengepak barang-barang bawaan saya. 2 lembar baju, 1 lembar celana pendek, 1 lembar kolor, 1 lembar sarung, 1 kacamata hitam, Kupluk, 2 botol besar air mineral, carger, handphone dan beberapa snack sudah tersusun rapi di tas saya, waktunya mandi.

Malam pun kini kembali hadir dengan kegelapannya, yang menjadikan gemintang dan rembulan menjadi gemerlap dan indah. Sekitar pukul 19.00 malam, Mitha sudah tiba dengan selamat di tempat saya. Saatnya go ke rumah Dina. 15 menit berlalu kami (saya dan Mitha) sudah tiba di rumah mamake (panggilan sayang kami untuk Dina) di Regge City (Jalan Daeng Regge Makassar). Setelah ngalor ngidul cerita sembarang, saya pun mulai mengantuk. Dina dan Mitha protes, karena saya ngantuknya sangat cepat, “Iih, ndag asikmu deh, ngepe na cepat sekaliko ngantuk, masih mauki cerita-cerita gang”, protes Dina. “iyyo apaji, ededeh,malasku liatko Nazh”, tambah Mitha. Tanpa memperdulikan omongan mereka, saya langsung naik ke kamar yang di lantai 2 untuk tidur.




Kamis pagi. Saya sudah terjaga dari mimpi indah saya, saya angsung turun membangunkan mereka, mereka sempat protes lagi karena saya bangunkan terlalu pagi, karena katanya mereka baru tidur pas subuh. Dengan suara yang agak bersungut2 mereka pun bangun, tanpa disadari sudah ukul 7 pagi, kami bertiga langsung ke jalan raya menunggu taxi, tetapi taxi yang ditunggu tidak muncul-muncul akhirnya kami memutuskan untuk naik pete-pete (angkutan umum di Makassar berupa mobil mikrolet berwarna biru)
Pukul 08 pagi lebih sedikit. Di Dermaga Samping Kampoeng Popsa, kami bertiga sudah tiba, teman-teman Dina yang lain, katanya pergi mencari sarapan. Mereka lebih duluan datang daripada kami, karena kami telat, makanya mereka mencari sarapan dulu. 10 menit berlalu, mereka pun datang, 4 wanita dewasa dan 2 anak kecil umur 2 tahun mungkin. Setelah mereka memarkir kendaraannya, acara selanjutnya adalah acara kenalan, saya dan Mitha berkenalan satu-satu dengan teman Dina, namanya Arie, Kak Ika, Nisa dan Inchi, kalau anaknya namanya Yumna dan Kanzha, Arie dan Kak ika Bersaudara. Kak Ika ibunya Kanzha dan Nisa ibunya Yumna. Kami pun berjalan beriringan menyusuri dermaga, hingga ketemu dengan bapak sang pemilik perahu yang akan kami tumpangi ke Pulau Kodingareng Keke. Setelah menambatkan perahunya, kamipun naik satu persatu. Pulau Kodingareng Keke, merupakan salah satu pulau tak berpenghuni yang secara administrasi masih termasuk di Wilayah Kota Makassar. Berjarak sekitar 45 menit waktu tempuh dari Dermaga samping Popsa. Dengan tarif kurang lebih Rp 600.000 untuk satu perahu yang bisa memuat 12 orang. 

Kamis yang cerah, kami serombongan duduk manis di atas perahu yang membelah lautan perairan Makasssar untuk mengantarkan kami ke Pulau Kodingareng Keke. Bapak yang semula mengendalikan arah perahu ternyata tidak sempat karena ada urusannya mendadak, jadi kami transit di pulau Lae-Lae sebentar untuk pergantian pemegang kendali. Di pulau ini juga penumpang perahu bertambah, seorang ibu paruh bayah bersama kedua anaknya yang ingin ke Pulau Samalona.  

