Rabu, 04 Februari 2015

Nasu Itik Palekko, Si Pedis Dari Ranah Bugis Yang Bikin Lidah Bergoyang Ala Chef Achyie Sabang



Kali ini saya kembali menuis, tetapi bukan tentang jalan-jalan, ataupun cerpen dan juga bukan puisi, melainkan tentang kuliner. Kuliner atau makanan merupakan hal yang tidak bisa terpisahkan dari kehidupan manusia. Tanpa makanan manusia tidak bisa hidup, karena dari makananlah kita memperoleh asupan gizi, vitamin dan zat-zat lainnya yang menjadi penyokong dalam keberlangsungan hidup kita.
Itik, bahan dasar nasu itik palekko
Hari ini saya sudah bangun pagi-pagi, sesuai dengan janjian saya dengan Sahar yang akan menjemput saya. Matahari kota Makassar tidak kelihatan masih tertutup awan tebal. Gerimis mulai turun saat Sahar datang menjemput saya. Yakin pintu sudah tertutup rapat, saya langsung naik di boncengan motor Sahar. Sahar mengarahkan motornya ke arah timur menuju Daya. Kami singgah di pasar  tradisional di perempatan lampu merah Daya. Kios yang paling pertama kami sambangi adalah kios penjual unggas potong. Penjaga kios menghampiri kami menanyakan kami mencari apa. Kami sudah berdiri di depan kandang yang di dalamnya bercampur antara itik dan bebek. Kami menanyakan harga itik tersebut. Harganya Rp.55.000 satu ekor. Karena kami lumayan sering membeli itik disini jadi kami tawar dengan harga Rp.50.000 dan penjaganya mengiyakan. Harga tersebut sudah termasuk dengan ongkos pemotongannya, pencabut bulunya. Jadi kami sisa terima beres dan itik sudah siap di masak. Kami di suruh memilih yang mana yang kami suka, tetapi kami menyerahkan kepada penjaganya yang penting itiknya jantan dan masih muda. Itik yang jantan lebih enak daripada itik betina, dan itik yang masih muda itu dagingnya tidak keras dan alot sehingga tidak menyusahkan saat dimakan. Penjaga kios memilih satu ekor lalu menunjukkan ke kami dan kami menyetujuinya. Kami menginformasikan supaya daging itiknya dipotong kecil-kecil atau dicincang.
bumbu-bumbu yang dihaluskan
Supaya waktu bisa diefisienkan, saya mengajak Sahar menuju kios penjual bumbu dapur yang tidak jauh dari kios penjual unggas potong. Di pasar ini ada banyak penjual, sisa memilih yang mana yang menurut anda dagangannya masih segar. Kami memilih salah satu kios yang menurut kami cabai rawitnya lumayan merah dan mengkilap. Kami memutuskan untuk membeli bumbu di kios ini karena ibu penjualnya ramah. Cabai rawit yang ditakar dengan tempat eskrim kecil seharga Rp.3.000. Bawang merah ¼ liter dengan harga Rp.5.000 dan bawang putih  Rp.1.000. Serai 2 batang Rp.1.000, biasanya dijual Rp.2.000 per ikat, tetapi karena kami tidak butuh banyak jadinya kami menawarnya dan boleh dibeli 2 batang saja. Lengkuas 2 ruas, Rp.1.000, sama dengan serai, kami juga menawarnya meminta sepotong saja, karena kalau kami membeli yang besar takutnya mubazir dan tidak terpakai semua. Dengan uang Rp.11.000 kami bisa mendapatkan semua bumbu yang kami butuhkan, dan tentunya masih segar. Hal inilah yang membuat kami lebih suka berbelanja di pasar tradisional. Harga murah, bisa menawar, banyak pilihan, dagangan yang masih segar, itulah keuntungan berbelanja di pasar tradisional. Selain itu kami juga bisa membantu keberlangsungan usaha para pedagang tradisional sehingga pedagang tersebut bisa terus mengembangkan usahanya.
Bumbu-bumbu yang dimemarkan
Semua bumbu yang kami butuhkan sudah kami dapatkan. Waktunya kembali ke kios penjual unggas potong. Pesanan kami masih dikerjakan saat kami tiba dikios tersebut, sehingga kami mesti menunggu. Kios ini lumayan ramai pelanggan sehingga pengerjaan pesanan harus antri. 15 menit kemudian penjaga kios yang tadi melayani kami datang menghampiri lalu menyerahkan pesanan kami. Sahar mengambil kantongan hitam tersebut kemudian membayarnya. Setelah mengucapkan terima kasih kepada penjaga kios tersebut kami meninggalkan kios tersebut menuju ke tempat parkiran motor.
Bumbu penyedap
Kami berdua menuju ke rumah Sahar di BTP untuk mengolah bahan-bahan yang kami beli tadi. Kuliner yang akan kami buat adalah NASU ITIK PALEKKO. Nasu itik Palekko merupakan makanan tradisional masyarakat Bugis dengan bahan dasar daging itik dengan rasa yang lumayan pedis. Bahan dasarnya bisa diganti, bisa ayam ataupun bebek, terserah kesukaan atau pilihan kita. Tetapi kebanyakan menggunakan daging itik. mungkin dikarenakan daging itik mengandung minyak khusus sehingga menjadikan masakan lebih lezat dan enak. Sesampainya di rumah Sahar saya langsung menuju dapur bersiap mengolah semua bahan tersebut.
Nasu Itik Palekko yang sudah jadi
Pertama-tama bersihkan daging itik tersebut, karena biasanya ada bulu-bulu kecil yang tersisa, dan biasanya juga potongannya masih terlalu besar sehingga masih harus dipotong supaya ukurannya lebih kecil lagi. Jika daging sudah bersih masak menggunakan wajan dengan air secukupnya. Bersihkan lengkuas dan serai, kemudian lengkuas yang sudah bersih diiris tipis lalu dimemarkan bersama batang serai tersebut, kemudian memasukkan kedalam daging yang dimasak tadi. Selanjutnya kupas bawang merah dan bawang putih secukupnya sesuai selera, saya memilih 15 siung bawang merah dan 7 siung bawang putih. Bawang merah dan bawang putih yang sudah dibersihkan kemudian ditumbuk halus menggunakan ulekan tradisional. Bisa juga di blender jika memiliki blender. Menurut Sahar lebih enak jika diulek, tekstur bawangnya masih terasa, berbeda jika diblender semuanya menjadi bubur dan halus menjadi satu. Tetapi bukankah memang kami tidak memiliki blender, jadi otomatis harus diulek. Hahahaha. Jika sudah halus, kini tiba giliran cabai rawit diulek, ulek sampai halus. Mengenai jumlahnya tergantung selera apakah suka pedis atau tidak. Bumbu yang sudah dihaluskan kemudian dimasukkan kedalam masakan tadi. Agar bumbu merata maka harus diaduk. Garam halus, gula pasir, dan penyedap rasa kemudian dimasukkan sambil diaduk supaya merata. 30 menit sudah berlalu, daging itiknya sudah mulai empuk dan air masakan sudah hampir mengering. Saya mencoba mengicipnya, karena yang akan memakan masakan ini adalah saya dan Sahar, sehingga saya memutuskan mengajak Sahar untuk mengicipnya. Menurut Sahar rasanya sudah mantap, sisa rasa asinnya yang kurang sedikit. Setelah membubuhkan sedikit garam saya aduk hingga airnya betul-betul mengering. Tidak perlu khawatir karena daging itik mengandung minyak khusus sehingga jika dibiarkan 2-3 menit tidak bakalan hangus asalkan apinya tidak kebesaran.
Nasu Itik Palekko siap disantap bersama nasi hangat
Nasu itik Palekko sudah masak, nasi putih pun sudah masak, saatnya menyantap hasil masakan saya. Saya dan Sahar langsung menikmati masakan tersebut. Sahar tidak henti-hentinya memuji masakan saya. Saya bercanda minta di bayar, karena masakan saya enak. Kami tertawa bersamaan sambil menikmati nasi putih yang mengepul dan nasu itik palekko yang membuat lidah kami bergoyang dangdut kepedisan. Tak lupa kami menyediakan piring kecil kosong tempat meletakkan tulang-tulang bekas makanan kami. 40 biji cabai rawit cukup membuat kami butuh air minum ekstra setelah makan. Alhamdulillah kami kenyang dan masih tersisa ½ lagi nasu itik palekko tersebut. Masih bisa untuk makan malam kami. Ngomong-ngomong memakan Nasu itik palekko lebih enak dan lezat jika makannya pakai tangan.
Nasu Itik Palekko namanya diambil dari bahasa Bugis, Nasu yang berarti masak, sedangkan Palekko adalah sejenis penutup wajan yang terbuat dari tanah liat, dan Itik adalah bahan dasar untuk membuat nasu itik Palekko. Nasu Itik palekko di kalangan anak muda Bugis biasa disingkat menjadi NSP. Jadi jangan heran jika mereka bilang “ingin rasanya makan NSP”.
Bahan-bahan yang menjadikan itik tadi menjadi lebih enak dan lezat
Bahan-bahan untuk membuat Nasu Itik Palekko “NSP”
  Bahan Utama                              :Itik, utamakan yang jantan dan masih muda
  Bahan yang dihaluskan             :Cabai Rawit, Bawang Merah dan Bawang Putih
  Bahan yang dimemarkan           :Lengkuas dan Serai
  Bahan penyedap                         :Garam, Penyedap rasa, dan Gula
 Air secukupnya


Achyie Sabang. Sampai jumpa pada experimen resep selanjutnya

Senin, 02 Februari 2015

Petualangan Bolang Glamour Menaklukkan Tiga Air Terjun Di Camba - Maros, Sulawesi Selatan.



            Kemal memarkir si Biru di tempat yang ditunjukkan Kadir, di depan sebuah rumah batu yang masih dalam tahap pembangunan. Rumah Kadir di belakang rumah batu tersebut.  Ayah dan ibu Kadir sudah menunggu kami di teras rumahnya sambil merpesilakan kami naik. Kemal dan ayahnya Kadir sudah akrab dan saling mengenal, ternyata dulu waktu masih kami semua berstatus mahasiswa, Kemal sering singgah di rumah Kadir jika perjalanan menuju atau dari Sengkang. Perbincangan ringan mengalir antara kami dan ayahnya Kadir. Ibunya Kadir datang dari dalam membawa sepring besar jagung pulut rebus yang masih mengepul asapnya dan garam yang sudah ditumbuk halus dengan cabai rawit dalam piring kecil. Saya langsung ngiler melihatnya. Saya mengambil satu biji, masih panas. Sambil saya tiup-tiup saya mengoleskan tersebut. Tanpa perlu menunggu sampai betul-betul dingin, saya langsung menggigitnya. Rasa nikmat jagungnya bercampur asin dan pedis menjadi satu kesatuan yang sangat memanjakan lidah. Saya dan Dina asyik menikmati jagung rebus tersebut, sementara yang lain asyik bercerita bersama ayah Kadir sambil merokok. Kadang cara berbicara ayah Kadir menimbulkan gelak tawa diantara mereka dan kami pun juga ikutan tertawa. Ammank dan Kemal ikutan tergoda melihat kami begitu menikmati jagung rebus tersebut. Tidak lama kemudian ibunya Kadir kembali sibuk bolak balik dari dalam dapur ke ruang tengah, ternyata sibuk mempersiapkan makan siang untuk kami. Jarum jam memang sudah menunjukkan angka 2. Waktu makan siang sudah lewat sebenarnya, tetapi karena kami sudah terbiasa dengan jadwal makan tidak teratur di kota, jadi bagi kami itu tidak masalah, apalagi kami sudah menikmati jagung rebus. Singkat kata akhirnya kami dipersilakan untuk menuju ke ruang tengah untuk menikmati hidangan tersebut.
#bolangglamour sebelum berangkat ke Camba
Nasi putih yang masih mengepul asapnya, sayur rebung dan terong, telur dadar, ikan kering goreng saos kecap, sokko (nasi ketan), palopo’, dan peco’bue (saya tidak tahu apa bahasa Indonesianya, ini bahasa Bugis). Kami menikmati hidangan tersebut, jarang-jarang di kota ada makanan seperti ini. Kenyang. Setelah beristirahat sejenak sambil berbincang-bincang ringan, Dina mengajak kami untuk segera berangkat menuju air terjun. Serempak kami berlima setuju. Kami bersiap-siap, membawa pakaian ganti, minuman, cemilan, tablet serta handphone untuk keperluan dokumentasi dan jangan lupa bawa payung.
Disinilah petualangan #bolangglamour dimulai
Kami berenam sudah siap untuk berangkat, Kadir berangkat menggunakan motor sementara kami berlima berangkat menggunakan si Biru. Perjalanan lumayan memacu adrenalin. Di kejauhan sana nampak para petani membajak sawahnya, ada yang sedang menjalankan traktor, ada yang menabur benih, ada yang menanam padi, dan ada pula yang mencangkul untuk merapikan pematang sawah. Tampak begitu sempurna sajian alam yang Tuhan ciptakan.
Perjalanan si #bolangglamour mencari setitik surga
Kampung Maddenge, Desa Pattiro Deceng, Kecamatan Camba, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi – Selatan. Berjarak sekitar 80 KM arah Timur Laut dari Kota Makassar, ibukota provinsi Sulawesi Selatan dan menghabiskan waktu tempuh kurang lebih 1jam 30 menit jika tidak macet. Namun jika macet bisa lebih. Kurang lebih 50 KM dari Kota Maros dan membutuhkan waktu tempuh sekita sejam. Camba terletak di ketinggan 340 Meter di atas permukaan laut, membuat hawa disini terasa sejuk, pemandangan sekeliling hanyalah perbukitan. Disinilah tempat kami sekarang berpijak. 
#bolangglamour dan pemandangan di sekelilingnya
Si Biru sudah terparkir di halaman rumah salah satu kerabat Kadir. Kami sudah siap untuk mulai ngebolang bersama sahabat petualang melewati gunung dan lembah serta sungai. Kadir mulai menjemput kami satu persatu untuk menuju titik nol awal petualangan kami kali ini. Mulai dari Ammank, Dina, dan terakhir saya, Jaja dan Kemal jalan kaki karena jaraknya mungkin hanya sekitar 100 meter dari tempat kami parkir, tetapi karena berbelok-belok dan mendaki maka butuh waktu sekitaran 5 hingga 7 menit lebih untuk sampai di tempat ini. Selfie sebelum bertualang merupakan hal pokok yang harus dilakukan. 2 kali jepret menggunakan kamera depan tablet Samsung galaxy 10 yang saya bawa dengan latar pepohonan bambu yang rimbun sudah cukup bagi kami. Saatnya memulai petualangan.
air terjun pertama yang #bolangglamour dapatkan, tanpa nama. sehingga saya menamainya Air Terjun Bolangglamour I

Awalnya jalanan masih berbatu, 10 meter kemudian batu-batunya mulai hilang hingga menjadi jalan becek, saya mengangkat sandal saya, sementara Kadir menyerahkan sandal lapangannya ke Dina, karena sandal Dina hanya sandal jepit, seperti sandal saya. Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang lumayan becek. Jalanan yang awalnya terletak dipinggir sawah lama-kelamaan memasuki area hutan-hutan, namun jalur jalan masih kelihatan. Kami kembali keluar dari hutan dan mendapatkan ujung jalan ini adalah menuju sawah. Tak ada lagi tanda-tanda jalan. Akhirnya kami mengikuti Kadir memasuki areal persawahan, melewati pematang yang sangat licin dan sempit. Karena saya takut jatuh, akhirnya saya memutuskan untuk turun ditengah-tengah sawah, sambil memegangi Dina yang jalannya tertatih-tatih. Kadir sudah berjalan lebih dulu, seakan melewati jalan beraspal tanpa kendala. Kemal, Jaja dan Ammank masih dibelakang, lagi sibuk berselfie ria. Karena ragu dengan jalan pematang yang sempit dan licin, Kemal mencari jalan lain yang lebih layak untuk kami. Kemal memutuskan kembali ke ujung jalan setapak tadi, lalu memilih melewati sungai-sungai kecil yang airnya merendam mata kaki. Ammank dan Jaja mengikutinya kembali. Saya dan Dina sudah ditengah-tengah pematang, untungnya sawah tersebut berbentuk oval, jadi kami tidak butuh waktu lama untuk kembali ke jalan yang benar dan layak. Kadir sudah hilang dari pandangan mata. Kami berlima berjalan beriringan. Kemal  berteriak ala  orang kampung untuk mengetahui keberadaan Kadir. “U..........” begitu teraiakan Kemal, lalu dijawab dengan teriakan sama oleh Kadir. Kadir kembali beregabung bersama kami sambil diomeli oleh Jaja dan Kemal, saya, Dina dan Ammank hanya tertawa sambil menarik nafas dalam-dalam. Perjalanan sudah mulai menurun, melewati jalur sempit yang sudah hampir tidak kelihatan karena sudah ditumbuhi rumput karena jarang dilalui oleh orang. Saya hanya berjalan sambil diam. Bukan hanya saya yang berjalan dengan diam, semuanya pun demilkian, tidak bersuara jika tidak pernting. Menyimpan tenaga. Nafas kami mulai ngos-ngosan, jalan kami mulai melambat karena medan yang licin dan menurun, banyak duri dan jalanan sempit. Kadir, Dina, Saya, Kemal, Ammank, dan terakhir Jaja, begitulah susunan kami beriringan berjalan menyusuri jalan sempit yang curam. Kami mendapati sebidang tanah yang agak landau dan rata tetapi rumput liarnya sangat tinggi. Kami singgah sejenak untuk menarik nafas baik-baik, Kemal mendahului saya mengikuti Kadir dan Dina. Perjalanan kami lanjutkan, kami harus menyeberangi sungai kecil yang lebarnya kira-kira hampir dua meter dengan melangkahkan kaki ke batu-batuan yang ada di tengah sungai. Hanya 3 m menginjak tanah, kami harus menyeberangi sungai lagi, lebarnya hampir tiga meter, kami harus turun ditengah-tengah sungai. Dalamnya selutut. Kami semua sudah berhasil menyeberangi sungai kedua. Kadir, Kemal dan Dina di hadapan saya, Jaja dan Ammank di belakang saya, yang dihadapan saya lagi semangat-semangatnya berjalan sementara yang dibelakang saya sibuk mencari batu dan bongkahan *EFEK DAN DEMAM BATU*. Saya terjatuh terpeleset karena batu kapurnya sangat licin, tetapi beruntung tidak ada yang melihat. Saya bangkit dan menertawakan diri saya sendiri. Setelah berjalan sekitar 10 meter, saya terhenti, tiba-tiba nafas saya yang tersengal-sengal langsung menjadi normal, cape saya langsung hilang, di hadapan saya sudah terpampang air terjun yang cantik.
#bolangglamour dengan latar Air Terjun Bolangglamour I


serba-serbi #bolangglamour di Air Terjun Bolangglamour I


#bolangglamour yang paling Narsis

Perjalanan kami terbayarkan oleh keindahan air terjun yang ada di hadapan kami, saya langsung bersujud memuji kebesaran Tuhan, tak henti-hentinya saya mengucap syukur dan memuji kebesaran Tuhan. Gemuruh air yang jatuh menggoda kami untuk bermain air. Saya langsung berendam. Mengunjungi tempat secantik ini tidak lengkap jika tanpa dokumentasi. Tanpa dikomando, kadir langsung mengeluarkan Tablet mininya dan menjepret kami sampai puas. Air terjun ini kami tidak tahu apa namanya, tingginya sekitaran 2-3 meter dengan debet air yang tidak terlalu besar. Berbentuk siku seperti huruf L, lebarnya mungkin sekitaran 5 hingga 7 meter. Airnya jatuh di dinding yang curam tegak lurus ke atas. Di salah satu sisinya air terjun ini bertingkat tiga, dan pas di sudutnya pertemuan antara dua sisinya terdapat sebuah bongkahan batu besar tepat ditingkatan yang pertama. Karena kami datang pada saat musim hujan sehingga airnya tidak terlalu jernih. 20 menit waktu berlalu di tempat ini kami tak sadari, kami asyik bermain air sambil foto-foto. Kadir mengajak kami untuk ke destinasi selanjutnya. Sebenarnya kami belum puas, tetapi kami menurut saja mengikuti omongan Kadir, karena katanya air terjun yang di atas lebih bagus lagi.
Air Terjun kedua yang #bolangglamour dapatkan, karena juga tidak ada namanya, maka saya menamainya Air Terjun Bolangglamour II
Semua barang sudah masuk kembali ke dalam ransel yang dibawa oleh Jaja, kami berlima melanjutkan perjalanan, mendaki dan berkelok-kelok tidak jelas mencari batu yang bisa ditempati oleh kaki kaki kami untuk berpijak. Kemal memotong kompas dengan memanjat dinding air terjun tadi. Sementara kami berlima memutuskan untuk mencari jalan lain, karena kami tidak bisa manjat dinding yang licin tersebut. Kami berputar-putar menerabas rerumputan akhirnya kami bertemu dengan Kemal di bagian atas air terjun tadi. Dengan sangat hati-hati kami berjalan di atas hamparan batu gunung yang sangat lebar dan licin. Batu gunung tersebut  masih merupakan bagian dari aliran sungai, tetapi karena debet air tidak terlalu besar sehingga tidak tergenangi air. Tetapi licinnya minta ampun. Dina berjalan sambil dipegang oleh Kadir. Kami berjalan sekitar 10 menit setelah melalui aliran sungai sungai kecil, kami mendengarkan suara gemuruh air yang jatuh lagi pertanda di hadapan kami ada air terjun lagi. Dan benar sekali di hadapan kami terdapat air terjun bertingkat empat dengan ketinggian kurang lebih 10 meter. Tingkatan pertama dan kedua tegak lurus, kira-kira sekitaran 3-4 meter, sementara tingkatan ketiga alirannya dengan kemiringan 60 derajat dengan tinggi kurang lebih dua meter. Sementara tingkatan terakhir dengan ketinggian hampir 4 meter membentuk aliran air dengan kemiringan 60 – 70 derajat. Debit airnya tidak terlalu besar, lebar air terjun ini kurang lebih 2 meter. Lagi lagi kami tidak sabaran untuk bermain air. Kami mengira ini adalah air terjun yang kami tuju, karena ini adalah air terjun yang kedua yang kami jumpai di petualangan ini. Ternyata ini bukan air terjun yang menjadi tujuan utama kami. Kadir masih mengajak kami untuk melanjutkan perjalanan.

#bolangglamour lagi bermain air di Air Terjun Bolangglamour II

#bolangglamour ternarsis lagi narsis


Air terjun utama yang paling tinggi masih di atas sana. Kadir menuntun kami berlima untuk mengikutinya. Kami harus jalan sambil membungkuk, sedikit lagi sambil merayap di bawah terowongan batu yang panjangnya mungkin sekitar semeteran. Sebenarnya ini bukan terowongan alami, tetapi merupakan celah yang diakibatkan oleh bongkahan batu yang sangat besar yang berdampingan dengan dinding jurang sehingga membentuk celah yang seolah-olah adalah terowongan. Setelah melewati terowongan batu, kami harus memanjat melalui akar pohon yang berdiri tegak lurus. Saya sempat pesimis tidak bisa memanjat akar tersebut, karena tingginya antara tiga sampai empat meter. Kadir sudah memanjat duluan, lalu Dina, Dina sudah sampai di atas, saya masih ragu untuk memulai manjat. Dina menyemangati saya, dan keraguan saya tepis, setelah bersusah payah akhirnya dinding akar tersebut bisa saya taklukkan. Menyusul Kemal, Jaja dan Ammank, kami berenam sudah naik, sejajar dengan tingkatan kedua air terjun yang kedua tadi. 
air terjun ketiga yang tidak hanya ditaklukkan oleh dua orang #bolangglamour, dinamakan Air Terjun Bolangglamour III, yang memiliki nama asli Air Terjun Bantimurung E


#bolangglamour yang sempat menaklukkan medan menuju  Air Terjun Bolangglamour III

Kadir menunjukkan air terjun utama yang kami tuju, sudah kelihatan dibalik rimbunnya pepohonan yang tumbuh disekitar air terjun tersebut. Kadir kemudian berjalan mencari jalan yang bisa kami lalui supaya bisa sampai ke air terjun yang di atas sana. Untuk bisa sampai di atas sana, kami masih harus menaklukkan dua dinding batu yang berdiri tegak lurus. Kadir dan Kemal sudah mulai memanjat. Sementara saya, Dina, Jaja dan Ammank memutuskan untuk berhenti disini dan membatalkan untuk tiba ke atas sana. Saya dan Dina memutuskan berhenti karena tidak bisa memanjat dinding tebing yang curam dengan ketinggian antara dua hingga empat meter. Kami berempat hanya bisa melihat Kadir dan Kemal berusaha sekuat tenaga untuk bisa sampai ke atas sana air terjun nomor tiga yang dinamai oleh warga air terjun BANTIMURUNG E. Kadir dan Kemal sudah tidak kelihatan, mungkin sudah sampai di air terjun utama, kami berempat akhirnya memutuskan untuk turun kembali dan bermain air di air terjun nomor dua tadi. Ternyata proses menuruni dinding kar ini lebih susah disbanding pada proses memanjat tadi. Ammank turun paling pertama, lalu Jaja. Jaja sempat mengikatkan sarungnya pada akar sebagai tempat pegangan untuk saya dan Dina nantinya. Dengan bersusah payah akhirnya kami berempat sudah tiba kembali di aliran air terjun yang kedua. Tanpa memperhatikan sekitarnya, Dina langsung duduk bermain air, tidak cukup satu menit kemudian dia berteriak-teriak sambil loncat loncat tidak karuan. Kami bertiga, saya, Jaja dan Ammank panic, kami mengira ada apa-apa, ternyata dipantat celana dan pahanya ditempeli oleh banyak lintah kecil. Lintah yang ukurannya tidak cukup satu sentimeter. Meskipun kecil tetapi tidak bisa dianggap sepeleh, karena jika masuk kedalam organ tubuh bisa fatal akibatnya. Kami bertiga langsung menyiram-nyiramkan air ke pantat dan pahanya. Saya menepuk-nepuk bajunya yang juga ikut di tempeli lintah. Dia baru bisa diam saat berulang kali kami meyakinkan bahwa semua lintah yang menempel sudah jatuh dan pakainnya, baju dan celana serta pahanya sudah bersih dari lintah.
#bolangglamour yang menamakan diri NAVIGAZI
Kami berempat akhirnya bermain air secara tanggung, kami menghindari koloni lintah kecil yang jumlahnya mungkin ribuan yang menempel di batu di dasar aliran sungai. Sekitar 15 menit Kadir dan Kemal sudah kembali dari atas. Mereka langsung bergabung bersama kami berempat. Dina meminta Kadir untuk menjepret kami sambil bermain air. Sekitar 20 menit bermain air disini di air terjun kedua kami mulai haus dan lelah, kami ketepi untuk menikmati cemilan yang kami bawa. hari sudah mulai gelap, 16:48 begitu gambar angka yang sudah tertera di jam digital tablet mini milik Kadir. Kami bersiap-siap untuk pulang karena takutnya kami kemalaman. Kami harus kembali menyusuri jalan yang kami lalui tadi waktu perjalanan kesini. Perjalanan pulang lumayan berat dibanding perjalanan waktu pergi. Perjalanan pulang di dominasi dengan pendakian, karena waktu pergi tadi perjalanan banyakan menurun. Saya yang paling pertama, lalu Dina, kemudian kadir, disusul Ammank, Kemal dan Jaja. Kami berjalan beriringan, sesekali diperjalanan di tengah hutan-hutan kami berhenti sejenak untuk berselfie ria. Butuh waktu sekitar stengah jam untuk kembali sampai di parkiran mobil. Dengan kondisi berbasah-basahan, Dina membagikan kami kantong plastic untuk dipakai sebagai alas di dalam mobil, takutnya jok mobilnya basah. Ammank naik motor berboncengan bersama kadir, sementara kami berempat naik mobil.
We Are The #bolangglamour


#bolangglamour berhasil menaklukkan Camba

Kami tiba di kediaman kadir sebelum maghrib, kami bergantian mandi lalu naik dirumah, makan malam sudah siap kami dipersilakan makan dulu sebelum pulang. Alhamdulillah kami kenyang. Dan sebelum kembali ke Makassar tak lupa kami saling berbagi foto melalui bloetooth dan email. Pukul 8 malam, kami pamit untuk pulang ke Makasar. Dua jam kemudian kami tiba di Makassar dengan selamat, membawa satu cerita baru yang entah sampai kapan akan bersemayam dan menjadi salah satu kenangan yang indah di pikiran kami.
bolang Narsis bersama ketua Geng #bolangglamour


#bolangglamour dalam perjalanan pulang setelah menaklukkan Air Terjun Bolangglamour I, II dan III

#bolangglamour mengucapkan terima kasih kepada Desa Pattiro Deceng, Kecamatan Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Indonesia

Terima Kasih kepada Tuhan sang pencipta dengan segala keindahan ciptaannya, Terima Kasih Kadir beserta keluarga, terima kasih Camba, Terima kasih Dina, Kemal, Jaja dan Ammank, Terima kasih kepada orang tua saya. Alhamdulillahirabbilalaminn.. 





sampai jumpa pada petualangan #bolangglamour  selanjutnya.

Achyie Sabang.