Ibu paruh bayah ini juga tempat kami menyewa alat snorkling, pelampung dan kaki katak. Dengan Modal 50.000 rupiah, kita sudah bebas memakai sepuasnya alat tersebut. Perjalan berlanjut, sembari menikmati hembusan angin laut Makassar, tak terasa perahu sudah merapat di pantai Pulau Samalona. Ibu tadi turun sekaligus untuk mengambilkan kaki katak, tidak sampai 5 menit transit di Pulau Samalona, perjalanan pun dilanjutkan menuju sebuah pulau kecil yang hanya samar-samar dari jauh. Sekitar 20 menit dari Pulau Samalona, sebuah Pulau Kecil mulai nampak kelihatan pulau berpasir putih, yah itu Dia Pulau Kodingareng Keke, dari kejauhan di sebelah selatan pulau Kodingareng Keke, nampak sebuah pulau yang lumayan besar dengan pemandangan beberapa atap rumah, pulau tersebut tak lain adalah Pulau Kodingareng Lompo. Jauh di sebelah barat laut, ditengah-tengah laut biru yang seakan menyatu dengan kaki langit, tampak sebuah pulau, namanya Pulau Tambung. 

Melihat keindahan bawah laut sekitar pulau kami hanya bisa berdecak kagum. Perahu bersandar di pantai sebelah barat pulau. Setelah mendarat dengan tampan, kami langsung membawa barang-barang bawaan kami ke balai-balai yang ada di tengah pulau. Sembari melepas lelah kami bersantai sejenak di balai-balai di bawah pohon pinus. Kemudian kami bertiga DINAMIT (DIna NAzh MITha) langsung menuju ke dermaga Pulau Kodingareng Keke untuk berfoto-foto ria. Sementara Arie, kak Ika, Nissa dan Inchi mempersiapkan diri mereka untuk kegiatan snorkling. Mentari dengan semangat bersinar menyinari kami di pulau tak berpenghuni ini, mekipun demikian tak menghalangi aktivitas kami untuk bercengkrama. Setelah mereka sudah siap untuk kegiatan snorkle, kamipun mengantarkan mereka untuk menuju spot snorkle yang bagus, kira-kira berjarak 100 hingga 200 meter dari pulau. Dari atas perahu saja sudah nampak keindahan karangnya, apalagi dengan menggunakan peralatan snorkle. Saya sempat menyesal tidak menyewa alat waktu transit di pulau Lae-Lae. Setelah mereka puas bersnorkle ria, kamipun menuju pulau kembali. Sesampai di pulau kami langsung menyantap makanan yang dibawa oleh Arie dari Makassar. Hmmm yumm yumm. Menikmati nasi kuning Riburane di bawah pohon pinus dengan belain angin semilir, rasanya itu Fantastis banget. Damai. Teduh. Sejuk. Tentram. Pulau ini serasa jadi milik pribadi. Setelah kenyang rasanya sudah ingin langsung rebahan di balai-balai yang ada. Tetapi alangkah ruginya kami kalau tidak menikmati spot-spot lainnya. Kamipun melanjutkan aktivitas di pantai sambil berfoto dan berselfie ria. Setelah puas. Waktunya untuk kembali ke Makassar. 





Pukul 11.37 di Pulau Kodingareng Keke. Kami memutuskan untuk kembali ke Makasssar, sampah sudah kami buang di tempat pembuangan sampah, barang-barang sudah dikemas, makanan yang tersisa kami berikan kepada nelayan yang transit untuk beristirahat. Maka waktunya kita pulang untuk melanjutkan aktivitas di kota Makassar.
Pukul 11.46 masih di Pulau Kodingareng Keke. Saya, Mitha, Dina, Kak Ika, Arie, Inchi dan Nissa beserta bayi2 mereka sudah siap naik di perahu. Sekitar 3 menit kami sudah duduk dengan nyaman di perahu. Selamat tinggal Pulau Kodingareng Keke. Suatu saat saya akan kembali menjelajahi keindahan lautmu bersama teman-teman saya. Pukul 12.30 kami tiba dengan selamat di Makassar. Alhamdulillahirabbilalamin. 


Terima kasih untukmu Mamake Dina, Mitha, Inchi, Arie, Nissa, dan kak Ika. Terima kasih Tuhan sang maha pencipta yang menciptakan segala-galanya dan menjadikannya Indah. Terima kasih ayah ibu kami yang telah membesarkan kami. Terima kasih para pahlawan kami yang telah mebuat kami bisa menikmati Indonesi dengan nyaman dan aman. Terima kasih Indonesia ku. Aku mencintaimu sepunuh hati dan ragaku. MARI KITA BERSAMA MENJAGA KELESTARIAN KEINDAHAN ALAM INDONESIA. Agar kelak anak cucu kita tahu bukan darii sekedar cerita. #WONDERFULINDONESIA #AMAZINGNUSANTARA #WOW_INDONESIA


Achyie Sabang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar